Dari kisah-kisah kuno di Mesopotamia tentang hantu yang perlu dirawat oleh kerabat mereka yang masih hidup, hingga A Christmas Carol karya Charles Dickens, manusia memiliki sejarah panjang dalam menuturkan cerita hantu. Ribuan tahun berlalu, ilmu pengetahuan berkembang pesat, tetapi cerita tentang penampakan dan suara-suara aneh tidak pernah benar-benar hilang.
Pertanyaannya, mengapa sebagian orang mengalami kejadian yang mereka yakini sebagai pengalaman paranormal, sementara orang lain yang berada di tempat yang sama tidak merasakan apa-apa? Laporan-laporan itu biasanya punya pola yang mirip: melihat sosok samar, mendengar suara yang tidak jelas sumbernya, atau merasakan kehadiran yang tidak terlihat di sebuah ruangan.
Para peneliti yang mempelajari fenomena ini menawarkan penjelasan yang berangkat dari cara kerja otak, bukan dari dunia gaib. Otak manusia tidak merekam kenyataan seperti kamera. Ia menebak, mengisi kekosongan, dan kadang salah menafsirkan apa yang ditangkap indra, terutama dalam kondisi gelap, lelah, atau tegang.
Salah satu penjelasan yang paling sering disebut adalah pareidolia, yaitu kecenderungan otak melihat wajah atau bentuk yang bermakna pada pola acak. Bayangan di dinding, lipatan gorden, atau pantulan cahaya bisa tiba-tiba terbaca sebagai sosok manusia, apalagi bila orang tersebut sudah lebih dulu merasa takut atau sudah mendengar cerita bahwa tempat itu angker.
Ingatan juga tidak selalu bisa dipegang. Seseorang bisa merasa sangat yakin pernah melihat atau mendengar sesuatu, padahal detailnya berubah setiap kali cerita itu diulang. Sugesti dari orang lain, film, atau cerita yang beredar ikut membentuk versi kejadian yang terasa makin nyata dari waktu ke waktu.
Kondisi tidur pun punya peran. Dalam kelumpuhan tidur, seseorang merasa sudah terbangun sepenuhnya tetapi tidak bisa bergerak, sering kali sambil merasakan kehadiran yang mengancam di dekatnya. Bagi orang yang belum pernah mendengar penjelasan tentang kondisi ini, pengalaman tersebut sangat mudah ditafsirkan sebagai kejadian supranatural, padahal yang terjadi adalah campuran aneh antara kesadaran bangun dan kesadaran mimpi.
Duka dan trauma juga bisa melahirkan pengalaman serupa. Orang yang baru kehilangan orang tercinta kadang melaporkan melihat atau mendengar sosok yang dirindukan. Para psikolog memandang pengalaman semacam itu sebagai cara otak memproses kehilangan yang sangat besar, bukan sebagai bukti bahwa arwah benar-benar hadir di ruangan tersebut.
Sampai hari ini, sains belum menemukan bukti yang membenarkan keberadaan hantu. Namun ketiadaan bukti itu tidak membuat pengalaman orang yang melapor menjadi bohong atau dibuat-buat. Bagi mereka yang mengalaminya, perasaannya nyata, dan justru karena itu penjelasan yang jujur menjadi penting: ada banyak hal alami yang bisa membuat pengalaman menyeramkan terasa sangat meyakinkan, mulai dari salah tafsir indra, ingatan yang meleset, hingga kondisi tubuh dan pikiran yang sedang lelah atau berduka.
Apa poin penting dari berita ini?
- Dari kisah-kisah kuno di Mesopotamia tentang hantu hingga A Christmas Carol karya Charles Dickens, manusia memiliki sejarah panjang dalam menuturkan cerita hantu selama ribuan tahun.
- Laporan pengalaman paranormal biasanya punya pola yang mirip, yaitu melihat sosok samar, mendengar suara yang tidak jelas sumbernya, atau merasakan kehadiran yang tidak terlihat di sebuah ruangan.
- Para peneliti menawarkan penjelasan dari cara kerja otak, termasuk pareidolia, yaitu kecenderungan otak melihat wajah atau bentuk yang bermakna pada pola acak.
- Dalam kelumpuhan tidur, seseorang merasa sudah terbangun sepenuhnya tetapi tidak bisa bergerak, sering kali sambil merasakan kehadiran yang mengancam di dekatnya.
- Sampai hari ini, sains belum menemukan bukti yang membenarkan keberadaan hantu, tetapi pengalaman orang yang melapor tetap terasa nyata bagi mereka yang mengalaminya.


