Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) mendorong mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berbasis sains dan teknologi, bukan sekadar respons darurat saat api sudah membesar. Dorongan itu disampaikan di Yogyakarta, Rabu (28/10/2026), dengan menekankan bahwa karhutla adalah krisis ekologis yang serius, bukan sekadar fenomena alam musiman.
Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Eko Agus Suyono, menyerukan solusi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Indonesia memiliki hutan gambut tropis yang luas dan tanggung jawab mitigasi iklim global, sehingga penanganan karhutla tidak cukup mengandalkan pemadaman. Fakultas Biologi UGM mendesak evaluasi total tata kelola lahan, pemantauan hutan digital secara real-time, data sains terbuka, dan pemantauan berbasis kecerdasan buatan (AI).
Sejumlah rekomendasi strategis disampaikan. Pertama, alokasi APBN permanen untuk kesiapsiagaan bencana. Kedua, koordinasi lintas sektor yang jelas dari pusat hingga desa. Ketiga, peringatan dini berbasis AI dan sensor hidrologi. Keempat, insentif bagi masyarakat yang menerapkan pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB).
Mengapa pendekatan ini penting? Karena karhutla merusak lebih dari sekadar pepohonan. Suhu api yang ekstrem merusak mikrobioma tanah yang vital, termasuk bakteri pengikat nitrogen dan mikoriza. Karena itu, pemulihan tidak bisa sekadar menanam kembali, melainkan harus memakai pendekatan biologi sistem: bioremediasi dengan formulasi mikroorganisme, pembasahan kembali ekosistem gambut, dan revegetasi dengan bibit lokal unggul yang sesuai dengan ekosistem aslinya.
Fakultas Biologi UGM juga menawarkan tim ahli untuk berkolaborasi dengan pemerintah dan swasta, termasuk evakuasi, identifikasi, dan rehabilitasi satwa terdampak, serta pengukuran stok karbon dalam program restorasi. Kontribusinya mencakup riset dan inovasi, regulasi, dan sumber daya manusia, termasuk pelibatan mahasiswa dalam pemulihan ekosistem dan edukasi masyarakat.
Dengan pendekatan ini, mitigasi karhutla diharapkan bergeser dari sekadar memadamkan api menjadi mencegah kebakaran sejak awal, memulihkan lahan yang terbakar secara ilmiah, dan melindungi keanekaragaman hayati serta ekosistem gambut untuk jangka panjang.
Apa poin penting dari berita ini?
- Fakultas Biologi UGM mendorong mitigasi karhutla berbasis sains dan teknologi, bukan sekadar respons darurat.
- Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Eko Agus Suyono, menyerukan evaluasi total tata kelola lahan, pemantauan hutan digital real-time, data sains terbuka, dan pemantauan berbasis AI.
- Rekomendasi strategisnya meliputi alokasi APBN permanen, koordinasi pusat hingga desa, peringatan dini berbasis AI dan sensor hidrologi, serta insentif pembukaan lahan tanpa bakar.
- Suhu api ekstrem merusak mikrobioma tanah, termasuk bakteri pengikat nitrogen dan mikoriza, sehingga restorasi memakai bioremediasi, pembasahan gambut, dan revegetasi bibit lokal unggul.


