Akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) Dedy Permadi merekomendasikan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung layanan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), terutama di wilayah terpencil. Rekomendasi itu disampaikan dalam lokakarya Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea (IKJN) di Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2026, yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bersama Korea Foundation.
Dedy, yang merupakan dosen Hubungan Internasional UGM, menilai AI dapat membantu puskesmas mengatasi keterbatasan tenaga dan akses layanan di daerah terpencil. Dengan dukungan teknologi, puskesmas diharapkan mampu memperluas jangkauan pelayanan, mempercepat pengolahan data kesehatan, dan membantu tenaga kesehatan dalam mengambil keputusan awal sebelum pasien dirujuk ke fasilitas yang lebih lengkap.
Usulan tersebut muncul sebagai tindak lanjut kerja sama Indonesia dan Korea Selatan di bidang AI dan teknologi digital, yang disepakati di Seoul pada 1 April 2026. Kerja sama itu membuka ruang bagi kedua negara untuk bertukar pengetahuan dan praktik baik dalam pemanfaatan teknologi, termasuk penerapannya pada layanan publik seperti kesehatan.
Menurut Dedy, pemanfaatan AI di puskesmas tidak bisa dilepaskan dari kesiapan di lapangan. Ia menekankan perlunya transfer pengetahuan serta kejelasan pelaksanaan kerja sama, agar teknologi yang diadopsi benar-benar sesuai dengan kebutuhan tenaga kesehatan dan masyarakat setempat, bukan sekadar mengikuti tren teknologi.
Tantangan layanan kesehatan di daerah terpencil selama ini berkaitan dengan jarak, keterbatasan tenaga kesehatan, dan sulitnya akses terhadap fasilitas rujukan. AI dipandang dapat menjadi penopang, misalnya melalui pencatatan dan pemantauan data pasien yang lebih rapi, serta dukungan analisis awal yang membantu petugas puskesmas memilah kasus yang membutuhkan penanganan segera.
Namun Dedy mengingatkan bahwa teknologi tetap harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti tenaga kesehatan. Pendampingan, literasi digital, dan tata kelola data yang baik menjadi syarat agar pemanfaatan AI di fasilitas kesehatan berjalan aman dan bermanfaat, terutama ketika menyangkut data pribadi pasien.
Dengan kerja sama Indonesia-Korea yang terus diperkuat, usulan pemanfaatan AI untuk puskesmas diharapkan dapat dikaji lebih lanjut oleh pemerintah dan pemangku kepentingan kesehatan. Jika dirancang dengan matang, teknologi ini berpotensi memperkecil kesenjangan layanan kesehatan antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil di Indonesia.
Apa poin penting dari berita ini?
- Akademisi UGM Dedy Permadi merekomendasikan pemanfaatan AI untuk mendukung layanan puskesmas, terutama di wilayah terpencil.
- Rekomendasi disampaikan dalam lokakarya Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea di Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2026.
- Usulan ini merupakan tindak lanjut kerja sama Indonesia dan Korea Selatan di bidang AI dan teknologi digital yang disepakati di Seoul pada 1 April 2026.
- AI dinilai dapat membantu puskesmas memperluas jangkauan layanan dan mendukung tenaga kesehatan dalam pengambilan keputusan awal.
- Dedy menekankan perlunya transfer pengetahuan dan kejelasan pelaksanaan kerja sama agar teknologi sesuai kebutuhan lapangan.
- Tantangan layanan di daerah terpencil meliputi jarak, keterbatasan tenaga kesehatan, dan sulitnya akses fasilitas rujukan.
- Teknologi ditegaskan sebagai alat bantu, bukan pengganti tenaga kesehatan, dengan pendampingan dan tata kelola data yang baik.


