Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Eddy Hartono mengingatkan agar mahasiswa perlu kritis bermedia sosial untuk mencegah pengaruh ekstremisme. Pesan itu disampaikan saat ia memberikan kuliah umum di Universitas Lampung (Unila), Bandar Lampung, pada Selasa (27/10), yang dikonfirmasi di Jakarta pada Jumat.
Menurut Eddy, ruang digital membuka peluang besar bagi generasi muda untuk belajar, berjejaring, dan menyuarakan gagasan. Namun, media sosial juga dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan paham ekstremisme dan memengaruhi seseorang secara bertahap. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki karakter kebangsaan, kemampuan berpikir kritis, serta kecakapan bermedia sosial agar tidak mudah terpengaruh narasi yang bertentangan dengan nilai persatuan.
BNPT mengajak mahasiswa mengambil peran aktif sebagai agen perubahan dengan membangun budaya dialog, menghargai keberagaman, serta menyebarkan pesan positif di lingkungan kampus maupun ruang digital. Mahasiswa diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu menyebarkan nilai-nilai kebangsaan, menjaga persatuan, serta mengajak lingkungan sekitarnya untuk lebih bijak dalam bermedia sosial.
Kecakapan digital, menurut BNPT, tidak cukup hanya dengan kemampuan menggunakan teknologi. Mahasiswa juga perlu membangun kebiasaan memeriksa kebenaran informasi, memahami konteks suatu pesan, mengenali ajakan yang manipulatif, dan tidak terburu-buru menyebarkan konten yang belum terverifikasi. Etika kebangsaan menjadi landasan penting dalam membangun ruang digital yang sehat: perbedaan pandangan tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan orang lain, memecah persatuan, ataupun membenarkan kekerasan.
Bila menemukan hal yang mencurigakan atau merasa membutuhkan pendampingan, mahasiswa dapat memanfaatkan layanan konseling kampus maupun berkonsultasi dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT). Rektor Universitas Lampung Profesor Lusmeilia Afriani menyampaikan bahwa pembentukan karakter dan penguatan wawasan kebangsaan merupakan bagian penting dari pendidikan di lingkungan perguruan tinggi, dan Unila memiliki layanan konseling yang dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk mendapatkan pendampingan.
Dalam kesempatan yang sama, pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan menjelaskan pola perekrutan yang dapat dilakukan kelompok ekstrem untuk memengaruhi seseorang secara bertahap. Pemahaman mengenai pola pendekatan itu diharapkan membantu mahasiswa lebih waspada, mengenali tanda-tanda pengaruh yang tidak sehat, dan mengambil langkah tepat ketika menghadapi situasi yang mengkhawatirkan. Dari kalangan mahasiswa, Muhammad Faqih Al Fataya menyampaikan komitmennya untuk menjaga keberagaman dan menerapkan etika bermedia sosial di lingkungan universitas.
Kuliah umum bertema Pendidikan Karakter dalam Etika Kebangsaan sebagai Upaya Pencegahan Paham Ekstremisme tersebut diselenggarakan BNPT bersama Unila dan diikuti lebih dari 1.000 mahasiswa. Melalui kegiatan itu, BNPT mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan mahasiswa dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap penyebaran paham ekstremisme. Kampus diharapkan tidak hanya menjadi ruang pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga lingkungan yang mendukung dialog, pemikiran kritis, serta akses terhadap pendampingan, demi mewujudkan Indonesia yang aman, bersatu, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.
Apa poin penting dari berita ini?
- Kepala BNPT Eddy Hartono mengingatkan mahasiswa perlu kritis bermedia sosial untuk mencegah pengaruh ekstremisme, dalam kuliah umum di Universitas Lampung, Bandar Lampung, pada Selasa (27/10).
- Ruang digital memberi peluang belajar dan berjejaring, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan paham ekstremisme dan memengaruhi seseorang secara bertahap.
- Mahasiswa perlu memiliki karakter kebangsaan, kemampuan berpikir kritis, dan kecakapan bermedia sosial, termasuk memeriksa kebenaran informasi dan tidak menyebarkan konten yang belum terverifikasi.
- Mahasiswa yang menemukan hal mencurigakan dapat memanfaatkan layanan konseling kampus atau berkonsultasi dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT).
- Kuliah umum bertema Pendidikan Karakter dalam Etika Kebangsaan itu diikuti lebih dari 1.000 mahasiswa, dengan pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan menjelaskan pola perekrutan kelompok ekstrem.


