Sunday, 1 November 2026
Teknologi

Teknologi IoT SmartIrigo Pangkas Waktu Jaga Air Petani Pandeglang

Perangkat irigasi otomatis SmartIrigo di lahan pertanian Desa Kubangkondang, Pandeglang

Pengembangan sektor pertanian kini semakin modern dengan pemanfaatan teknologi irigasi otomatis dan sistem peringatan dini banjir. Inovasi ini diimplementasikan oleh tim dosen dari Politeknik Piksi Input Serang dan Universitas Budi Luhur melalui program pengabdian kepada masyarakat di Desa Kubangkondang, Kecamatan Cisata, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada 29 Oktober 2026.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Rizki Ripai, mengungkapkan bahwa kegiatan ini menyasar dua kelompok utama di Kampung Pasir Koer, yaitu Kelompok Tani Cahaya Tani yang beranggotakan 30 orang dan Karang Taruna Kompas Bersatu dengan 21 anggota. Wilayah ini dipilih karena selama ini sangat bergantung pada curah hujan untuk aktivitas pertanian dan memiliki risiko tinggi terhadap luapan sungai.

“Keduanya berada di wilayah yang selama ini mengandalkan sawah tadah hujan dengan kondisi jaringan irigasi desa yang rusak. Hal ini berdampak pada produktivitas padi yang hanya berkisar 4 ton per hektare per musim,” ujar Rizki dalam keterangan tertulis, Sabtu (31/10).

Sebelum ada intervensi teknologi, petani harus menghabiskan waktu rata-rata 14 jam per minggu untuk memantau air, bahkan hingga malam hari. Selain itu, sistem pencatatan biaya produksi masih dilakukan secara manual di buku tulis.

Untuk mengatasi kendala tersebut, tim menghadirkan SmartIrigo, alat irigasi otomatis berbasis internet of things (IoT). Alat ini dilengkapi sensor yang memantau ketinggian air secara real-time dan mengirimkan data ke server setiap 10 detik. Pompa akan menyala dan mati secara otomatis sesuai ambang batas yang telah disepakati bersama petani.

Implementasi satu unit SmartIrigo di lahan percontohan seluas 1 hektare menunjukkan hasil signifikan. Waktu jaga air berkurang drastis dari 14 jam menjadi hanya sekitar 2 jam per minggu. Selain perangkat keras, tim juga meluncurkan Sistem Informasi Manajemen Pertanian Digital untuk membantu pembukuan, perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), hingga laporan laba rugi digital.

Selain sektor produksi, aspek keselamatan dan mitigasi bencana juga menjadi fokus. Tim pendamping kegiatan dari Universitas Budi Luhur, Indra, menjelaskan bahwa sebelumnya Karang Taruna hanya mengandalkan pengamatan visual untuk memantau debit tiga aliran sungai, dengan waktu respons peringatan mencapai 45 menit menggunakan kentongan atau pengeras suara masjid.

Sebagai solusi, tim memasang Flood Guard di bantaran DAS Ciliman. Alat peringatan dini banjir bertenaga surya ini mampu membaca curah hujan, kecepatan angin, dan tinggi muka air. Sistem ini mengklasifikasikan kondisi menjadi empat status: Aman, Waspada, Siaga, dan Bahaya.

“Pada status Bahaya, sirine dan lampu akan menyala di lokasi, serta notifikasi otomatis terkirim ke Satgas dan warga. Dalam simulasi, waktu peringatan turun dari 45 menit menjadi hanya 3 menit,” jelas Indra. Perangkat ini didukung oleh jaringan internet dari mitra CSR, PT Awinet Global Mandiri.

Program bertajuk Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa) Tahun Anggaran 2026 ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. Kehadiran SmartIrigo dan Flood Guard menunjukkan bagaimana teknologi tepat guna dapat menjawab persoalan nyata petani, mulai dari efisiensi irigasi hingga keselamatan dari ancaman banjir.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Tim dosen Politeknik Piksi Input Serang dan Universitas Budi Luhur menerapkan irigasi otomatis dan sistem peringatan dini banjir di Desa Kubangkondang, Pandeglang, pada 29 Oktober 2026.
  • Wilayah itu mengandalkan sawah tadah hujan dengan jaringan irigasi rusak, sehingga produktivitas padi hanya sekitar 4 ton per hektare per musim.
  • SmartIrigo, alat irigasi otomatis berbasis IoT, memantau ketinggian air secara real-time dan mengirim data ke server setiap 10 detik.
  • Di lahan percontohan 1 hektare, waktu jaga air berkurang dari 14 jam menjadi sekitar 2 jam per minggu.
  • Flood Guard bertenaga surya di bantaran DAS Ciliman memangkas waktu peringatan banjir dalam simulasi dari 45 menit menjadi hanya 3 menit.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *