Setiap tahun menjelang Halloween, sejumlah rumor lama kembali beredar di media sosial dan percakapan sehari-hari. Pemeriksa fakta Snopes menghimpun tujuh rumor Halloween dalam satu koleksi yang diterbitkan pada 30 Oktober 2026, untuk meluruskan cerita-cerita yang sudah bertahun-tahun berputar, mulai dari ember labu biru hingga batas usia trick-or-treat.
Salah satu rumor yang paling sering muncul adalah anggapan bahwa semua anak yang membawa ember labu berwarna biru saat trick-or-treat pasti penyandang autisme. Snopes menilai klaim ini sebagian besar salah. Yang benar, beberapa keluarga memang pernah mengumumkan kepada komunitas mereka bahwa anak autis mereka akan membawa ember biru pada Halloween. Salah satu contohnya adalah unggahan Facebook Alicia Plumer pada 25 Oktober 2018 tentang putranya yang berusia 21 tahun, BJ, yang menyukai Halloween dan akan membawa ember biru. Namun yang salah adalah anggapan bahwa ember biru merupakan simbol yang dikenal luas untuk autisme. Membawa ember biru saat trick-or-treat tidak serta-merta menandakan penyandang autisme, dan tidak ada kesepakatan umum yang menjadikan warna ember sebagai penanda kondisi tersebut.
Rumor lain yang kembali beredar adalah klaim bahwa hukum di sejumlah wilayah membatasi trick-or-treat hanya untuk anak berusia 12 tahun ke bawah. Snopes menilai klaim ini campuran antara benar dan salah. Yang benar, beberapa pemerintah kota memang memiliki peraturan yang menetapkan batas usia maksimum dan batas waktu untuk kegiatan trick-or-treat pada malam Halloween. Namun yang salah adalah kesan bahwa aturan tersebut ditegakkan secara ketat. Peraturan semacam itu sering kali merupakan regulasi lama yang jarang atau hampir tidak pernah ditegakkan dengan benar-benar mendakwa anak-anak yang melanggarnya. Tidak ada aturan universal mengenai siapa saja yang boleh ikut trick-or-treat, dan kesepakatan umum yang ada lebih bersifat sosial: anak-anak umumnya dianggap sebaiknya beralih ke kegiatan Halloween lain begitu menginjak usia sekolah menengah.
Di luar dua klaim tersebut, koleksi Snopes juga menggali sejarah di balik tradisi Halloween yang kita kenal sekarang. Koleksi ini membahas sejarah kostum Halloween, sejarah mengukir labu, cara mengawetkan labu yang diukir, termasuk perdebatan memakai cuka atau pemutih, serta persoalan jaring laba-laba dekorasi dan dampaknya bagi satwa liar. Berbagai topik ini menunjukkan bahwa banyak hal yang dianggap sekadar tradisi ternyata memiliki sejarah panjang dan sering kali diselimuti kesalahpahaman yang berulang setiap tahun.
Pesan utama dari koleksi ini adalah bahwa Halloween, dengan ritual-ritualnya yang aneh dan sejarahnya yang membentang berabad-abad, memang mudah menjadi lahan subur bagi rumor. Sebagian rumor berawal dari kejadian nyata yang kemudian dibesar-besarkan, sebagian lagi berasal dari aturan lama yang sudah jarang berlaku, dan sebagian lainnya sekadar salah paham yang diwariskan dari tahun ke tahun. Memeriksa kembali klaim-klaim tersebut sebelum menyebarkannya adalah cara sederhana agar perayaan tidak dirusak oleh informasi yang keliru.
Apa poin penting dari berita ini?
- Snopes menghimpun tujuh rumor Halloween dalam koleksi yang diterbitkan 30 Oktober 2026, untuk meluruskan cerita yang kembali beredar setiap tahun.
- Klaim bahwa semua pembawa ember labu biru adalah penyandang autisme dinilai sebagian besar salah, meski beberapa keluarga memang pernah mengumumkan anak autis mereka membawa ember biru.
- Klaim bahwa hukum membatasi trick-or-treat untuk anak 12 tahun ke bawah dinilai campuran, karena sejumlah kota memang punya aturan batas usia tetapi aturan itu jarang ditegakkan.
- Koleksi ini juga membahas sejarah kostum Halloween, sejarah mengukir labu, cara mengawetkan labu, serta jaring laba-laba dekorasi dan satwa liar.
- Banyak rumor Halloween berawal dari kejadian nyata yang dibesar-besarkan atau aturan lama yang sudah jarang berlaku.


