Penulis dan penulis naskah komik Frank Miller mengaku lega karena jumlah adaptasi komik ke film dan televisi kini berkurang. Miller menyampaikan pandangan itu saat kembali ke Lucca Comics and Games, sebuah ajang budaya pop di Italia, pada pekan ini. Menurutnya, derasnya adaptasi pada masa sebelumnya membuat komik berada dalam bahaya kehilangan jati dirinya sendiri.
Miller dikenal lewat karya-karya seperti 300, Sin City, dan Batman: The Dark Knight Returns. Kehadirannya di Lucca bertepatan dengan peringatan 40 tahun Batman: The Dark Knight Returns, karya yang ikut membentuk reputasinya sebagai salah satu kreator komik paling berpengaruh. Dalam kesempatan yang sama, ia juga memperkenalkan Frank Miller – American Genius, film dokumenter karya Silenn Thomas tentang pengaruhnya terhadap budaya populer.
Dalam wawancara yang dikutip dari perbincangannya di festival itu, Miller ditanya apakah ia setuju bahwa alur adaptasi komik ke film sedikit menurun. Jawabannya tegas: ia justru berharap demikian. Menurutnya, situasi sebelumnya sudah sangat tidak terkendali, sampai-sampai komik mulai kehilangan banyak identitasnya sendiri. Ia mengatakan telah lama berargumen dengan keras agar komik kembali menegaskan tujuannya sendiri dan menegaskan identitasnya sebagai bentuk sastra.
Miller juga ditanya apakah terlalu banyak seniman dan penulis komik yang mengincar kesepakatan film dan televisi. Ia menjawab tanpa ragu: tentu saja. Daya tariknya, kata Miller, tidak hanya soal uang, tetapi juga ketenaran, rasa hormat, dan kemuliaan bekerja di medium yang disebutnya paling berpengaruh dalam sejarah. Namun, daya tarik itu menjadi terlalu memabukkan, sehingga komik benar-benar berada dalam bahaya kehilangan jiwanya dalam proses tersebut.
Menurut Miller, fenomena itu terutama terlihat pada film superhero. Ia menilai, sebagian karena teknologi akhirnya mengejar ketertinggalan, sehingga hal-hal spektakuler yang dulu hanya bisa dilakukan komik kini bisa dilakukan film juga. Ketika keunggulan visual itu tidak lagi eksklusif, komik perlu kembali menemukan kekuatannya sendiri, bukan sekadar menjadi bahan mentah bagi layar lebar.
Pandangan Miller ini menyentuh persoalan yang lebih luas tentang hubungan antara komik dan Hollywood. Selama bertahun-tahun, kesuksesan adaptasi membuat banyak kreator mengarahkan karyanya dengan mempertimbangkan selera studio besar. Miller menilai kecenderungan itu bisa membuat kreator menjadi lebih berhati-hati dan kurang berani bereksperimen. Padahal, kekuatan komik justru terletak pada kemampuannya menjelajahi gagasan yang tidak biasa, karakter yang tidak konvensional, alur yang tidak linear, dan gaya visual yang khas.
Karena itu, berkurangnya jumlah adaptasi dipandang Miller sebagai koreksi yang diperlukan, bukan kemunduran. Dengan tekanan adaptasi yang mereda, penulis dan seniman komik diharapkan bisa kembali fokus kepada pembaca, bukan kepada calon produser. Komik, dalam pandangan ini, tidak perlu membuktikan nilainya lewat film yang dihasilkannya, melainkan lewat cerita yang ia ceritakan di atas kertas.
Di Lucca, Miller juga mengumumkan akan kembali berkolaborasi dengan seniman Italia, Milo Manara, untuk sebuah cerita Sin City. Ia juga mengumumkan akan kembali bekerja sama dengan seniman Jepang, Peach Momoko, yang sebelumnya pernah bekerja sama dengannya dalam Tears of the Spider Queen untuk Marvel. Dua kabar itu menunjukkan bahwa, meski kritis terhadap derasnya adaptasi, Miller tetap aktif berkarya di medium yang ia bela: komik itu sendiri.
Apa poin penting dari berita ini?
- Frank Miller mengaku lega karena jumlah adaptasi komik ke film dan televisi kini berkurang.
- Ia menyampaikan pandangan itu di Lucca Comics and Games, bertepatan dengan 40 tahun Batman: The Dark Knight Returns.
- Menurut Miller, derasnya adaptasi membuat komik mulai kehilangan identitasnya dan berada dalam bahaya kehilangan jiwanya.
- Ia menilai terlalu banyak kreator mengincar kesepakatan film dan televisi, terutama film superhero, sehingga komik perlu menegaskan identitasnya sebagai bentuk sastra.
- Miller juga mengumumkan kolaborasi baru dengan Milo Manara untuk cerita Sin City dan kerja sama lagi dengan Peach Momoko.


