Pemerintah Kota Padangsidimpuan mempercepat pemulihan pascabencana dengan tambahan anggaran sekitar Rp111 miliar dari Transfer ke Daerah (TKD). Anggaran itu diarahkan ke sejumlah sektor prioritas, meliputi pekerjaan umum, perumahan dan permukiman, pendidikan, serta kesehatan, agar pemulihan berjalan sesuai kebutuhan dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
“Melalui TKD Tambahan, Pemko Padangsidimpuan mengarahkan anggaran ke sejumlah sektor prioritas agar pemulihan berjalan sesuai kebutuhan dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat,” ujar perwakilan pemerintah kota dalam keterangannya, Minggu, 1 November 2026. Fokus pemulihan mencakup irigasi, jalan, dan pelayanan publik yang terdampak bencana.
Pada sektor pertanian, pemulihan dilakukan melalui rehabilitasi bendung dan jaringan irigasi Daerah Irigasi Sabungan Julu senilai Rp889,98 juta. Pekerjaan mencakup pembangunan bendung baru dan sayap bendung, normalisasi saluran, serta perbaikan dinding saluran untuk mengembalikan distribusi air ke persawahan warga. Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Kota Padangsidimpuan Arif Budiman menjelaskan bendung tersebut rusak setelah dua kali banjir besar menerjang Sungai Aek Sibontar, sehingga aliran air ke sawah terganggu.
Pemulihan irigasi menjadi kunci karena sawah yang tidak terairi berarti panen yang tertunda dan pendapatan petani yang menyusut. Dengan bendung yang diperbaiki dan saluran yang dinormalisasi, air kembali mengalir ke persawahan dan petani dapat kembali menggarap lahannya. Pemulihan semacam ini sering luput dari perhatian karena tidak sefenomenal pembangunan gedung, padahal dampaknya langsung terasa di dapur warga.
Selain irigasi, tambahan TKD juga menyasar jalan dan pelayanan publik. Jalan yang rusak menghambat mobilitas warga, distribusi barang, dan akses ke sekolah maupun fasilitas kesehatan. Pelayanan publik yang pulih berarti administrasi, pendidikan, dan layanan kesehatan kembali berjalan normal. Kombinasi ketiganya — irigasi, jalan, dan pelayanan publik — menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana harus menyentuh sendi kehidupan sehari-hari, bukan hanya infrastruktur besar.
Ke depan, tantangan Padangsidimpuan adalah memastikan anggaran Rp111 miliar itu terserap tepat waktu, tepat sasaran, dan dapat dipertanggungjawabkan. Pemulihan yang transparan dan terpantau akan menentukan apakah tambahan anggaran ini benar-benar mempercepat kebangkitan kota, atau sekadar menjadi angka dalam laporan. Bagi warga, yang terpenting adalah hasil nyata: air mengalir ke sawah, jalan bisa dilalui, dan layanan publik kembali berfungsi.
Sebelum penanganan permanen dimulai, petani sempat bergotong royong menyusun karung berisi pasir sebagai bendungan darurat agar sebagian air tetap mengalir ke sawah. Penanganan permanen kini berlangsung sejak 9 Oktober 2026 dan ditargetkan selesai sebelum masa kontrak berakhir. Kisah gotong royong itu menunjukkan daya lenting warga, sekaligus menegaskan bahwa perbaikan permanen tidak bisa ditunda terlalu lama.
Apa poin penting dari berita ini?
- Pemko Padangsidimpuan mengelola tambahan TKD sekitar Rp111 miliar untuk mempercepat pemulihan pascabencana.
- Anggaran diarahkan ke pekerjaan umum, perumahan dan permukiman, pendidikan, serta kesehatan.
- Rehabilitasi bendung dan jaringan irigasi Daerah Irigasi Sabungan Julu senilai Rp889,98 juta mencakup bendung baru, sayap bendung, normalisasi saluran, dan perbaikan dinding saluran.
- Bendung rusak setelah dua kali banjir besar menerjang Sungai Aek Sibontar sehingga distribusi air ke persawahan terganggu.
- Pemulihan juga menyasar jalan dan pelayanan publik agar mobilitas warga dan layanan dasar kembali berjalan normal.


