Investasi domestik Indonesia mencapai hampir Rp2.000 triliun dalam dua tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Capaian itu disampaikan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, dalam sebuah pengarahan presiden di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu lalu.
Menurut Anindya, angka tersebut mencerminkan tingginya kepercayaan kalangan usaha nasional terhadap prospek perekonomian Indonesia. Investasi itu tidak hanya datang dari segelintir perusahaan besar, melainkan juga melibatkan pelaku usaha di segmen menengah.
“Investasi domestik ini juga melibatkan teman-teman kita di segmen menengah. Kami melihat ini semakin memperkuat ketahanan kita,” ujar Anindya, dikutip dari keterangan resmi Sekretariat Presiden. Pernyataan itu menegaskan investasi dalam negeri dipandang sebagai penopang ketahanan ekonomi, bukan sekadar pelengkap modal asing.
Fondasi partisipasi swasta
Anindya menekankan investasi dalam negeri merupakan fondasi penting untuk memperluas partisipasi sektor swasta dalam pembangunan nasional. Ia menilai ruang bagi dunia usaha untuk berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi masih sangat besar.
Gambaran itu terlihat dari struktur ekonomi nasional. Saat ini, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia berada di kisaran Rp25.000 triliun, sementara Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hanya menyumbang sekitar Rp4.000 triliun. Sisanya, sekitar 85 persen aktivitas ekonomi, memberikan peluang bagi dunia usaha untuk memainkan peran yang lebih besar.
Dengan kata lain, APBN saja tidak cukup menggerakkan seluruh roda ekonomi. Investasi swasta dalam negeri menjadi jembatan yang menghubungkan belanja negara dengan aktivitas ekonomi masyarakat, mulai dari industri, perdagangan, hingga jasa.
Suggested read: SPBU Shell Beroperasi Lagi di Bawah Pemilik Baru, Harga Diesel Rp25.420 per Liter
Fokus pada industri masa depan
Lebih lanjut, Anindya menegaskan kembali komitmen Kadin untuk mendorong investasi di industri-industri baru, tanpa mengabaikan penguatan sektor industri yang sudah mapan. Ia menyoroti beberapa sektor yang dinilai sangat menjanjikan, termasuk kendaraan listrik (EV) sebagai salah satu industri masa depan.
Arah ini sejalan dengan upaya memperluas basis industri nasional. Di satu sisi, industri yang sudah berjalan perlu diperkuat agar tetap kompetitif dan menyerap tenaga kerja. Di sisi lain, industri baru seperti kendaraan listrik membuka lapangan kerja, rantai pasok, dan teknologi yang belum banyak digarap sebelumnya.
Bagi Kadin, capaian hampir Rp2.000 triliun dalam dua tahun menjadi bukti fondasi ekonomi kian tangguh. Tantangan berikutnya adalah menjaga kepercayaan itu tetap tumbuh, memastikan investasi tersebar ke segmen menengah dan daerah, serta mengubah angka investasi menjadi lapangan kerja dan kesejahteraan yang dirasakan masyarakat luas.
Suggested read: Rakornas SP Pegadaian Bahas Strategi Dukung Transformasi Menuju 2030
Apa poin penting dari berita ini?
- Investasi domestik Indonesia mencapai hampir Rp2.000 triliun dalam dua tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
- Ketua Umum Kadin Anindya Bakrie menyampaikan capaian itu dalam pengarahan presiden di Hambalang, Kabupaten Bogor, pada Sabtu lalu.
- Investasi tersebut melibatkan segmen menengah dan dinilai memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
- PDB Indonesia berada di kisaran Rp25.000 triliun, sementara APBN hanya menyumbang sekitar Rp4.000 triliun, sehingga 85 persen aktivitas ekonomi menjadi peluang dunia usaha.
- Kadin mendorong investasi di industri baru seperti kendaraan listrik, tanpa mengabaikan penguatan industri yang sudah mapan.


