Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa hujan yang mengguyur wilayah Jabodetabek belakangan ini bukan disebabkan oleh operasi modifikasi cuaca. Hujan yang turun saat ini masih merupakan bagian dari fase peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Komunikasi dan Layanan Informasi BMKG, Mega Sirait, menjelaskan bahwa penetapan awal musim hujan harus memenuhi sejumlah kriteria curah hujan. BMKG menetapkan suatu wilayah memasuki musim hujan apabila curah hujan melampaui 50 milimeter per dasarian atau periode 10 hari selama tiga dasarian berturut-turut, atau mencapai lebih dari 150 milimeter dalam satu bulan.
Karena kriteria tersebut belum terpenuhi, hujan yang terjadi saat ini di Jabodetabek belum menunjukkan awal musim hujan yang sebenarnya. BMKG menyatakan hujan yang mulai meningkat di sejumlah wilayah Jabodetabek belum menandakan dimulainya musim penghujan.
Untuk wilayah DKI Jakarta, awal musim hujan diprediksi tidak berlangsung serentak. Wilayah selatan diperkirakan lebih dahulu memasuki musim hujan pada dasarian kedua November, sedangkan wilayah utara diperkirakan baru mengalaminya pada dasarian ketiga Desember. Secara keseluruhan, periode peralihan musim di Jakarta diperkirakan berlangsung mulai dasarian kedua November hingga dasarian ketiga Desember 2026, dan musim hujan diprediksi berlangsung hingga Februari 2027.
Wilayah yang diperkirakan memasuki musim hujan lebih dahulu pada dasarian kedua November meliputi Jakarta Selatan, yaitu Cilandak, Kebayoran Baru, Mampang Prapatan, Pancoran, Jagakarsa, dan Pasar Minggu, serta Jakarta Timur, yaitu Cipayung, Kramat Jati, Ciracas, dan Pasar Rebo. Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Rajab, menjelaskan bahwa kondisi geografis lokal menjadi salah satu faktornya, yaitu keberadaan dataran tinggi Gunung Gede, Pangrango, dan Gunung Salak di sebelah selatan DKI, di samping faktor angin dan kelembapan.
Wilayah berikutnya diperkirakan memasuki musim hujan pada dasarian pertama Desember, mencakup Jakarta Barat, Jakarta Pusat, sebagian Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan lainnya, disusul wilayah Kepulauan Seribu serta sebagian Jakarta Barat, Pusat, Timur, dan Utara pada dasarian ketiga Desember.
BMKG mengimbau masyarakat untuk memantau pembaruan prakiraan cuaca melalui kanal resmi BMKG dan akun media sosial InfoBMKG, karena kondisi atmosfer dapat berubah sewaktu-waktu. Masyarakat juga diminta waspada terhadap potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang selama masa peralihan ini.
Apa poin penting dari berita ini?
- BMKG menegaskan hujan di Jabodetabek bukan disebabkan oleh operasi modifikasi cuaca.
- Hujan saat ini masih merupakan fase peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.
- Kriteria awal musim hujan adalah curah hujan di atas 50 milimeter per dasarian selama tiga dasarian berturut-turut.
- Jakarta Selatan dan Jakarta Timur diperkirakan memasuki musim hujan lebih dahulu pada dasarian kedua November, sedangkan wilayah utara pada akhir Desember.
- Masyarakat diimbau memantau pembaruan prakiraan melalui kanal resmi BMKG dan InfoBMKG.


