Obsessive compulsive disorder (OCD) sering disalahartikan sebagai kebiasaan menyukai kebersihan, kerapian, atau keteraturan. Padahal, OCD merupakan gangguan mental yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama ketika pikiran dan perilaku berulang mulai sulit dikendalikan hingga menimbulkan tekanan bagi penderitanya. Orang yang suka bersih dan rapi pun belum tentu mengalami OCD.
Psikolog sekaligus dosen di IPB University, Agung Minto Wahyu, mengatakan OCD tidak dapat dinilai hanya berdasarkan seberapa rapi atau teraturnya seseorang. Hal yang lebih penting adalah kemampuan individu dalam mengendalikan perilaku tersebut. Seseorang yang gemar merapikan rumah tetapi masih bisa berhenti kapan pun ia mau berada dalam kondisi yang sangat berbeda dengan seseorang yang merasa terpaksa mengulang perilaku yang sama meski sudah lelah dan tertekan.
Agung menjelaskan bahwa yang membedakan bukan seberapa rapi atau teraturnya seseorang, tetapi apakah dia masih memiliki kendali dan pilihan atas perilaku tersebut. Ketika perilaku masih berada dalam kendali dan menjadi pilihan sadar, maka itu lebih tepat disebut sebagai preferensi atau kebiasaan. Sebaliknya, ketika perilaku sudah menguasai individu dan sulit dihentikan, maka perlu diperhatikan lebih serius.
Agung menyebut OCD ditandai dengan munculnya obsesi, kompulsi, atau keduanya. Obsesi berupa pikiran, dorongan, atau gambaran mental yang muncul berulang kali, tidak diinginkan, dan sulit dikendalikan. Sementara itu, kompulsi merupakan perilaku atau tindakan mental yang dilakukan berulang kali sebagai respons terhadap obsesi atau untuk mengatasi kecemasan yang dirasakan.
OCD menjadi gangguan ketika gejalanya menyita waktu secara signifikan, menimbulkan tekanan, atau mengganggu fungsi kehidupan seseorang, seperti pekerjaan, studi, maupun hubungan sosial. Mengacu pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR), obsesi dan kompulsi yang menyita waktu lebih dari satu jam sehari dapat menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan.
Gejala OCD juga tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang dapat mengalami kekhawatiran berlebihan terhadap kotoran, keraguan berulang, kebutuhan agar sesuatu terasa benar, hingga pikiran yang tidak diinginkan tentang menyakiti diri sendiri atau orang lain. Semua itu terjadi di dalam pikiran dan tidak selalu tampak sebagai perilaku yang aneh bagi orang di sekitarnya.
Pada sisi kompulsi, gejalanya dapat berupa mencuci tangan berkali-kali, memeriksa sesuatu secara berulang, mengulang kata atau hitungan dalam pikiran, hingga terus-menerus meminta kepastian dari orang lain. Perilaku itu dilakukan bukan karena kesenangan, melainkan karena dorongan untuk meredakan kecemasan yang muncul dari obsesi. Ketika dorongan itu tidak dituruti, kecemasan justru meningkat.
Pemahaman ini penting agar masyarakat tidak sembarangan melabeli diri sendiri atau orang lain sebagai pengidap OCD hanya karena menyukai kerapian. Di sisi lain, pemahaman ini juga membantu mengenali kapan kebiasaan yang tampak sepele sebenarnya sudah berkembang menjadi gangguan yang membutuhkan bantuan profesional. Jika pikiran dan perilaku berulang sudah menyita waktu, menimbulkan tekanan, dan mengganggu pekerjaan, studi, atau hubungan sosial, maka berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater adalah langkah yang tepat.
Dengan membedakan antara kebiasaan rapi dan OCD, stigma terhadap gangguan mental ini pun dapat berkurang. Orang yang benar-benar mengalami OCD tidak sedang memilih untuk menjadi perfeksionis, melainkan sedang berjuang mengendalikan pikiran dan perilaku yang datang tanpa diundang dan sulit dihentikan.
Apa poin penting dari berita ini?
- Orang yang suka bersih dan rapi belum tentu mengalami OCD, karena OCD adalah gangguan mental yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
- Menurut psikolog IPB University Agung Minto Wahyu, yang membedakan adalah apakah seseorang masih memiliki kendali dan pilihan atas perilakunya.
- OCD ditandai obsesi berupa pikiran berulang yang tidak diinginkan, kompulsi berupa perilaku berulang, atau keduanya.
- OCD menjadi gangguan ketika gejalanya menyita waktu signifikan, menimbulkan tekanan, atau mengganggu pekerjaan, studi, dan hubungan sosial.
- Mengacu pada DSM-5-TR, obsesi dan kompulsi yang menyita waktu lebih dari satu jam sehari dapat menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan.


