Gunung Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, kembali erupsi pada Minggu, 1 November 2026, pukul 21.18 WITA. Pos Pengamatan Gunung Api Karangetang mencatat erupsi tersebut dengan tinggi kolom abu letusan yang tidak teramati, dan aktivitasnya masih berlangsung ketika laporan disusun.
Personel Pos Pengamatan Gunung Api Karangetang, Muhamad Fadlan, menjelaskan bahwa erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 50 milimeter dan durasi sementara kurang lebih 1 menit 28 detik. Teramati pula erupsi eksplosif kecil dengan lontaran material pijar setinggi lebih kurang 200 hingga 300 meter di sekitar puncak kawah utara, disertai kolom asap setinggi kurang lebih 1.000 meter yang condong ke arah barat dan barat laut.
Setelah fase eksplosif itu, erupsi efusif berupa guguran lava pijar meluncur ke arah selatan sejauh lebih kurang 200 hingga 700 meter. Ke arah barat dan barat daya, guguran lava mengalir ke Kali Hiung, Kali Sumpihi, Kali Kinali, Kali Pangi, dan Kali Kiawang sejauh lebih kurang 700 hingga 1.000 meter. Sementara ke arah barat laut, lava meluncur menuju Kali Batuare, Kali Batukole, dan Kali Malrbuhe sejauh lebih kurang 500 hingga 700 meter.
Saat ini Gunung Karangetang berada pada status Level II atau Waspada. Masyarakat dan pengunjung atau wisatawan direkomendasikan untuk tidak mendekati, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya, yaitu radius 1,5 kilometer dari puncak kawah dua atau kawah utara dan kawah utama atau kawah selatan, serta area perluasan sektoral ke arah selatan dan barat daya sejauh 2,5 kilometer.
Imbauan itu penting karena guguran lava dan awan panas guguran dapat terjadi sewaktu-waktu dari penumpukan material lava sebelumnya yang kondisinya belum stabil dan mudah runtuh, terutama ke sektor selatan, tenggara, barat, dan barat daya. Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak Gunung Karangetang juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.
Erupsi kali ini bukan yang pertama dalam sepekan terakhir. Dalam laporan pengamatan Minggu, 25 Oktober 2026, tercatat tiga kali letusan, yakni pada pukul 23.04 WITA, pukul 01.24 WITA, dan pukul 03.20 WITA. Rangkaian aktivitas tersebut menunjukkan Karangetang masih aktif, sehingga pemantauan dan kepatuhan terhadap zona bahaya tetap menjadi kunci keselamatan warga di sekitar Pulau Siau.
Apa poin penting dari berita ini?
- Gunung Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, kembali erupsi pada Minggu, 1 November 2026, pukul 21.18 WITA.
- Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 50 milimeter dan durasi sementara kurang lebih 1 menit 28 detik, dengan tinggi kolom abu letusan yang tidak teramati.
- Teramati erupsi eksplosif kecil dengan lontaran material pijar 200 hingga 300 meter di sekitar puncak kawah utara dan kolom asap sekitar 1.000 meter ke arah barat dan barat laut.
- Guguran lava pijar meluncur ke selatan sejauh 200 hingga 700 meter, ke barat dan barat daya hingga 1.000 meter, serta ke barat laut hingga 700 meter.
- Gunung Karangetang berstatus Level II atau Waspada, dengan zona bahaya radius 1,5 kilometer dari kedua kawah dan perluasan sektoral selatan-barat daya sejauh 2,5 kilometer.
- Warga di bantaran sungai yang berhulu di puncak diminta siaga terhadap lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

