Stevia mulai sering digunakan sebagai pengganti gula putih karena dianggap lebih sehat. Pemanis yang berasal dari tanaman Stevia rebaudiana ini memiliki rasa manis yang jauh lebih kuat dibandingkan gula pasir, tetapi kandungan kalorinya sangat rendah atau nyaris nol. Pertanyaan yang kemudian muncul di masyarakat adalah: benarkah stevia lebih sehat daripada gula putih, dan apa sebenarnya kandungan stevia itu?
Penggunaan stevia mulai mencuat di media sosial karena adanya produk lokal yang mengandung pemanis buatan. Polemik ini menimbulkan pertanyaan di masyarakat tentang apa kandungan stevia yang sebenarnya, dan apakah klaim “lebih sehat” tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Stevia mengandung senyawa pemanis alami yang disebut glikosida steviol. Menurut Kementerian Kesehatan, senyawa ini dapat memiliki tingkat kemanisan sekitar 100 hingga 300 kali lebih tinggi dibandingkan sukrosa atau gula biasa. Artinya, seseorang hanya membutuhkan sedikit stevia untuk mendapatkan rasa manis yang setara dengan gula putih.
Berbeda dengan gula pasir, pemanis stevia yang telah dimurnikan juga hanya menyumbang sedikit atau bahkan tidak menyumbang kalori dalam jumlah penggunaan yang lazim. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menjelaskan bahwa pemanis berintensitas tinggi seperti glikosida steviol umumnya tidak meningkatkan kadar gula darah seperti gula biasa.
Hal ini membuat stevia menjadi alternatif bagi orang yang ingin mengurangi konsumsi gula tambahan. Penggunaannya juga mengurangi jumlah gula yang ditambahkan ke dalam minuman atau makanan, selama stevia benar-benar menggantikan gula dan bukan sekadar dikonsumsi sebagai tambahan. Di sinilah letak kunci yang sering terlewat: manfaat stevia baru terasa bila ia menggantikan gula, bukan bila ia ditambahkan di atas konsumsi gula yang sudah tinggi.
Sementara itu, konsumsi gula bebas secara berlebihan perlu dibatasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar asupan gula bebas dikurangi hingga kurang dari 10 persen dari total energi harian. WHO bahkan menyarankan pengurangan hingga di bawah 5 persen untuk memperoleh manfaat kesehatan tambahan. Gula bebas yang dimaksud mencakup gula yang ditambahkan ke makanan dan minuman, serta gula yang secara alami terdapat dalam madu, sirup, dan jus buah.
Dengan demikian, stevia memang memiliki keunggulan dibandingkan gula putih dari sisi kalori dan dampaknya terhadap gula darah, karena kemanisannya yang sangat tinggi memungkinkan penggunaan dalam jumlah kecil. Namun, stevia bukan alasan untuk mengonsumsi makanan dan minuman manis tanpa batas. Pola makan secara keseluruhan, termasuk seberapa sering dan seberapa banyak gula tambahan dikonsumsi, tetap menjadi penentu utama.
Bagi konsumen, cara paling aman adalah membaca label produk dengan cermat, memastikan pemanis yang digunakan benar-benar menggantikan gula, dan tetap membatasi asupan manis sesuai anjuran WHO. Bila ragu, terutama bagi penderita diabetes atau kondisi kesehatan tertentu, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan adalah langkah yang bijak sebelum mengubah pola konsumsi pemanis sehari-hari.
Apa poin penting dari berita ini?
- Stevia berasal dari tanaman Stevia rebaudiana dan memiliki rasa manis yang jauh lebih kuat dibandingkan gula pasir, tetapi kalorinya sangat rendah atau nyaris nol.
- Stevia mengandung glikosida steviol yang menurut Kementerian Kesehatan memiliki tingkat kemanisan sekitar 100 hingga 300 kali lebih tinggi dibandingkan sukrosa.
- FDA menjelaskan pemanis berintensitas tinggi seperti glikosida steviol umumnya tidak meningkatkan kadar gula darah seperti gula biasa.
- Manfaat stevia terasa bila ia benar-benar menggantikan gula, bukan sekadar dikonsumsi sebagai tambahan di atas konsumsi gula yang sudah tinggi.
- WHO merekomendasikan asupan gula bebas dikurangi hingga kurang dari 10 persen dari total energi harian, bahkan di bawah 5 persen untuk manfaat tambahan.


