Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dinilai memiliki tingkat resiliensi tinggi menghadapi tantangan ekonomi pada tahun 2027 mendatang. Penilaian itu disampaikan dalam forum Bank BPD DIY Economic Outlook 2027 yang mengusung tema Economic Resilience 2027: Dinamis Menghadapi Perubahan, Inovatif Menciptakan Pertumbuhan.
Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DIY yang juga Rektor Universitas Widya Mataram, Prof Edy Suandi Hamid, mengungkapkan berdasarkan pengalaman sebelumnya, DIY memang cukup tenang dalam menghadapi bencana yang datang silih berganti, mulai dari erupsi Gunung Merapi hingga pandemi Covid-19. DIY disebut memiliki modal yang baik untuk bertahan menghadapi gejolak ekonomi seperti saat ini.
Edy mencontohkan, gejolak gempa 2006 di DIY pulih lebih cepat dibandingkan Aceh, begitu juga saat pandemi Covid-19. Pengalaman pulih dari berbagai guncangan itu menjadi modal penting bagi DIY dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi ke depan.
Dalam forum tersebut, DIY diprediksi tidak akan menjadi provinsi termiskin se-Pulau Jawa pada tahun depan. Namun ke depan, tantangannya bergeser dari sekadar bertahan menjadi bagaimana menciptakan pertumbuhan ekonomi Jogja yang tetap berada di atas rata-rata nasional.
Menurut Edy, waktunya kini berpikir inovatif. Pertumbuhan ekonomi DIY perlu dijaga agar tetap di atas nasional melalui penciptaan sumber pertumbuhan baru, bukan hanya mengandalkan ketahanan menghadapi guncangan.
Sementara itu, Direktur Pemasaran dan Usaha Syariah Bank BPD DIY, R. Agus Trimurjanto, mengatakan tema Economic Resilience 2027 sangat relevan bagi DIY. Saat ini DIY tidak hanya dituntut mampu bertahan menghadapi perubahan, tetapi juga harus adaptif, inovatif, dan mampu menciptakan sumber pertumbuhan baru.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, kata Agus, resiliensi digital menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga ketahanan dan daya saing ekonomi. Transformasi digital tidak cukup hanya dengan mengadopsi teknologi, tetapi juga harus disertai penguatan keamanan siber, keandalan sistem, perlindungan data, serta kemampuan beradaptasi terhadap risiko dan perubahan teknologi.
Bagi industri perbankan, resiliensi digital menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan masyarakat, memastikan keberlangsungan layanan keuangan, serta mendukung pertumbuhan bisnis yang aman dan berkelanjutan. Kepercayaan nasabah sangat bergantung pada sistem yang andal dan aman di tengah ancaman siber yang terus berkembang.
Bagi Daerah Istimewa Yogyakarta, upaya tersebut perlu diwujudkan melalui penguatan sektor unggulan, pengembangan UMKM, peningkatan daya saing pariwisata dan ekonomi kreatif, serta percepatan sertifikasi halal. Semua ini membutuhkan dukungan pembiayaan, infrastruktur yang memadai, dan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, serta industri jasa keuangan.
Dalam konteks inilah Bank BPD DIY berkomitmen untuk terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis pembangunan daerah. Bank tersebut menyatakan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga pada kualitas pembiayaan, penguatan sektor produktif, transformasi digital, penerapan tata kelola yang baik, dan pengelolaan risiko secara prudent.
Agus menegaskan pihaknya ingin memastikan pertumbuhan bank berjalan sehat sekaligus memberikan nilai tambah nyata bagi perekonomian dan masyarakat DIY. Pertumbuhan yang sehat, menurutnya, harus sejalan dengan manfaat bagi daerah, bukan sekadar angka kinerja keuangan.
Selain menghadirkan Prof Edy Suandi Hamid, kegiatan economic outlook tersebut juga menghadirkan Ekonom Senior INDEF, Aviliani, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UGM, Bayu Sutikno, serta dimoderatori oleh Dosen FEB UGM, Gumilang Aryo Sahadewo. Kehadiran para pembicara dari kalangan akademisi dan lembaga riset memperkaya pembahasan tentang arah ekonomi DIY pada 2027.
Forum ini menjadi gambaran bagaimana DIY menyiapkan diri menghadapi 2027: berbekal rekam jejak pulih dari bencana, kini fokusnya adalah menciptakan pertumbuhan yang inovatif, didukung ketahanan digital, UMKM, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
Apa poin penting dari berita ini?
- DIY dinilai memiliki tingkat resiliensi tinggi menghadapi tantangan ekonomi pada tahun 2027.
- Ketua MES DIY Prof Edy Suandi Hamid menyebut DIY punya modal bertahan yang baik, terlihat dari pemulihan gempa 2006 yang lebih cepat dibandingkan Aceh dan ketahanan saat pandemi Covid-19.
- DIY diprediksi tidak akan menjadi provinsi termiskin se-Pulau Jawa pada tahun depan, dengan tantangan berikutnya menjaga pertumbuhan di atas rata-rata nasional.
- Resiliensi digital dinilai menjadi faktor penting bagi ketahanan dan daya saing ekonomi, termasuk keamanan siber, keandalan sistem, dan perlindungan data.
- Penguatan sektor unggulan, UMKM, pariwisata, ekonomi kreatif, dan percepatan sertifikasi halal menjadi agenda yang perlu didukung pembiayaan, infrastruktur, dan kolaborasi.


