Organisasi kebijakan kesehatan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) mendorong pemerintah menerapkan cukai minuman berpemanis dalam kemasan sebagai bagian dari kebijakan pangan sehat. Dorongan itu disampaikan dalam diskusi di Semarang, Selasa, 27 Oktober 2026.
Selain cukai, CISDI menekankan pentingnya label peringatan pada bagian depan kemasan dan pembatasan pemasaran produk tinggi gula, garam, dan lemak. Kombinasi tiga langkah itu dinilai dapat membantu masyarakat mengenali risiko produk yang dikonsumsinya sekaligus menekan konsumsi minuman berpemanis.
Alasan di balik dorongan tersebut berkaitan dengan beban penyakit yang ditimbulkan konsumsi gula berlebih. Studi CISDI pada 2024 memperkirakan penerapan cukai minuman berpemanis berpotensi menghemat biaya pengobatan diabetes tipe 2 sebesar Rp24,9 triliun. Angka itu menggambarkan besarnya biaya kesehatan yang dapat ditekan bila konsumsi minuman berpemanis berhasil dikendalikan.
Cukai bekerja dengan menaikkan harga produk sehingga konsumsi cenderung berkurang, sementara label peringatan di depan kemasan memberi informasi yang mudah dipahami konsumen sebelum membeli. Pembatasan pemasaran, terutama yang menyasar anak dan remaja, melengkapi upaya tersebut agar produk tinggi gula, garam, dan lemak tidak semakin mudah dijangkau.
Kebijakan pangan sehat semacam ini menempatkan pencegahan di depan pengobatan. Alih-alih hanya menanggung biaya perawatan penyakit yang sudah terjadi, pemerintah didorong mengatur pasar sejak awal agar pilihan yang lebih sehat lebih mudah diambil masyarakat.
Dengan cukai, label peringatan, dan pembatasan pemasaran yang berjalan bersama, CISDI berharap konsumsi minuman berpemanis dapat ditekan secara berkelanjutan. Langkah itu pada akhirnya diharapkan meringankan beban anggaran kesehatan sekaligus melindungi masyarakat dari risiko penyakit yang berkaitan dengan konsumsi gula berlebih.
Apa poin penting dari berita ini?
Ringkasan singkat dari isi artikel di atas:
- Organisasi kebijakan kesehatan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) mendorong pemerintah menerapkan cukai minuman berpemanis dalam kemasan sebagai bagian dari kebijakan pangan sehat.
- Selain cukai, CISDI menekankan pentingnya label peringatan pada bagian depan kemasan dan pembatasan pemasaran produk tinggi gula, garam, dan lemak.
- Alasan di balik dorongan tersebut berkaitan dengan beban penyakit yang ditimbulkan konsumsi gula berlebih.
- Angka itu menggambarkan besarnya biaya kesehatan yang dapat ditekan bila konsumsi minuman berpemanis berhasil dikendalikan.
- Kebijakan pangan sehat semacam ini menempatkan pencegahan di depan pengobatan.
- Dengan cukai, label peringatan, dan pembatasan pemasaran yang berjalan bersama, CISDI berharap konsumsi minuman berpemanis dapat ditekan secara berkelanjutan.


