Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi telah membakar 60.366 hektare lahan hingga akhir Oktober 2026. Angka itu merupakan hasil analisis spasial Citra Satelit Sentinel-2 yang dilakukan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi per 28 Oktober 2026. Luas yang terbakar ini menunjukkan skala kebakaran yang sangat besar, dengan sekitar 20 ribu hektare di antaranya berada di lahan gambut.
Sebaran kebakaran tidak merata di seluruh provinsi. Wilayah terparah adalah Tanjung Jabung Timur dengan 23.044 hektare yang terbakar, dan sebagian besarnya merupakan lahan gambut. Setelah itu, Sarolangun tercatat 8.830 hektare, Muaro Jambi 8.660 hektare, Tebo 7.808 hektare, dan Batanghari 6.783 hektare. Dominasi lahan gambut di wilayah terparah menjadi perhatian khusus, karena kebakaran di gambut jauh lebih sulit dipadamkan dibandingkan kebakaran di permukaan tanah mineral.
Kebakaran ini juga telah merambah kawasan konservasi. Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS) menjadi kawasan konservasi terluas yang terbakar. Selain itu, sebagian kecil Taman Nasional Bukit Tigapuluh dan Taman Nasional Bukit Duabelas ikut terbakar, begitu pula Taman Hutan Raya Orang Kayo Hitam, Hutan Lindung Gambut Londerang, dan sebagian kecil Hutan Lindung Bram Itam. Masuknya api ke kawasan konservasi menambah berat dampak kebakaran, karena kawasan-kawasan ini seharusnya menjadi benteng terakhir bagi keanekaragaman hayati.
Sifat kebakaran gambut menjelaskan mengapa api begitu sulit dipadamkan sepenuhnya. Api dapat merambat di bawah permukaan gambut dan menyimpan bara, meskipun api di permukaan sudah padam. Kondisi ini membuat kawasan yang tampak sudah aman sebenarnya masih menyimpan bara yang dapat menyala kembali bila kondisi mengering. Karena itu, pemadaman permukaan saja tidak cukup untuk menyatakan sebuah kawasan benar-benar aman dari kebakaran.
Untuk mengatasi persoalan ini, pemulihan tata air melalui rewetting atau pembasahan kembali dinilai tidak bisa ditunda. Langkah yang dimaksud meliputi penyekatan kanal dan pemantauan tinggi muka air tanah. Bila air tanah gambut terjaga tetap tinggi, gambut akan tetap basah dan jauh lebih sulit terbakar. Sebaliknya, gambut yang kering karena drainase berlebihan akan mudah menjadi bahan bakar api.
Program Manager KKI Warsi, Rudi Syaf, menjadi salah satu pihak yang menyampaikan temuan dan rekomendasi ini. Di samping temuan yang mengkhawatirkan, ada pula apresiasi yang disampaikan kepada Manggala Agni dan pemerintah atas upaya pemadaman yang telah dilakukan. Apresiasi ini diiringi dorongan agar rehabilitasi vegetasi dan pemulihan fungsi hidrologis segera disusun, sehingga lahan yang terbakar tidak dibiarkan begitu saja, tetapi dipulihkan secara terencana.
Kasus Jambi ini menjadi pengingat bahwa karhutla bukan hanya soal luas lahan yang hangus dalam satu musim, melainkan soal pemulihan jangka panjang. Tanpa perbaikan tata air dan rehabilitasi yang sungguh-sungguh, lahan gambut yang sama berisiko terbakar kembali pada musim kemarau berikutnya. Karena itu, langkah pemulihan yang segera disusun menjadi sama pentingnya dengan upaya pemadaman itu sendiri.
Apa poin penting dari berita ini?
- Karhutla Jambi mencapai 60.366 hektare per 28 Oktober 2026 menurut analisis spasial Citra Satelit Sentinel-2 oleh KKI Warsi, dengan sekitar 20 ribu hektare di lahan gambut.
- Wilayah terparah adalah Tanjung Jabung Timur 23.044 hektare, disusul Sarolangun 8.830, Muaro Jambi 8.660, Tebo 7.808, dan Batanghari 6.783 hektare.
- Taman Nasional Berbak dan Sembilang menjadi kawasan konservasi terluas yang terbakar, ditambah sebagian kecil TN Bukit Tigapuluh, TN Bukit Duabelas, Tahura Orang Kayo Hitam, Hutan Lindung Gambut Londerang, dan sebagian kecil Hutan Lindung Bram Itam.
- Api merambat di bawah permukaan gambut dan menyimpan bara meski api permukaan padam, sehingga pemulihan tata air lewat rewetting tidak bisa ditunda.
- KKI Warsi mengapresiasi Manggala Agni dan pemerintah, serta mendorong rehabilitasi vegetasi dan pemulihan fungsi hidrologis segera disusun.


