Sunday, 1 November 2026
Teknologi

Akademisi Makassar: 90 Persen Naskah Lomba Siswa Terindikasi AI, Daya Kritis dan Otentisitas Terancam

Ilustrasi siswa menulis dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan

Akademisi sekaligus penulis asal Sulawesi Selatan, Anis Kurniawan, mengingatkan generasi muda agar tidak tergantung pada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Ia menilai ketergantungan tersebut berpotensi menggerus kejernihan berpikir, kreativitas, dan otentisitas karya tulis siswa.

Peringatan ini disampaikan Anis berdasarkan pengalamannya sebagai juri lomba penulisan novel dan cerita pendek tingkat siswa yang diikuti 40 peserta. Dari pengamatan selama proses penjurian, ada indikasi kuat penggunaan AI pada sekitar 90 persen naskah, kata Anis di Makassar, Minggu.

Angka itu menjadi temuan yang mengejutkan. Lomba menulis yang seharusnya menjadi ajang mengasah imajinasi dan ketekunan justru diwarnai naskah-naskah yang diduga kuat lahir dari mesin, bukan dari proses berpikir dan menulis peserta sendiri.

Dua sektor yang terdampak

Saat menjadi pemateri dalam Seminar Literasi bertajuk Menjaga Jiwa dalam Aksara, Anis menyebutkan penggunaan AI secara berlebihan telah memengaruhi dua sektor penting, yakni jurnalistik dan pendidikan. Di kedua sektor itu, kemampuan berpikir, menulis, dan menilai kebenaran menjadi modal utama yang tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh mesin.

Dalam dunia pendidikan, bahaya terbesarnya adalah hilangnya proses. Menulis bukan hanya soal menghasilkan teks yang rapi, melainkan soal berlatih merumuskan gagasan, memilih kata, menyusun argumen, dan mempertanggungjawabkan apa yang ditulis. Ketika proses itu diserahkan kepada AI, siswa mungkin mendapatkan naskah yang bagus, tetapi kehilangan kemampuan yang seharusnya dilatih oleh naskah itu.

Dalam dunia jurnalistik, ketergantungan serupa mengancam otentisitas karya. Berita dan tulisan yang lahir tanpa verifikasi, observasi, dan pertimbangan redaksi berisiko menyesatkan pembaca, meski tampilannya meyakinkan.

Suggested read: Investor AI Berburu Asuransi di Tengah Taruhan Pasar Terbesar dalam Sejarah

AI sebagai alat, bukan pengganti berpikir

Peringatan Anis bukan berarti AI harus dijauhi sepenuhnya. Pesan intinya adalah soal ketergantungan: AI boleh membantu, tetapi tidak boleh mengambil alih proses berpikir, berkreasi, dan mempertanggungjawabkan karya. Siswa dan penulis muda perlu tetap menjadi pemilik gagasan, sementara AI diposisikan sebagai alat bantu yang diawasi dan diverifikasi hasilnya.

Seminar literasi tempat Anis berbicara mengusung tema yang sejalan dengan pesan itu: menjaga jiwa dalam aksara. Aksara yang berjiwa lahir dari pengalaman, perenungan, dan kejujuran penulisnya. Tanpa itu, tulisan menjadi sekadar rangkaian kata yang indah tetapi kosong.

Bagi sekolah, orang tua, dan penyelenggara lomba, temuan 90 persen ini menjadi bahan evaluasi. Aturan penggunaan AI, pembinaan proses menulis, dan penilaian yang memperhatikan proses, bukan hanya hasil akhir, menjadi langkah yang perlu dipertimbangkan agar lomba dan pembelajaran kembali mengasah daya kritis generasi muda.

Suggested read: Pengguna AI Meningkat, Peluang Bisnis Terbuka Lewat Asisten Percakapan

Apa poin penting dari berita ini?

  • Akademisi Anis Kurniawan mengingatkan generasi muda agar tidak tergantung pada kecerdasan buatan (AI).
  • Ketergantungan AI berpotensi menggerus kejernihan berpikir, kreativitas, dan otentisitas karya tulis siswa.
  • Sebagai juri lomba novel dan cerpen tingkat siswa dengan 40 peserta, Anis menemukan indikasi kuat penggunaan AI pada sekitar 90 persen naskah.
  • Peringatan itu disampaikan dalam Seminar Literasi bertajuk Menjaga Jiwa dalam Aksara di Makassar, Minggu.
  • Anis menyebut penggunaan AI berlebihan telah memengaruhi dua sektor penting, yakni jurnalistik dan pendidikan.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *