Universitas Kristen Indonesia (UKI) bersama Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia mengajak mahasiswa untuk memperkuat kepedulian dan keterlibatan generasi muda dalam kegiatan kemanusiaan yang berkaitan dengan persoalan pengungsi. Ajakan itu diwujudkan melalui seminar internasional bertajuk “Peduli Pengungsi: Mengapa Kita Perlu Hadir?” yang digelar di UKI Jakarta pada Kamis (29/10/2026), sekaligus dalam rangka Dies Natalis ke-73 UKI.
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UKI Elferida Sormin di UKI Jakarta Timur pada Jumat menyebut kolaborasi tersebut merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam menjawab persoalan kemanusiaan. Kegiatan yang ditargetkan diikuti sekitar 300 mahasiswa dari berbagai fakultas itu diharapkan dapat membangun pemahaman yang lebih terbuka terhadap keberadaan pengungsi di tengah masyarakat.
Seminar tersebut juga menjadi momentum penguatan kerja sama UKI dan JRS Indonesia yang telah berlangsung sejak 2024, yang ditandai dengan penandatanganan Implementation Arrangement (IA) antara perwakilan JRS Indonesia dan sejumlah program studi di UKI. Project Coordinator JRS Bogor Zainuddin menyoroti perkembangan persepsi negatif terhadap pengungsi, termasuk pengungsi Rohingya yang kerap dipengaruhi kepentingan dan perdebatan politik. Karena itu, ia menekankan pentingnya pendidikan dan dialog untuk membangun perspektif masyarakat yang lebih adil dan berlandaskan nilai kemanusiaan.
Zainuddin juga mengapresiasi kerja sama dengan UKI yang telah memasuki tahun ketiga. Ia berharap kolaborasi tersebut dapat membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk menjadi sukarelawan maupun melakukan penelitian mengenai isu pengungsi, sehingga kepedulian tidak berhenti pada seminar, tetapi berlanjut pada aksi nyata.
Seminar itu menghadirkan tiga narasumber, yakni Carolina Ramanita Wara Ola dari JRS Indonesia, Mohammad Asadi, pengungsi asal Afghanistan yang mengembangkan komunitas olahraga Beyond Club, dan dosen Fakultas Sastra dan Bahasa UKI Susanne AH Sitohang. Dalam paparannya, Carolina menjelaskan situasi pengungsi dan kerangka hukum penanganannya di Indonesia. Ia juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi pengungsi, mulai dari keterbatasan kesempatan kerja formal, akses pendidikan dan kesehatan, hingga ketidakpastian masa depan akibat proses penempatan kembali ke negara ketiga yang dapat berlangsung lama.
Mohammad Asadi menuturkan bahwa pengungsi tidak hanya membutuhkan perlindungan, tetapi juga memiliki kemampuan dan potensi untuk berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat. Di sisi lain, Susanne AH Sitohang mengajak mahasiswa untuk melihat pengungsi sebagai sesama manusia yang memiliki martabat, harapan, dan pengalaman hidup, serta mendorong mahasiswa untuk mengenal, memahami, dan membangun kepedulian melalui perjumpaan langsung dengan para pengungsi.
Susanne turut memaparkan perjalanan kolaborasi UKI dan JRS Indonesia sejak 2024, yang telah menghasilkan berbagai kegiatan, antara lain pendampingan anak-anak pengungsi, program literasi dan budaya, serta pelatihan keterampilan bagi komunitas pengungsi. Melalui seminar ini, UKI dan JRS berharap mahasiswa tidak hanya memahami persoalan pengungsi secara konseptual, tetapi juga tergerak untuk hadir, mendampingi, dan berkontribusi dalam kerja kemanusiaan di lingkungannya.
Apa poin penting dari berita ini?
- Universitas Kristen Indonesia bersama Jesuit Refugee Service Indonesia mengajak mahasiswa memperkuat kepedulian terhadap persoalan pengungsi lewat seminar internasional “Peduli Pengungsi: Mengapa Kita Perlu Hadir?” di UKI Jakarta pada Kamis (29/10/2026).
- Seminar itu digelar dalam rangka Dies Natalis ke-73 UKI dan ditargetkan diikuti sekitar 300 mahasiswa dari berbagai fakultas.
- Kerja sama UKI dan JRS Indonesia telah berlangsung sejak 2024 dan ditandai dengan penandatanganan Implementation Arrangement antara JRS Indonesia dan sejumlah program studi di UKI.
- Project Coordinator JRS Bogor Zainuddin menyoroti persepsi negatif terhadap pengungsi, termasuk pengungsi Rohingya, dan menekankan pentingnya pendidikan serta dialog.
- Tiga narasumber seminar adalah Carolina Ramanita Wara Ola dari JRS Indonesia, Mohammad Asadi pengungsi asal Afghanistan pendiri komunitas olahraga Beyond Club, dan dosen UKI Susanne AH Sitohang.


