Sunday, 1 November 2026
Lingkungan

Transisi Energi ASEAN Butuh Dana US$400 Miliar per Tahun, Jaringan dan Regulasi Jadi Kunci

Ilustrasi bendera negara-negara anggota ASEAN

Negara-negara di kawasan ASEAN diperkirakan membutuhkan total investasi sekitar 400 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp7.252 triliun per tahun untuk mencapai target transisi energi. Angka itu menggambarkan betapa besarnya kebutuhan dana untuk mengubah sistem energi kawasan dari yang bertumpu pada bahan bakar fosil menjadi energi bersih.

Kebutuhan dana sebesar itu tidak lepas dari laju pertumbuhan permintaan energi di Asia Tenggara. Menurut laporan Badan Energi Internasional (IEA) berjudul Southeast Asia Energy Outlook 2024, pertumbuhan penduduk, ekspansi industri, dan peningkatan daya beli mendorong kawasan ini menjadi salah satu mesin utama permintaan energi dunia. Berdasarkan proyeksi kebijakan saat ini, Asia Tenggara akan menyumbang seperempat dari total pertumbuhan permintaan energi global hingga 2035.

Lonjakan kebutuhan listrik mencapai 4 persen per tahun, dipicu antara lain oleh penggunaan pendingin ruangan yang meningkat seiring makin seringnya gelombang panas. Delapan dari sepuluh negara anggota ASEAN telah menetapkan target emisi nol bersih, tetapi teknologi bersih belum tumbuh cukup cepat untuk mengimbangi pertumbuhan permintaan tersebut.

Ironinya, Asia Tenggara hanya menarik sekitar 2 persen dari total investasi energi bersih global, padahal kawasan ini menyumbang 6 persen produk domestik bruto dunia dan 9 persen populasi global. IEA mencatat kawasan ini membutuhkan investasi lima kali lipat dari saat ini, atau mencapai 190 miliar dolar AS pada 2035, untuk mencapai target iklim.

Dana itu tidak hanya dibutuhkan untuk membangun panel surya dan turbin angin. Pembangunan dan modernisasi jaringan listrik, termasuk ASEAN Power Grid dan microgrid berbasis energi terbarukan di wilayah terpencil, diperkirakan memerlukan investasi tahunan hingga 30 miliar dolar AS. Tanpa jaringan yang memadai, listrik dari panel surya dan turbin angin tidak bisa dialirkan ke pusat permintaan.

Hambatan lain yang dihadapi kawasan ini adalah kesenjangan antara komitmen dan realisasi. Laporan ekonomi hijau Asia Tenggara 2026 yang disusun Bain & Company dan Standard Chartered menemukan lebih dari 35 persen belanja modal hijau yang diumumkan tidak pernah terealisasi. Fenomena ini dikenal sebagai conversion gap, jarak antara niat baik di atas kertas dan pembangunan nyata di lapangan.

Menurut analisis industri, ada tiga penghambat utama. Pertama, risiko regulasi: perubahan kebijakan tarif listrik yang mendadak membuat investor ragu. Kedua, keterbatasan infrastruktur jaringan. Ketiga, pendanaan yang rumit: banyak proyek hijau dianggap terlalu kecil untuk investor institusi besar, tetapi terlalu besar untuk pembiayaan mikro.

Meski begitu, aliran dana iklim ke kawasan ini mulai bergerak. British International Investment (BII), lembaga pembiayaan pembangunan asal Inggris, menyiapkan 1,6 miliar dolar AS untuk proyek iklim Asia Tenggara dalam lima tahun ke depan, termasuk energi terbarukan dan kendaraan listrik. Indonesia termasuk negara yang menjadi sasaran investasi bersama Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Thailand.

Bagi Indonesia, transisi energi bukan hanya soal iklim, tetapi juga soal ketahanan energi dan daya saing industri. Dengan target porsi energi baru terbarukan sekitar 30 persen pada tahun 2030-an, Indonesia perlu mempercepat pembangunan pembangkit bersih sekaligus memperkuat jaringan transmisi agar listrik bersih benar-benar sampai ke masyarakat dan industri.

Pesan utamanya jelas: uang saja tidak cukup. Tanpa regulasi yang stabil, jaringan yang kuat, dan proyek yang benar-benar dapat dieksekusi, target transisi energi ASEAN akan tetap menjadi angka di atas kertas. Kawasan ini memiliki waktu yang sempit untuk mengubah komitmen menjadi pembangkit, jaringan, dan lapangan kerja hijau yang nyata.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Negara-negara ASEAN diperkirakan membutuhkan investasi sekitar 400 miliar dolar AS atau Rp7.252 triliun per tahun untuk mencapai target transisi energi.
  • Asia Tenggara akan menyumbang seperempat dari total pertumbuhan permintaan energi global hingga 2035, dengan kebutuhan listrik tumbuh 4 persen per tahun.
  • Kawasan ini hanya menarik sekitar 2 persen dari total investasi energi bersih global, padahal menyumbang 6 persen PDB dunia dan 9 persen populasi global.
  • Pembangunan dan modernisasi jaringan listrik, termasuk ASEAN Power Grid, diperkirakan memerlukan investasi tahunan hingga 30 miliar dolar AS.
  • Lebih dari 35 persen belanja modal hijau yang diumumkan di Asia Tenggara tidak pernah terealisasi karena risiko regulasi, keterbatasan jaringan, dan pendanaan yang rumit.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *