Asosiasi Pengusaha Green Logistics Indonesia (APGLI) mendorong pelaku usaha menerapkan logistik hijau untuk menekan emisi melalui efisiensi energi, pengukuran karbon, teknologi rendah karbon, dan rantai pasok berkelanjutan. Dorongan itu disampaikan Ketua Umum APGLI, Netty Sri Rejeki, dalam keterangan yang diterima di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu, 31 Oktober 2026.
APGLI baru melaksanakan peluncuran pada Kamis, 29 Oktober 2026. Asosiasi ini dibentuk untuk mengoordinasikan langkah dekarbonisasi industri logistik melalui edukasi, penghitungan karbon, dan kerja sama lintas sektor, serta menjadi wadah konsolidasi pelaku usaha dalam menghadapi tuntutan pengurangan emisi pada rantai pasok.
Menurut Netty, perusahaan logistik perlu mencatat emisi dari pengangkutan barang melalui jalur darat, laut, dan udara. Pencatatan emisi dapat menjadi dasar untuk menentukan langkah pengurangan emisi dan memperbaiki efisiensi operasional. Upaya yang diarahkan mencakup pencatatan emisi armada, efisiensi energi, dan penggunaan teknologi rendah karbon.
Urgensi transisi ini tercermin dari kontribusi sektor transportasi terhadap emisi nasional. Data World Resources Institute (WRI) Indonesia yang dikutip dalam pemberitaan itu menunjukkan sektor transportasi menyumbang 27 persen dari total emisi gas rumah kaca nasional sebesar 165,788 juta ton CO2e pada 2023. Sebanyak 93 persen emisi sektor transportasi disebut berasal dari transportasi darat, di tengah ketergantungan pada bahan bakar fosil dan bertambahnya jumlah kendaraan bermotor.
Untuk mempercepat penerapan praktik logistik berkelanjutan, APGLI menyiapkan edukasi dan penghitungan karbon gratis bagi perusahaan, pengembangan Zona Logistik Hijau, webinar, serta publikasi. Asosiasi itu juga menjajaki kerja sama dengan Kementerian Kehutanan untuk penanaman pohon sebagai upaya kompensasi karbon, setelah besaran emisi operasional diketahui terlebih dahulu.
Dewan Penasehat FOLU Net Sink 2030 Kementerian Kehutanan, Agus Justianto, menilai peluncuran APGLI dapat memperkuat keterlibatan dunia usaha dalam pembangunan rendah karbon. Sementara itu, Dewan Pakar APGLI sekaligus Guru Besar Supply Chain Management ULBI, Agus Purnomo, menilai daya saing industri logistik ke depan akan dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan mengendalikan emisi, mempertahankan ketahanan rantai pasok, dan mengoptimalkan teknologi, termasuk kecerdasan buatan untuk meningkatkan efisiensi, mengantisipasi gangguan, dan mengambil keputusan yang lebih cerdas.
Namun, Netty mengingatkan bahwa perusahaan dapat memulai perubahan dengan langkah sederhana, seperti merawat armada secara berkala sesuai petunjuk pabrikan. Di sisi lain, biaya investasi dan keterbatasan pembiayaan masih menjadi kendala bagi perusahaan yang ingin beralih ke teknologi rendah emisi. Ia menyoroti harga truk listrik yang dinilainya masih tinggi karena biaya masuk, dan meminta pemerintah meninjau tarif impor sebesar 40 persen.
Dewan Penasehat APGLI sekaligus Ketua Women in Logistics, Nurmaria Sarosa, menyebut kehadiran APGLI bukan sekadar seremonial, melainkan tonggak konsolidasi industri untuk menjawab tantangan dekarbonisasi yang tidak lagi bisa ditunda. Ia berharap APGLI dapat mendorong penyusunan peta jalan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang bisa digunakan perusahaan logistik dalam merancang strategi dekarbonisasi sesuai karakteristik dan kebutuhan operasional masing-masing.
Apa poin penting dari berita ini?
- APGLI mendorong pelaku usaha menerapkan logistik hijau melalui efisiensi energi, pengukuran karbon, teknologi rendah karbon, dan rantai pasok berkelanjutan, sebagaimana disampaikan Ketua Umum APGLI Netty Sri Rejeki di Semarang, Sabtu, 31 Oktober 2026.
- APGLI diluncurkan pada Kamis, 29 Oktober 2026, untuk mengoordinasikan dekarbonisasi industri logistik melalui edukasi, penghitungan karbon, dan kerja sama lintas sektor.
- Perusahaan logistik perlu mencatat emisi pengangkutan barang lewat darat, laut, dan udara sebagai dasar menentukan langkah pengurangan emisi dan efisiensi operasional.
- Data WRI Indonesia menunjukkan sektor transportasi menyumbang 27 persen dari total emisi gas rumah kaca nasional sebesar 165,788 juta ton CO2e pada 2023, dengan 93 persen berasal dari transportasi darat.
- APGLI menyiapkan edukasi, penghitungan karbon gratis, Zona Logistik Hijau, webinar, dan publikasi, serta menjajaki kerja sama penanaman pohon dengan Kementerian Kehutanan, meski biaya investasi dan tarif impor truk listrik 40 persen masih menjadi kendala.


