Saturday, 31 October 2026
Teknologi

AI Ubah Dunia Kerja, Dr Ali Khumaidi Tekankan Keterampilan Kritis dan Reskilling

Dr Ali Khumaidi membawakan materi seminar kecerdasan buatan di Universitas Nusa Mandiri

Kemampuan menggunakan kecerdasan buatan (AI) saja belum cukup untuk menghadapi perubahan dunia kerja. Generasi muda juga perlu berpikir kritis, kreatif, mampu berkolaborasi, serta terus memperbarui keterampilan agar dapat memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan solusi nyata. Pesan itu disampaikan Kepala NEX.Ai Universitas Nusa Mandiri (UNM) Dr Ali Khumaidi dalam Seminar Artificial Intelligence di Aula UNM Kampus Jatiwaringin, Jakarta Timur, pada Kamis, 29 Oktober 2026.

Dalam materi bertajuk How to Leverage AI for a Brighter Future: From AI Skills to Real Achievements and Lasting Impact, Dr Ali menyoroti perubahan kebutuhan keterampilan tenaga kerja seiring meluasnya penggunaan AI. Ia mengacu pada laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum (WEF), yang memproyeksikan sekitar 39 persen keterampilan pekerja saat ini akan berubah atau menjadi usang pada periode 2025 hingga 2030.

Belajar kembali dan beradaptasi

Perubahan tersebut menuntut generasi muda untuk tidak berhenti pada penguasaan teknologi yang sedang populer. Kemampuan belajar kembali, menyesuaikan diri, dan memahami persoalan yang perlu diselesaikan menjadi bekal penting agar AI dapat digunakan secara produktif, bukan sekadar diikuti trennya.

Perkembangan AI memang memunculkan kekhawatiran mengenai pekerjaan yang berpotensi tergantikan oleh otomatisasi, terutama tugas-tugas rutin. Namun perubahan pasar kerja juga membuka peluang pada bidang teknologi, data, keamanan siber, energi hijau, hingga pendidikan. WEF memperkirakan berbagai tren ekonomi, teknologi, demografi, dan transisi hijau dapat menciptakan 170 juta pekerjaan sekaligus menggeser 92 juta pekerjaan hingga 2030, sehingga secara bersih menghasilkan penambahan 78 juta pekerjaan secara global. Angka itu menggambarkan dampak gabungan berbagai tren terhadap pasar kerja, bukan semata-mata akibat penggunaan AI.

Suggested read: Pakar UGM Ingatkan Risiko AI bagi Anak SD, Halusinasi Perlu Pendampingan

Kuncinya bukan takut, melainkan siap

Oleh karena itu, Dr Ali mengingatkan bahwa respons terhadap perkembangan teknologi seharusnya bukan ketakutan, melainkan kesiapan untuk belajar dan berinovasi. Kuncinya bukan takut pada AI, melainkan terus belajar, melakukan reskilling, dan berinovasi, karena AI adalah alat dan dampak nyata sangat bergantung pada bagaimana manusia memanfaatkannya untuk menyelesaikan masalah.

Ia juga menyinggung penelitian Shakked Noy dan Whitney Zhang yang terbit dalam jurnal Science pada 2023. Dalam eksperimen terhadap 453 profesional berpendidikan perguruan tinggi yang mengerjakan tugas menulis profesional, penggunaan ChatGPT menurunkan waktu penyelesaian rata-rata sebesar 40 persen dan meningkatkan kualitas hasil sebesar 18 persen. Temuan tersebut menunjukkan potensi AI dalam mendukung produktivitas pada jenis pekerjaan tertentu, meski hasilnya perlu dipahami sesuai konteksnya dan tidak serta-merta menjadi ukuran untuk semua jenis pekerjaan atau industri.

Suggested read: Toyota dan Waymo Siapkan Taksi Tanpa Pengemudi di Jepang, Uji Coba Dimulai 2027

Ekosistem talenta digital NEX.Ai

Selain membahas keterampilan masa depan, Dr Ali memaparkan roadmap NEX.Ai untuk periode 2026 hingga 2027. Sebagai pusat riset dan inovasi di lingkungan UNM yang dikenal sebagai Kampus Digital Bisnis, NEX.Ai diarahkan untuk mendukung pengembangan talenta digital melalui program yang terintegrasi, mencakup pengembangan talenta, bootcamp, riset berbasis komunitas, kolaborasi dengan industri, hingga pameran inovasi melalui kegiatan showcase and impact. Upaya tersebut diarahkan untuk mempertemukan pembelajaran, riset, dan kebutuhan nyata di masyarakat maupun dunia industri.

Suggested read: Rektor UNM: AI Makin Canggih, Ketekunan dan Integritas Tetap Jadi Kunci Prestasi

Apa poin penting dari berita ini?

  • Kepala NEX.Ai Universitas Nusa Mandiri Dr Ali Khumaidi menyampaikan bahwa kemampuan menggunakan AI saja belum cukup menghadapi perubahan dunia kerja, dalam seminar AI di Aula UNM Kampus Jatiwaringin, Jakarta Timur, Kamis, 29 Oktober 2026.
  • Generasi muda perlu berpikir kritis, kreatif, mampu berkolaborasi, serta terus memperbarui keterampilan agar AI dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan solusi nyata.
  • Laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum memproyeksikan sekitar 39 persen keterampilan pekerja saat ini akan berubah atau menjadi usang pada 2025 hingga 2030.
  • WEF memperkirakan berbagai tren ekonomi, teknologi, demografi, dan transisi hijau dapat menciptakan 170 juta pekerjaan sekaligus menggeser 92 juta pekerjaan hingga 2030, atau penambahan bersih 78 juta pekerjaan global.
  • Penelitian Noy dan Zhang dalam jurnal Science 2023 terhadap 453 profesional menunjukkan penggunaan ChatGPT menurunkan waktu penyelesaian tugas menulis sebesar 40 persen dan meningkatkan kualitas hasil sebesar 18 persen.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *