JAKARTA — Terapi target menjadi salah satu andalan pengobatan kanker modern karena bekerja lebih presisi dibandingkan kemoterapi konvensional. Namun terapi ini tetap memiliki efek samping yang perlu dikenali dan ditangani dengan tepat.
Foto ilustrasi: Pexels.
Apa itu terapi target? Terapi target bekerja dengan menghambat protein atau gen tertentu yang mendorong pertumbuhan sel kanker. Berbeda dengan kemoterapi yang menyerang semua sel yang membelah cepat, terapi target menyasar pemicu spesifik pertumbuhan kanker. Meski lebih presisi, efek samping tetap muncul tergantung jenis obat dan target molekulernya.
Apa saja efek sampingnya? Yang paling sering muncul adalah masalah kulit: ruam menyerupai jerawat, kulit kering, kuku rapuh, hingga perubahan warna rambut. Selain itu, pasien dapat mengalami gangguan pencernaan seperti diare, nafsu makan menurun, dan mual; gangguan kardiovaskular seperti tekanan darah tinggi atau penurunan fungsi pompa jantung; gangguan pembekuan darah berupa perdarahan atau trombosis; kelelahan ekstrem; serta gangguan hati dan ginjal yang terlihat dari perubahan hasil tes fungsi hati atau protein dalam urine.
Bagaimana cara menanganinya? Untuk kulit, perawatan intensif dianjurkan: pelembap tanpa pewangi, hindari paparan matahari langsung, dan gunakan tabir surya; ruam yang memburuk dapat memerlukan steroid topikal atau antibiotik oral. Untuk diare, pasien dianjurkan memperbanyak cairan, mengonsumsi makanan rendah serat seperti pisang, nasi, atau roti panggang, serta obat antidiare bila diperlukan. Tekanan darah perlu dipantau secara mandiri di rumah, dengan obat antihipertensi atau penyesuaian dosis bila tekanan melonjak. Kelelahan dapat diatasi dengan aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki secara teratur sesuai toleransi.
Apa yang harus diwaspadai? Pasien tidak boleh mengonsumsi obat atau suplemen tambahan tanpa berkonsultasi dengan dokter onkologi, karena dapat berinteraksi dengan terapi target. Segera cari pertolongan medis bila muncul sesak napas, nyeri dada, pembengkakan kaki yang parah, demam tinggi, atau diare yang berlangsung lebih dari 24 jam. Deteksi dini memungkinkan penyesuaian dosis tanpa harus menghentikan pengobatan sepenuhnya.
Dengan pengenalan efek samping sejak awal, pasien dan keluarga dapat menjalani terapi target dengan lebih tenang dan terencana, tanpa mengabaikan tanda bahaya yang memerlukan penanganan segera.
Sumber: Media Indonesia. Baca berita asli di sini.


