Friday, 30 October 2026
Lingkungan

BWS Sumatera I Pulihkan Sungai Aceh dengan Tiga Komponen, Target Rampung Desember 2028

Alat berat melakukan normalisasi sungai yang terdampak banjir di Aceh Tenggara

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I mulai melakukan pemulihan permanen dampak bencana di wilayah sungai Aceh, dari hulu hingga hilir. Penanganan permanen ini sudah dimulai pada Oktober 2026 dan ditargetkan selesai secara keseluruhan pada Desember 2028. Kepala BWS Sumatera I, Asyari, menyampaikan hal itu dalam keterangan yang diterima di Banda Aceh, Rabu, 29 Oktober 2026.

Pemulihan dilakukan dengan berfokus pada tiga komponen utama yang saling mendukung sebagai satu kesatuan penanganan sungai yang terintegrasi. Komponen pertama adalah pembangunan 42 sabo dam di wilayah hulu. Sabo dam berfungsi mengendalikan material sedimen dan aliran debris, mengurangi material yang terbawa ke hilir, serta membantu menjaga kapasitas dan fungsi alur sungai. Dengan sedimen yang terkendali di hulu, risiko pendangkalan dan luapan di hilir dapat ditekan.

Komponen kedua adalah pembangunan tanggul pengendali banjir atau tanggul pengaman banjir pada ruas sungai yang melintasi kawasan rawan banjir. Tanggul ini berfungsi mengendalikan limpasan sungai serta melindungi permukiman, infrastruktur, fasilitas umum, dan lahan masyarakat dari luapan air. Pembangunan tanggul menjadi benteng bagi kawasan yang selama ini rentan tergenang setiap kali debit sungai meningkat.

Komponen ketiga adalah pengerukan dan penataan muara sungai di wilayah hilir. Langkah ini bertujuan mengurangi pendangkalan dan hambatan aliran, sehingga kapasitas sungai meningkat dan aliran menuju laut menjadi lebih lancar. Dengan muara yang tertata, aliran banjir dari hulu dapat tersalurkan lebih baik dan genangan akibat hambatan di muara dapat dikurangi. Ketiga komponen ini, kata Asyari, perlu dilaksanakan secara terintegrasi agar fungsi sungai dapat berjalan lebih optimal.

Tujuan dari penanganan terpadu ini adalah meningkatkan kapasitas sistem sungai dalam menampung debit banjir, mengurangi risiko luapan, dan memperkuat perlindungan bagi masyarakat serta kawasan di sepanjang sungai. Pendekatan ini juga menandai pergeseran dari sekadar menangani dampak saat kejadian menuju pengurangan risiko banjir jangka panjang. Dengan demikian, keselamatan masyarakat, keberlangsungan aktivitas ekonomi, dan perlindungan infrastruktur di wilayah terdampak dapat semakin ditingkatkan.

Pemulihan sungai pascabencana di Aceh menjadi penting karena banjir dan kerusakan alur sungai berulang kali mengganggu kehidupan warga, merusak infrastruktur, dan menghambat aktivitas ekonomi. Penanganan yang hanya bersifat darurat sering kali tidak cukup, karena sedimen terus menumpuk dan muara terus mendangkal. Karena itu, kombinasi sabo dam di hulu, tanggul di tengah, dan pengerukan muara di hilir diharapkan menjadi solusi yang lebih tahan lama. Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada pelaksanaan yang konsisten hingga target Desember 2028, serta pemeliharaan sungai yang berkelanjutan setelah pembangunan selesai.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Kementerian PU melalui BWS Sumatera I mulai melakukan pemulihan permanen dampak bencana di wilayah sungai Aceh, dari hulu hingga hilir, yang ditargetkan selesai pada Desember 2028.
  • Tiga komponennya adalah pembangunan 42 sabo dam di hulu, tanggul pengendali banjir di ruas rawan banjir, serta pengerukan dan penataan muara sungai di hilir.
  • Kepala BWS Sumatera I Asyari menegaskan ketiga komponen harus dilaksanakan secara terintegrasi agar fungsi sungai berjalan lebih optimal.
  • Tujuannya adalah meningkatkan kapasitas sungai menampung debit banjir, mengurangi risiko luapan, dan melindungi masyarakat, aktivitas ekonomi, dan infrastruktur di wilayah terdampak.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *