Saturday, 31 October 2026
Teknologi

Pakar UGM Ingatkan Risiko AI bagi Anak SD, Halusinasi Perlu Pendampingan

Ilustrasi anak menggunakan gawai dan teknologi kecerdasan buatan

Dosen Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) Dedy Permadi mengingatkan risiko pengenalan kecerdasan buatan (AI) secara langsung kepada siswa sekolah dasar (SD). Peringatan itu disampaikan dalam workshop Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea (IKJN) di Jakarta pada Jumat, 30 Oktober 2026, dan diberitakan pada Sabtu, 31 Oktober 2026.

Menurut Dedy, teknologi AI berbasis large language model (LLM) dapat menghasilkan halusinasi atau informasi keliru, sementara anak-anak dinilai belum memiliki kemampuan yang cukup untuk memverifikasi kebenarannya. Ia mengatakan rencana memperkenalkan AI kepada siswa SD perlu ditinjau ulang, terutama penggunaan aplikasi seperti ChatGPT, Copilot, dan Gemini tanpa pendampingan serta bekal literasi yang memadai.

Siapa yang memverifikasi hasil AI?

Dedy menegaskan bahwa LLM cenderung mengalami halusinasi, dan algoritma itu bisa menghasilkan berita dan informasi palsu. Pertanyaan kuncinya adalah siapa yang akan memverifikasi hasil tersebut. Dalam prinsip AI yang berpusat pada manusia, manusia harus memeriksa hasil yang dihasilkan AI, namun anak-anak belum memiliki bekal yang cukup untuk memverifikasi halusinasi dari AI.

Risiko itu menjadi lebih besar karena anak SD masih berada pada tahap awal membangun kemampuan berpikir kritis dan membedakan sumber yang dapat dipercaya. Tanpa pendampingan, jawaban AI yang terdengar meyakinkan bisa diterima begitu saja, padahal isinya belum tentu benar.

Suggested read: AI Ubah Dunia Kerja, Dr Ali Khumaidi Tekankan Keterampilan Kritis dan Reskilling

AI for education dan AI education

Dedy menjelaskan pembahasan mengenai AI dalam pendidikan perlu dibedakan menjadi dua hal, yakni AI for education dan AI education, yang memiliki tujuan berbeda. AI for education merujuk pada pemanfaatan AI untuk mendukung proses belajar, misalnya penggunaan aplikasi untuk membantu siswa penyandang disabilitas memahami materi serta penerapan sistem pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa.

Menurut Dedy, pemanfaatan AI untuk pembelajaran personal dapat membantu mengatasi keterbatasan kapasitas dan keterampilan tenaga pengajar. Dengan bantuan teknologi, guru dapat lebih mudah menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan setiap siswa. Namun yang perlu menjadi perhatian adalah AI education, yaitu mengajarkan AI kepada siswa secara langsung.

Dedy menuturkan pemerintah Indonesia pada 2024 sempat memperkenalkan rencana memasukkan pembelajaran AI ke dalam kurikulum bagi generasi muda, termasuk siswa SD, dan saat itu ia meminta agar rencana tersebut ditinjau kembali sebelum AI diperkenalkan secara langsung kepada anak-anak. Ia juga mengaitkan penggunaan AI dan paparan layar berlebihan dengan potensi dampak negatif terhadap generasi muda, termasuk kekhawatiran mengenai penurunan kemampuan kognitif anak.

Sebagai perbandingan, Dedy menceritakan pengalamannya mengunjungi Jepang setahun setelah inisiatif pengenalan AI di Indonesia. Berdasarkan pengamatannya, Jepang baru memperkenalkan AI kepada siswa tingkat sekolah menengah atas, dengan panduan dan pendampingan guru, dan penggunaan AI di sekolah juga dibatasi melalui perangkat khusus yang disediakan sekolah.

Suggested read: Toyota dan Waymo Siapkan Taksi Tanpa Pengemudi di Jepang, Uji Coba Dimulai 2027

Apa poin penting dari berita ini?

  • Dosen Hubungan Internasional UGM Dedy Permadi mengingatkan risiko pengenalan AI secara langsung kepada siswa SD, dalam workshop IKJN di Jakarta pada Jumat, 30 Oktober 2026.
  • Teknologi AI berbasis large language model dapat menghasilkan halusinasi atau informasi keliru, sementara anak-anak dinilai belum memiliki kemampuan cukup untuk memverifikasi kebenarannya.
  • Dedy menilai rencana memperkenalkan AI kepada siswa SD perlu ditinjau ulang, terutama penggunaan ChatGPT, Copilot, dan Gemini tanpa pendampingan serta bekal literasi yang memadai.
  • Pembahasan AI dalam pendidikan perlu dibedakan antara AI for education, yaitu pemanfaatan AI untuk mendukung belajar, dan AI education, yaitu mengajarkan AI kepada siswa secara langsung.
  • Sebagai perbandingan, Jepang baru memperkenalkan AI kepada siswa SMA dengan panduan dan pendampingan guru, dan penggunaan AI di sekolah dibatasi lewat perangkat khusus yang disediakan sekolah.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *