Peserta akademi wayang mementaskan pertunjukan wayang orang berjudul Babad Wonomarto di Gedung Sri Budoyo, Taman Budaya Raden Saleh, Kota Semarang. Pementasan itu menjadi upaya menumbuhkan kecintaan terhadap seni budaya tradisional, khususnya di kalangan anak dan remaja.
Wayang orang atau wayang wong adalah seni pertunjukan yang dimainkan dengan menggunakan orang sebagai tokoh dalam cerita wayang. Cerita-cerita yang diangkat umumnya berbasis pada kisah kolosal Mahabharata dan Ramayana, dengan gerak tari yang mengikuti pokok-pokok aturan seni tari pada setiap jeda cerita.
Kota Semarang memiliki akar yang kuat dalam kesenian ini. Perkumpulan Wayang Orang Ngesti Pandowo yang berbasis di Semarang merupakan salah satu dari tiga perkumpulan wayang orang profesional yang bertahan di Indonesia, di samping Wayang Orang Sriwedari di Solo dan Bharata di Jakarta. Ngesti Pandowo didirikan di Madiun pada 1 Juli 1937 dan kini berpentas di Gedung Kesenian Ki Narto Sabdho dalam kompleks Taman Budaya Raden Saleh.
Kehadiran anak dan remaja di atas panggung menjadi pesan penting dari pementasan Babad Wonomarto. Selama ini, pertunjukan wayang orang cenderung dinikmati kalangan dewasa, sementara generasi muda lebih akrab dengan hiburan digital. Dengan melibatkan anak dan remaja sebagai pemain, seni tradisi ini diperkenalkan sejak dini bukan hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai keterampilan yang bisa dipelajari dan dicintai.
Upaya serupa juga didorong Pemerintah Kota Semarang. Dalam Festival Wayang Semesta yang digelar untuk memperingati Hari Wayang Sedunia, Pemkot Semarang menyampaikan rencana mendirikan Akademi Wayang, tempat belajar khusus bagi anak-anak dan remaja yang ingin menekuni dunia perwayangan. Akademi itu dikonsep seperti pesantren seni, tempat peserta belajar memahami karakter wayang, berdialog, hingga berlatih tampil di panggung nyata.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyampaikan harapan agar dari akademi itu lahir generasi baru yang menjaga api seni perwayangan agar tetap hidup. Tahap awal direncanakan melibatkan sekitar 50 peserta dengan pelatihan yang didukung APBD Kota Semarang, dan para peserta diharapkan sudah mampu mementaskan satu lakon penuh bersama kelompok Ngesti Pandowo pada peringatan Hari Wayang Sedunia berikutnya.
Bagi Semarang, wayang orang bukan sekadar hiburan. Kesenian ini menjadi identitas kota yang pernah mencapai masa kejayaan pada 1960-an hingga awal 1970-an di bawah kepemimpinan Sastro Sabdho dan Narto Sabdho, ketika Ngesti Pandowo menjadi kiblat bagi perkumpulan wayang orang pada zamannya. Menjaga keberlanjutannya berarti menjaga warisan budaya tak benda yang telah ditetapkan secara nasional.
Pementasan oleh anak dan remaja juga membuka ruang apresiasi yang lebih luas. Ketika generasi muda tampil membawakan lakon, keluarga, sekolah, dan masyarakat ikut menyaksikan bahwa tradisi ini masih hidup dan relevan. Dukungan penonton menjadi modal penting agar sanggar-sanggar wayang orang terus mendapat ruang pentas.
Dengan pementasan Babad Wonomarto ini, Semarang kembali menegaskan komitmennya: seni tradisi tidak boleh hanya dikenang, tetapi harus terus dimainkan, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Apa poin penting dari berita ini?
- Peserta akademi wayang mementaskan wayang orang berjudul Babad Wonomarto di Gedung Sri Budoyo, Taman Budaya Raden Saleh, Semarang.
- Pementasan itu bertujuan menumbuhkan kecintaan terhadap seni budaya tradisional, khususnya di kalangan anak dan remaja.
- Wayang orang dimainkan oleh orang sebagai tokoh cerita yang umumnya berbasis kisah Mahabharata dan Ramayana.
- Ngesti Pandowo di Semarang adalah salah satu dari tiga perkumpulan wayang orang profesional yang bertahan di Indonesia.
- Pemkot Semarang merencanakan Akademi Wayang agar lahir generasi baru pelestari seni perwayangan.


