Sebanyak 28 ribu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia ditargetkan menguasai keterampilan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) hingga 2027. Program pengembangan talenta digital ini tidak hanya menyasar mahasiswa teknologi informasi, tetapi juga mahasiswa dari disiplin ilmu lain, termasuk hukum dan kesehatan. Alasannya, permintaan terhadap pekerja yang mampu memanfaatkan AI terus tumbuh di berbagai sektor industri, sehingga kemampuan AI tidak lagi menjadi milik satu jurusan saja.
Hingga Oktober 2026, lebih dari 14.200 mahasiswa telah bergabung dalam program pelatihan AI gratis yang terstruktur. Peserta belajar dalam bahasa Indonesia melalui pelatihan menyeluruh, lokakarya daring dan luring, serta praktik menggunakan AI untuk mengembangkan perangkat lunak dan menghasilkan solusi teknologi secara mandiri. Pendekatan ini dipilih karena penguasaan kompetensi saja melalui teori dinilai tidak cukup; mahasiswa juga memerlukan pengalaman praktis untuk mengembangkan inovasi yang bisa diterapkan pada persoalan di berbagai bidang.
CEO Hacktiv8, Juventia Vicky Riana, menyampaikan adopsi AI oleh perusahaan di Indonesia berjalan pesat dan harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Ia berbicara di Jakarta pada Rabu, 28 Oktober 2026, dan menegaskan penggunaan AI kini tidak lagi terbatas pada industri teknologi informasi. Menurutnya, sangat penting memiliki tenaga kerja terampil yang memiliki pola pikir berkembang atau growth mindset agar mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi yang cepat.
Materi pelatihan mencakup agentic AI, yakni pendekatan AI yang memungkinkan sebuah sistem menjalankan serangkaian tugas secara lebih mandiri untuk mencapai tujuan tertentu. Untuk menguji kemampuan peserta, pelatihan dilengkapi dengan kompetisi hackathon tempat mahasiswa mengembangkan solusi berbasis teknologi. Dari lebih dari 200 peserta hackathon, sebanyak 25 peserta terpilih melaju ke babak semifinal yang didukung Garuda Spark. Kompetisi ini menguji kemampuan menerjemahkan pengetahuan AI menjadi inovasi dengan potensi penerapan nyata.
Dukungan ekosistem pemerintah menjadi kelanjutan dari pelatihan. Kepala Kemitraan Garuda Spark Innovation Hub Kementerian Komunikasi dan Digital, Mizan Lazuardi, menyampaikan pengembangan keterampilan teknologi harus diikuti ekosistem yang memungkinkan inovasi mahasiswa tumbuh menjadi perusahaan rintisan. Dukungan pemerintah tidak berhenti pada pelatihan dan fasilitas kerja; Garuda Spark diarahkan menjadi pusat inkubasi inovasi yang membantu pelaku perusahaan rintisan mengembangkan produk hingga memiliki peluang masuk pasar.
Mizan menjelaskan, ketika peserta lulus dari program inkubasi, tersedia Startup Studio Indonesia sebagai akselerator serta program Hub.id sebagai program nasional. Ekosistem ini melibatkan ratusan mentor dari berbagai sektor industri, dengan pendampingan untuk tantangan teknis, bisnis, hingga regulasi. Bila membutuhkan mentor teknis teknologi informasi, hukum, perpajakan, kesehatan, hingga manufaktur, ekosistem tersebut menyediakannya. Dengan jalur dari pelatihan hingga inkubasi ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya menguasai AI, tetapi juga mampu mengubah keahliannya menjadi karya dan usaha yang bermanfaat bagi masyarakat.
Apa poin penting dari berita ini?
- Sebanyak 28 ribu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia ditargetkan menguasai keterampilan AI hingga 2027.
- Program ini menyasar mahasiswa lintas jurusan, termasuk hukum dan kesehatan, dan hingga Oktober 2026 lebih dari 14.200 mahasiswa telah bergabung.
- Pelatihan dilakukan dalam bahasa Indonesia lewat lokakarya daring dan luring serta praktik, dengan materi agentic AI dan kompetisi hackathon.
- Garuda Spark Innovation Hub Kemkomdigi menyiapkan ekosistem inkubasi, akselerator Startup Studio Indonesia, dan program Hub.id agar inovasi mahasiswa bisa tumbuh menjadi perusahaan rintisan.


