Monday, 2 November 2026
Lingkungan

Karhutla Papua Selatan Masih Membara, Bupati Merauke: Ada Indikasi Sengaja Dibakar

Asap kebakaran hutan dan lahan membumbung di wilayah Papua Selatan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Papua Selatan masih terjadi, dengan Kabupaten Merauke menjadi wilayah yang paling terdampak. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total 502 hektare lahan yang belum padam di Papua Selatan, menjadikannya provinsi dengan area terdampak karhutla terluas di antara lima provinsi yang menjadi prioritas penanganan saat ini.

Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze mengungkapkan bahwa eskalasi kebakaran ini tidak murni disebabkan fenomena alam dan kemarau panjang. Menurut dia, terdapat temuan di lapangan yang mengindikasikan kuat adanya unsur kesengajaan dari aktivitas pembukaan lahan pertanian atau area berburu dengan cara dibakar.

Berdasarkan analisis satelit per 30 Oktober 2026, Kabupaten Merauke menyumbang 90 persen titik panas, 96 persen luas kebakaran, dan 97 persen area kebakaran yang belum berhasil dipadamkan di tingkat provinsi. Kondisi terparah terpantau di klaster Jago Merah-Tanah Miring, yang mencakup wilayah Jago Merah, Tanah Miring, Animha, dan Semangga, dengan sekitar 250 hektare dari total 502 hektare area yang belum padam berada di klaster tersebut.

Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi bersama Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani meninjau langsung kesiapan operasi udara di Lanud Johannes Abraham Dimara, Merauke, Sabtu, 31 Oktober 2026. Dari pemantauan udara menggunakan helikopter Caracal milik TNI AD, masih terlihat kepulan asap dan sejumlah titik api, termasuk di sekitar kawasan konsesi perkebunan kelapa sawit swasta dengan indikasi pembukaan lahan dengan cara dibakar.

Untuk menekan penyebaran api, BNPB memaksimalkan teknologi drone dan sistem pemantauan digital untuk melacak titik koordinat serta status kepemilikan lahan, dipadukan dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama BMKG. Secara nasional, pemerintah mengerahkan 58 unit pesawat dan helikopter, terdiri dari 23 pesawat untuk patroli, pemantauan, dan OMC serta 35 helikopter untuk water bombing.

Selain Papua Selatan dengan 502 hektare, empat provinsi lain yang menjadi prioritas penanganan karhutla adalah Sulawesi Tengah dengan 295 hektare, Sulawesi Tenggara 257 hektare, Maluku 182 hektare, dan Kalimantan Timur 174 hektare, sehingga total area terdampak di lima provinsi mencapai 1.410 hektare. Pola kebakaran yang kini bergeser ke wilayah timur ini berbeda dari periode sebelumnya, ketika prioritas penanganan berada di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

BNPB mengingatkan masyarakat dan pemilik usaha agar menghentikan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar, karena berisiko memperluas kebakaran dan menimbulkan gangguan kesehatan. Pemerintah juga mengingatkan ancaman bencana hidrometeorologi yang masih perlu diantisipasi di tengah penanganan karhutla yang berlangsung di berbagai daerah.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Kebakaran hutan dan lahan di Papua Selatan masih terjadi dengan 502 hektare lahan yang belum padam.
  • Kabupaten Merauke menjadi wilayah paling terdampak dan menyumbang 90 persen titik panas di provinsi tersebut.
  • Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze menyebut ada indikasi kuat unsur kesengajaan dari pembukaan lahan dengan cara dibakar.
  • Kondisi terparah berada di klaster Jago Merah-Tanah Miring dengan sekitar 250 hektare area yang belum padam.
  • Kepala BNPB dan Kepala BMKG meninjau operasi udara di Merauke pada 31 Oktober 2026 dan menemukan titik api di sekitar konsesi perkebunan sawit.
  • Pemerintah mengerahkan 58 pesawat dan helikopter untuk patroli, operasi modifikasi cuaca, dan water bombing.
  • Total area terdampak karhutla di lima provinsi prioritas mencapai 1.410 hektare.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *