Pemerintah berupaya mengatasi krisis air bersih akibat kemarau panjang di Sorong, Papua Barat Daya, melalui pendampingan dan teknologi tepat guna. Pengembangan kawasan transmigrasi Klamono-Segun di Kabupaten Sorong mendapat dukungan teknologi dan pendampingan dari 20 mahasiswa Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Brawijaya.
Program ini mencakup penyediaan air bersih, pembuatan kapal nelayan, pengadaan pupuk kompos, serta pengembangan usaha masyarakat. Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara meninjau langsung berbagai hasil kegiatan tersebut pada Sabtu (31/10/2026). Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Puskesmas Pembantu (Pustu) Wariyau, tempat mahasiswa memasang fasilitas penyediaan air bersih.
Iftitah menjelaskan, keterbatasan akses air menjadi persoalan yang dihadapi masyarakat setempat. Selama ini, warga mengandalkan air tanah dan air hujan yang pemanfaatannya masih terbatas. Air yang tersedia itu pun mungkin hanya bisa untuk mandi, sementara untuk keperluan dapur dan sebagainya sulit sekali. Kondisi ini membuat penyediaan air bersih menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar pelengkap pembangunan.
Di Segun, Tim Ekspedisi Patriot mendampingi pembuatan kapal nelayan berbahan fiber dan mendorong pengadaan pupuk kompos untuk menjawab kelangkaan pupuk dengan melibatkan masyarakat. Rangkaian kegiatan ini menunjukkan bahwa pendampingan tidak berhenti pada satu jenis bantuan, melainkan menyentuh berbagai sisi kehidupan masyarakat transmigrasi, mulai dari air bersih, alat produksi, hingga usaha.
Iftitah menegaskan bahwa pendampingan menjadi pembeda dari bantuan biasa. Kata kuncinya adalah pemberdayaan dan keberdayaan, yang jauh lebih penting daripada bantuan yang bersifat instan. Menurut dia, masyarakat berharap program pendampingan dan pemberdayaan seperti ini terus berlanjut, karena bantuan sesaat tidak cukup untuk mengubah kondisi secara berkelanjutan.
Iftitah juga menilai karya dan kontribusi para mahasiswa sejalan dengan arahan Presiden agar kampus berdampak dan hadir langsung memeriksa persoalan masyarakat sekaligus memberikan solusinya. Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat transmigrasi menjadi jembatan antara pengetahuan kampus dan kebutuhan nyata di lapangan.
Krisis air bersih sendiri telah menjadi persoalan serius bagi masyarakat di sejumlah wilayah Papua Barat Daya seiring berlangsungnya musim kemarau. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan air untuk kehidupan sehari-hari, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas pertanian dan perekonomian masyarakat. Sejumlah organisasi masyarakat sebelumnya telah menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah titik terdampak, dan berbagai pihak diminta turun tangan membantu, termasuk dengan memanfaatkan kendaraan tangki air yang dimiliki instansi pemerintah dan aparat.
Melalui pendampingan teknologi dan pemberdayaan masyarakat di Klamono-Segun, pemerintah berharap persoalan air bersih di Sorong dapat dijawab secara lebih berkelanjutan. Instalasi air bersih di Pustu Wariyau menjadi contoh kecil bahwa solusi yang dirancang bersama masyarakat, dikerjakan dengan teknologi sederhana, dan didampingi secara terus-menerus memiliki peluang lebih besar untuk bertahan lama dibandingkan bantuan yang datang dan pergi tanpa pendampingan.
Apa poin penting dari berita ini?
- Pengembangan kawasan transmigrasi Klamono-Segun di Kabupaten Sorong mendapat dukungan teknologi dan pendampingan dari 20 mahasiswa Tim Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya.
- Program ini mencakup penyediaan air bersih, pembuatan kapal nelayan, pengadaan pupuk kompos, serta pengembangan usaha masyarakat.
- Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara meninjau langsung berbagai hasil kegiatan tersebut pada Sabtu (31/10/2026).
- Selama ini, warga mengandalkan air tanah dan air hujan yang pemanfaatannya masih terbatas dan sulit untuk keperluan dapur.
- Iftitah menegaskan bahwa pendampingan menjadi pembeda dari bantuan biasa, dengan kata kunci pemberdayaan dan keberdayaan.


