Klaim yang beredar di media sosial bahwa Presiden Prabowo Subianto meminta seluruh rakyat Indonesia memboikot Facebook, Threads, Instagram, dan TikTok demi menjaga nama baik negara dinyatakan hoaks oleh pemeriksa fakta. Penelusuran TurnBackHoax bersama ANTARA News menemukan tidak ada satu pun pernyataan resmi Prabowo yang berisi ajakan boikot tersebut. Kesimpulan periksa fakta untuk klaim ini adalah Salah, dengan rating Hoaks.
Unggahan yang beredar menampilkan tangkapan layar konten yang mengklaim Prabowo meminta masyarakat memboikot keempat platform media sosial itu. Gambar tersebut memperlihatkan foto Prabowo yang sedang berbicara di depan mikrofon, disertai tulisan yang mengajak masyarakat memboikot Facebook, Threads, Instagram, dan TikTok demi menjaga nama baik negara. Sebuah unggahan di X yang menyebarkan klaim itu menuliskan ajakan tersebut dengan ejaan yang tidak baku, disertai komentar yang mempertanyakan apakah yang dijaga adalah nama baik negara atau nama baik seseorang.
Mengapa klaim ini bisa tampak meyakinkan? Karena foto yang dipakai memang foto asli Prabowo yang sedang berbicara, sehingga sekilas tampak seperti dokumentasi pernyataan resmi. Namun penelusuran menunjukkan gambar itu berasal dari konteks yang berbeda. Konten dalam akun Instagram yang menjadi sumber gambar tersebut membahas perkembangan penanganan kebakaran hutan dan lahan, bukan ajakan Presiden Prabowo untuk memboikot media sosial. Foto itu sendiri berasal dari tangkapan layar video yang diunggah kanal resmi Sekretariat Presiden di YouTube berjudul Presiden Prabowo Pimpin Ratas Perkembangan Penanganan Karhutla, Istana Merdeka, 12 Oktober 2026.
Bagaimana pemeriksa fakta memastikan tidak ada pernyataan boikot itu? Penelusurannya tidak menemukan satu pun pernyataan resmi Prabowo yang meminta masyarakat memboikot Facebook, Threads, Instagram, dan TikTok demi menjaga nama baik negara. Dengan kata lain, narasi boikot ditempelkan pada gambar dari rapat penanganan kebakaran hutan dan lahan, lalu disebarkan seolah-olah itulah isi pernyataan presiden. Teknik seperti ini, memakai gambar dari konteks berbeda dan mengaitkannya dengan narasi yang tidak sesuai dengan isi video aslinya, adalah pola umum unggahan menyesatkan yang perlu diwaspadai.
Klaim ini beredar di X pada akhir Oktober 2026, tidak lama setelah video rapat penanganan karhutla itu diunggah pada 12 Oktober 2026. Pemeriksa fakta mencatat unggahan viral itu menampilkan tangkapan layar konten Instagram yang diunggah pada 14 Oktober 2026, yang isinya membahas karhutla. Jarak waktu yang dekat antara video resmi, unggahan Instagram tentang karhutla, dan unggahan viral yang menambahkan narasi boikot membuat klaim itu mudah tersebar sebelum sempat diperiksa.
Pesan dari kasus ini sederhana: foto asli tidak otomatis membuat narasi yang menempel padanya menjadi benar. Sebelum membagikan ajakan yang mengatasnamakan presiden atau pejabat publik, periksa dulu apakah pernyataan itu benar-benar ada dalam sumber resminya, dan apakah gambar yang dipakai memang berasal dari peristiwa yang sama dengan narasi yang diklaim. Dalam kasus ini, pemeriksa fakta menegaskan tidak ada pernyataan boikot dari Prabowo, sehingga ajakan boikot media sosial atas nama presiden tersebut adalah hoaks.
Apa poin penting dari berita ini?
- Klaim bahwa Presiden Prabowo meminta rakyat Indonesia memboikot Facebook, Threads, Instagram, dan TikTok dinyatakan hoaks oleh pemeriksa fakta.
- Penelusuran tidak menemukan satu pun pernyataan resmi Prabowo yang berisi ajakan boikot media sosial demi menjaga nama baik negara.
- Foto yang dipakai dalam unggahan viral berasal dari video resmi Sekretariat Presiden tentang rapat penanganan kebakaran hutan dan lahan pada 12 Oktober 2026.
- Konten sumber gambar itu membahas karhutla, bukan ajakan boikot, sehingga narasi boikot ditempelkan pada konteks yang berbeda.
- Kesimpulan periksa fakta untuk klaim ini adalah Salah dengan rating Hoaks, dan foto asli tidak otomatis membenarkan narasi yang menempel padanya.


