Saturday, 31 October 2026
Ekonomi

Rupiah Masih Bertahan di Kisaran Rp18.100 per Dolar AS di Tengah Tekanan Domestik dan Global

Uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di atas meja

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih bergerak pada tren pelemahan dan berkutat di kisaran Rp18.100-an per dolar AS. Kondisi itu menjadi perhatian pelaku pasar karena rupiah belum berhasil keluar dari tekanan yang sudah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.

Pengamat menilai ketegangan politik dalam negeri turut memberi tekanan terhadap rupiah. Persepsi investor terhadap risiko pasar domestik ikut menentukan arah mata uang, sehingga pelemahan rupiah tidak bisa dijelaskan semata-mata oleh penguatan dolar secara global.

Pada perdagangan Senin, 26 Oktober 2026, rupiah sempat dibuka di level Rp18.089 per dolar AS, melemah 9 poin dibandingkan penutupan sebelumnya sebesar Rp18.080 per dolar AS. Pada pukul 09.30 WIB, rupiah kembali melemah ke Rp18.101 per dolar AS, dan menjelang pukul 11.00 WIB dolar AS sudah menyentuh Rp18.120.

Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi faktor eksternal. Kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih ketat dan imbal hasil obligasi pemerintah negara tersebut yang tinggi membuat aset berbasis dolar lebih menarik bagi investor. The Federal Reserve telah menaikkan suku bunga acuannya menjadi 3,75 hingga 4,00 persen pada September 2026.

Di sisi lain, indeks dolar AS sempat melemah pada perdagangan Asia, sehingga tekanan terhadap rupiah tidak sepenuhnya berasal dari penguatan dolar secara global. Pengamat dari Bank Permata, Josua Pardede, menilai kombinasi tekanan eksternal dan persepsi risiko domestik menjelaskan mengapa rupiah masih tertekan meski dolar tidak selalu menguat terhadap mata uang utama dunia.

Eskalasi konflik di Timur Tengah juga meningkatkan premi risiko energi dan mendorong investor mengurangi kepemilikan aset berisiko. Kenaikan harga minyak dunia di atas 100 dolar AS per barel menambah beban impor energi Indonesia dan menekan neraca perdagangan.

Dari dalam negeri, penjualan saham oleh investor asing turut menambah tekanan. Data Bursa Efek Indonesia mencatat investor asing membukukan jual bersih sebesar Rp1,48 triliun di seluruh pasar pada perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026. Arus keluar dana asing dari pasar saham domestik masih terus membebani rupiah.

Bank Indonesia diperkirakan melanjutkan upaya menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing. Cadangan devisa Indonesia mencapai 146,3 miliar dolar AS pada September 2026, setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor, yang menjadi bantalan bagi stabilitas eksternal.

Bank Indonesia juga merevisi proyeksi defisit transaksi berjalan Indonesia pada 2026 menjadi 1,6 hingga 2,4 persen terhadap produk domestik bruto, lebih lebar dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 0,5 hingga 1,3 persen. Revisi itu mencerminkan tekanan eksternal yang masih berlanjut.

Pengamat menilai pelemahan rupiah hingga menembus Rp18.100 per dolar AS belum cukup untuk menyimpulkan terjadinya krisis fundamental. Namun kondisi tersebut menunjukkan ketahanan eksternal Indonesia menghadapi tekanan di tengah ketidakpastian global dan meningkatnya risiko domestik, sehingga kehati-hatian pelaku pasar masih diperlukan.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih bergerak pada tren pelemahan dan berkutat di kisaran Rp18.100-an per dolar AS.
  • Pengamat menilai ketegangan politik dalam negeri turut memberi tekanan terhadap rupiah, dan persepsi investor terhadap risiko pasar domestik ikut menentukan arah mata uang.
  • Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih ketat, eskalasi konflik di Timur Tengah, dan penjualan saham oleh investor asing.
  • Bank Indonesia diperkirakan melanjutkan upaya menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing, dengan cadangan devisa mencapai 146,3 miliar dolar AS pada September 2026.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *