Monday, 2 November 2026
Antariksa

Air Bumi Mungkin Dibuat Sendiri Saat Planet Terbentuk, Bukan Diantar Komet

Ilustrasi planet muda yang membara dengan hujan kerikil bercahaya jatuh ke lautan lava di bawah matahari

Dari mana datangnya air di Bumi? Penelitian baru dari University of New Mexico menawarkan jawaban yang mengejutkan: sebagian besar air Bumi mungkin tidak diantar dari luar angkasa, melainkan dibuat sendiri di planet ini ketika Bumi masih terbentuk, lewat hujan kerikil batu yang jatuh menembus atmosfer muda yang kaya hidrogen.

Studi itu dipimpin mahasiswa pascasarjana Susmita Garai bersama Zachary Sharp, profesor dan direktur Earth and Planetary Sciences, serta Peter Olson dari University of New Mexico. Hasilnya diterbitkan di jurnal Nature Geoscience pada 2026, dan menjadi bahan perbincangan karena menantang penjelasan lama yang sudah puluhan tahun dipegang banyak ilmuwan.

Selama ini, dua kandidat utama sumber air Bumi adalah komet es yang menabrak planet muda dan asteroid kaya air yang datang dari tata surya luar. Namun penjelasan itu punya kendala waktu yang sulit diabaikan. Air yang datang dari luar harus cocok dengan rangkaian peristiwa besar dalam sejarah awal Bumi, termasuk tumbukan raksasa yang membentuk Bulan dan periode bombardemen akhir, serta kelimpahan unsur-unsur tertentu di mantel Bumi. Menyelaraskan semuanya dalam satu kronologi yang konsisten ternyata tidak mudah.

Penelitian baru ini menguji kemungkinan lain yang justru bersifat internal. Ketika Bumi masih tumbuh, planet ini tidak membesar hanya lewat tumbukan benda-benda besar, melainkan juga lewat akresi kerikil, yaitu proses ketika embrio planet menyapu aliran partikel batu kecil seukuran milimeter sampai sentimeter yang melayang di cakram protoplanet. Setelah planet cukup masif, ia bisa mengembangkan atmosfer panas bertekanan tinggi yang kaya hidrogen, yang ditangkap langsung dari nebula Matahari.

Di dalam atmosfer seperti itulah reaksi kimia yang menentukan terjadi. Kerikil silikat yang mengandung oksida besi jatuh menembus gas hidrogen yang panas. Hidrogen mereduksi oksida besi itu, mengubahnya menjadi besi metalik, dan oksigen yang terlepas bergabung dengan hidrogen membentuk uap air. Dengan kata lain, atmosfer Bumi muda berfungsi seperti reaktor kimia raksasa: batu kering masuk, air keluar, dan besi metalik yang terbentuk ikut membantu membangun inti planet.

Untuk menguji gagasan itu, tim peneliti memanaskan sampel batuan silikat yang mengandung besi pada suhu antara 1.200 dan 1.400 derajat Celsius di dalam aliran gas hidrogen, dengan gas helium sebagai pembanding. Setiap percobaan berlangsung antara 15 menit sampai tiga jam. Hasilnya tegas: dalam aliran hidrogen, hampir 80 persen oksida besi dalam sampel berubah menjadi besi metalik dan menghasilkan uap air dalam hitungan menit. Dalam aliran helium, reaksi yang sama tidak terjadi, yang membuktikan bahwa hidrogenlah kunci prosesnya, bukan sekadar panas.

Ketika hasil laboratorium itu diekstrapolasikan ke skala planet muda, angkanya menjadi sangat besar. Para peneliti memperkirakan proses ini bisa menghasilkan air setara ratusan samudra selama masa pembentukan Bumi, sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu, di tengah atmosfer yang digambarkan sangat panas dan keras. Air yang terbentuk kemudian bisa tersimpan di dalam planet yang terus tumbuh atau tertahan setelah gas nebula menghilang, hingga akhirnya menjadi samudra yang kita kenal sekarang.

Implikasinya melampaui Bumi. Jika mekanisme ini benar, maka hampir semua planet berbatu seukuran Bumi yang terbentuk dengan cara serupa seharusnya juga bisa memiliki air, tanpa harus menunggu kiriman komet atau asteroid. Itu berarti air, salah satu syarat utama kehidupan seperti yang kita kenal, bisa jauh lebih umum di planet-planet berbatu di luar tata surya daripada yang selama ini diperkirakan.

Meski demikian, temuan ini adalah model yang didukung eksperimen laboratorium dan perhitungan ekstrapolasi, bukan pengamatan langsung atas Bumi yang berusia miliaran tahun. Para ilmuwan masih perlu menguji seberapa besar kontribusi mekanisme ini dibandingkan kiriman dari luar, dan bagaimana tepatnya air purba itu bertahan melewati fase magma dan tumbukan besar. Namun satu hal sudah berubah: kisah asal air Bumi kini tidak lagi hanya tentang benda langit yang datang dari jauh, melainkan juga tentang kimia planet itu sendiri sejak hari-hari pertamanya.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Penelitian University of New Mexico mengusulkan Bumi menghasilkan sebagian besar airnya sendiri saat masih terbentuk, bukan hanya menerima kiriman komet atau asteroid.
  • Studi yang dipimpin Susmita Garai bersama Zachary Sharp dan Peter Olson itu diterbitkan di Nature Geoscience pada 2026.
  • Mekanismenya adalah akresi kerikil: kerikil silikat beroksida besi jatuh menembus atmosfer muda yang panas dan kaya hidrogen, lalu bereaksi menjadi besi metalik dan uap air.
  • Dalam eksperimen pada suhu 1.200 sampai 1.400 derajat Celsius, hampir 80 persen oksida besi berubah menjadi besi metalik dan menghasilkan uap air dalam hitungan menit, sementara aliran helium tidak memicu reaksi yang sama.
  • Ekstrapolasi penelitian itu memperkirakan proses tersebut bisa menghasilkan air setara ratusan samudra selama pembentukan Bumi sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu.
  • Jika mekanisme ini berlaku umum, planet berbatu seukuran Bumi di luar tata surya pun bisa memiliki air tanpa harus menunggu kiriman dari luar.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *