Friday, 30 October 2026
Kesehatan

Cakupan Imunisasi HPV Belum Merata, Sembilan Provinsi Tertinggal Jauh dari Target

Petugas kesehatan memberikan imunisasi kepada anak sekolah

Cakupan imunisasi human papillomavirus (HPV) di Indonesia belum merata. Sembilan provinsi tercatat memiliki cakupan di bawah 45 persen, jauh dari target yang ingin dicapai pemerintah, sehingga kesenjangan perlindungan antarwilayah masih menjadi pekerjaan besar.

Imunisasi HPV diberikan untuk mencegah infeksi virus HPV yang dapat menyebabkan kanker serviks. Di Indonesia, program ini diberikan secara gratis kepada anak perempuan dan laki-laki usia 10 sampai 11 tahun atau kelas 5 sekolah dasar, dan telah berjalan secara nasional sejak 2023 melalui Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan cakupan imunisasi HPV pada anak perempuan kelas 5 SD pada 2026 mencapai 83,5 persen. Sementara itu, cakupan pada anak laki-laki kelas 5 SD di tiga provinsi wilayah perluasan mencapai 88 persen. Pada 2025, cakupan dosis tunggal pada anak perempuan kelas 5 SD tercatat 90,8 persen. Target nasional yang dipatok adalah 90 persen.

Perluasan untuk anak laki-laki dimulai pada 2026 di DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Bali. Direktur Imunisasi Kemenkes Indri Yogaswari menyampaikan, pada 2027 program gratis untuk anak laki-laki kelas 5 SD akan ditambah ke tiga provinsi lagi, yakni Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah, dalam diskusi media daring pada Kamis, 29 Oktober 2026.

Ketidakmerataan ini tidak hanya soal ketersediaan vaksin. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan, peningkatan cakupan menghadapi tantangan akses sekaligus maraknya hoaks dan disinformasi yang dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat. Riset tentang penerimaan vaksin HPV di Indonesia juga menyoroti faktor sosiokultural, pandangan masyarakat terhadap vaksin, tingginya biaya, dan kebutuhan penyimpanan dalam rantai dingin agar vaksin tetap efektif.

Gambaran di daerah menunjukkan selisih yang sebenarnya bisa dikejar. Pada pelaksanaan BIAS di DKI Jakarta, imunisasi campak-rubela (MR) untuk kelas 1 SD mencapai 124.035 anak atau 88,98 persen, sedangkan vaksin HPV untuk kelas 5 SD diberikan kepada 59.230 anak atau 89,02 persen, hanya sedikit di bawah target 90 persen. BIAS sendiri dilaksanakan dua kali setahun, pada Agustus dan November, dengan jenis vaksin yang disesuaikan dengan kelas sasaran.

Pentingnya imunisasi sejak dini ditegaskan dalam webinar Kemenkes bersama media dan influencer pada Kamis, 29 Oktober 2026. Bila diberikan pada anak usia 9 sampai 14 tahun dengan satu dosis, vaksin HPV disebut dapat memberikan perlindungan hampir 90 persen, tepatnya sekitar 88 persen. Perlindungan itu menurun bila vaksinasi baru diberikan pada usia di atas 20 tahun. Karena itu, Kemenkes memperkuat edukasi melalui situs imunisasi-hpv.rcce.id yang memuat informasi tentang virus HPV, kanker serviks, kanker orofaring, dan imunisasi HPV, dengan tujuan akhir mengeliminasi kanker leher rahim pada 2030.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Sembilan provinsi tercatat memiliki cakupan imunisasi HPV di bawah 45 persen, jauh dari target pemerintah.
  • Imunisasi HPV gratis diberikan kepada anak perempuan dan laki-laki usia 10 sampai 11 tahun atau kelas 5 SD, dan berjalan nasional sejak 2023 lewat BIAS.
  • Cakupan 2026 mencapai 83,5 persen untuk anak perempuan kelas 5 SD dan 88 persen untuk anak laki-laki di tiga provinsi perluasan.
  • Perluasan untuk anak laki-laki pada 2027 ditambah ke Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
  • Tantangan cakupan meliputi akses, hoaks dan disinformasi, faktor sosiokultural, biaya, dan rantai dingin.
  • Satu dosis pada usia 9 sampai 14 tahun disebut memberi perlindungan sekitar 88 persen.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *