Kehamilan tidak selalu berarti harus berhenti berolahraga. Ibu hamil boleh saja tetap berlari, hanya saja ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian. Pertanyaannya, bagaimana jika bukan sekadar berlari santai, melainkan mengikuti lomba half marathon sejauh 20-an kilometer atau full marathon sepanjang 42-an kilometer?
Keduanya memiliki tuntutan fisik yang berbeda dari olahraga harian. Durasi latihan dan perlombaan yang panjang, intensitas aktivitas, serta risiko kepanasan dan kekurangan cairan membuat keputusan mengikuti lomba perlu dipertimbangkan secara lebih cermat. Kebolehan berolahraga saat hamil tidak bisa langsung diartikan sebagai izin untuk mengikuti lomba dengan jarak puluhan kilometer.
Melansir American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), olahraga umumnya aman bagi perempuan dengan kehamilan sehat yang tidak memiliki kontraindikasi medis atau obstetri. Perempuan yang sudah rutin berlari sebelum hamil mungkin dapat melanjutkan aktivitas tersebut. Meski begitu, panduan umum tentang olahraga selama kehamilan tidak serta-merta menjadi rekomendasi untuk mengikuti lomba maraton.
Mengutip National Health Service (NHS), olahraga selama kehamilan memang membantu menjaga kebugaran, memperbaiki suasana hati dan kualitas tidur, serta mengurangi risiko beberapa komplikasi kehamilan, termasuk diabetes gestasional. Perempuan dengan kehamilan tanpa komplikasi umumnya dianjurkan tetap aktif secara fisik, karena olahraga dapat membantu menjaga kebugaran dan mendukung kesehatan selama kehamilan.
Namun, kondisi setiap ibu hamil berbeda. Perempuan yang telah terbiasa berolahraga sebelum hamil memiliki kondisi awal yang berbeda dari mereka yang sebelumnya jarang melakukan aktivitas fisik. NHS tidak menganjurkan perempuan yang sebelumnya tidak terbiasa berlari untuk mulai melakukan olahraga berat seperti lari saat hamil. Sebaliknya, perempuan yang sudah rutin berlari dapat mempertimbangkan untuk melanjutkannya dengan menyesuaikan kondisi tubuh.
Sebagai panduan umum, NHS merekomendasikan sekitar 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu selama kehamilan. Angka ini merupakan target aktivitas fisik secara umum, bukan rekomendasi untuk berlari jarak jauh atau mengikuti lomba maraton. Keputusan untuk mengikuti lomba perlu mempertimbangkan kondisi kehamilan, riwayat latihan, intensitas, serta durasi aktivitas.
Ibu hamil yang ingin melanjutkan kebiasaan berlari perlu menyesuaikan latihan dengan kondisi tubuh dan usia kehamilan. Aktivitas berat berdurasi lebih dari 45 menit dapat meningkatkan risiko hipoglikemia atau kadar gula darah rendah. Selain mencukupi kebutuhan energi, ibu hamil perlu menjaga hidrasi dan menghindari suhu panas berlebihan selama beraktivitas.
Sebaiknya ibu hamil tidak memaksakan diri. Jika lari terasa tidak nyaman, berjalan atau berenang dapat menjadi alternatif yang lebih aman untuk tetap aktif. Pada akhirnya, keputusan mengikuti lomba maraton saat hamil sebaiknya dibicarakan dengan dokter kandungan yang memahami kondisi kehamilan masing-masing, karena setiap kehamilan memiliki risiko dan kebutuhan yang berbeda. Mendengarkan sinyal tubuh dan mengutamakan keselamatan ibu dan janin jauh lebih penting daripada sekadar menyelesaikan jarak lomba.
Apa poin penting dari berita ini?
- Kehamilan tidak selalu berarti harus berhenti berolahraga, namun lomba half marathon 20-an kilometer atau full marathon 42-an kilometer memiliki tuntutan fisik yang berbeda dari olahraga harian.
- Melansir ACOG, olahraga umumnya aman bagi perempuan dengan kehamilan sehat yang tidak memiliki kontraindikasi medis atau obstetri.
- NHS tidak menganjurkan perempuan yang sebelumnya tidak terbiasa berlari untuk mulai melakukan olahraga berat seperti lari saat hamil.
- NHS merekomendasikan sekitar 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu selama kehamilan, bukan rekomendasi untuk berlari jarak jauh atau mengikuti lomba maraton.
- Aktivitas berat berdurasi lebih dari 45 menit dapat meningkatkan risiko hipoglikemia, sehingga ibu hamil perlu menjaga hidrasi dan menghindari suhu panas berlebihan.


