Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim), Kalimantan Timur, memperkuat sinergi dengan Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPD Apkasindo) setempat. Langkah ini diambil sebagai upaya strategis untuk meningkatkan kesejahteraan petani kelapa sawit yang menjadi pilar ekonomi daerah.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menyampaikan hal tersebut usai melantik pengurus DPD Apkasindo Kutim periode 2026–2031 di Sangatta, pada Kamis. Ia menegaskan bahwa dukungan terhadap sektor sawit harus diberikan secara seimbang, tidak hanya bagi perusahaan perkebunan, tetapi juga bagi petani yang merupakan ujung tombak rantai pasok.
Kelapa sawit merupakan komoditas andalan Indonesia sehingga subsektor ini perlu terus dikembangkan. Ardiansyah menyatakan bahwa perusahaan sawit harus tetap diberi kesempatan untuk berkembang, namun di atas semua itu, petani harus dilindungi. Pesan ini penting karena dalam rantai pasok sawit, petani kerap berada pada posisi paling lemah ketika berhadapan dengan perusahaan dan mekanisme penetapan harga.
Kutai Timur sendiri memiliki sekitar 500 ribu hektare kebun sawit yang terdiri dari perkebunan rakyat, kemitraan, dan milik perusahaan. Skala ini menunjukkan betapa besarnya sawit bagi perekonomian daerah: ratusan ribu hektare kebun berarti ratusan ribu keluarga yang menggantungkan penghidupan pada komoditas ini, baik sebagai petani, pekerja kebun, maupun pelaku usaha pendukung.
Bupati menaruh harapan besar kepada Apkasindo agar tidak sekadar menjadi wadah berkumpul, melainkan menjelma sebagai garda terdepan dalam memperjuangkan harga tandan buah segar (TBS) yang layak, transparan, dan menguntungkan petani. Ia menyampaikan bahwa Pemda ingin Apkasindo menjadi barometer keberadaan petani kelapa sawit di Indonesia, terutama di Kalimantan Timur dan Kutim, sekaligus menjadi pelindung bagi para petani dari praktik penekanan harga yang tidak wajar.
Sementara itu, Ketua DPD Apkasindo Kutim yang baru dilantik, Yan Ipuy, menyampaikan komitmen kepengurusannya untuk bergerak cepat menjawab harapan tersebut. Ia menegaskan bahwa fokus utama organisasi ke depan adalah memperjuangkan kepentingan petani sekaligus meningkatkan kapasitas dan kualitas budi daya mereka.
Selain memperjuangkan harga TBS yang adil, Apkasindo Kutim juga akan rutin mengedukasi petani. Program edukasi ini mencakup teknik penanaman yang baik, peningkatan kualitas buah, serta pemenuhan standar keberlanjutan seperti sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) atau sertifikasi perkebunan sawit berkelanjutan. Langkah ini penting agar petani tidak hanya mendapat harga yang layak, tetapi juga mampu bersaing di pasar yang semakin menuntut standar produksi yang ramah lingkungan.
Yan Ipuy menambahkan bahwa organisasinya ingin meningkatkan kesejahteraan petani dan menjadi wadah untuk menyampaikan berbagai persoalan yang ada, kemudian memfasilitasi penyelesaian persoalan itu kepada pemerintah maupun perusahaan. Dengan peran ganda ini, sebagai pejuang harga sekaligus pendamping peningkatan kapasitas, Apkasindo diharapkan benar-benar hadir dalam keseharian petani, bukan hanya pada seremoni pelantikan.
Sinergi antara Pemkab Kutim dan Apkasindo ini pada akhirnya diuji oleh satu hal: apakah harga TBS yang diterima petani di tingkat kebun benar-benar membaik dan transparan. Pelantikan pengurus baru menjadi awal, dan petani di Kutim kini menanti kerja nyata dari kepengurusan 2026–2031 dalam memperjuangkan harga yang adil dan budi daya yang berkelanjutan.
Apa poin penting dari berita ini?
- Pemkab Kutai Timur memperkuat sinergi dengan DPD Apkasindo setempat untuk meningkatkan kesejahteraan petani kelapa sawit sebagai pilar ekonomi daerah.
- Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman melantik pengurus DPD Apkasindo Kutim periode 2026-2031 di Sangatta dan menegaskan dukungan sektor sawit harus seimbang bagi perusahaan dan petani.
- Kutai Timur memiliki sekitar 500 ribu hektare kebun sawit yang terdiri dari perkebunan rakyat, kemitraan, dan milik perusahaan.
- Apkasindo diharapkan menjadi garda terdepan memperjuangkan harga tandan buah segar yang layak, transparan, dan menguntungkan petani, serta pelindung dari praktik penekanan harga yang tidak wajar.
- Selain harga TBS yang adil, Apkasindo Kutim akan mengedukasi petani tentang teknik penanaman, kualitas buah, dan standar keberlanjutan seperti sertifikasi ISPO.


