Monday, 2 November 2026
Hollywood

Sutradara Perempuan Soroti Diskriminasi Pendanaan Film dalam Diskusi Festival Film Tokyo

Sutradara Shahrbanoo Sadat dan Jelena Maksimovic dalam diskusi di Festival Film Internasional Tokyo

Dua sutradara perempuan menyuarakan persoalan yang selama ini kerap dianggap biasa dalam industri film: ketimpangan pendanaan bagi sineas perempuan. Sutradara Afghanistan Shahrbanoo Sadat dan sutradara Serbia Jelena Maksimovic menyampaikan pandangan itu dalam sebuah diskusi di Festival Film Internasional Tokyo, di TIFF Lounge, Tokyo Midtown Hibiya.

Diskusi yang dipandu oleh akademisi film Takasaki Ikuko itu membahas masa depan sinema perempuan. Di hadapan penonton festival, Sadat dan Maksimovic sepakat bahwa hambatan utama bukan hanya soal siapa yang dipilih festival, melainkan sudah dimulai jauh lebih awal, yakni pada tahap pengembangan proyek dan pengajuan pendanaan.

Sadat menilai lembaga dan komite pendanaan masih memperlakukan kesenjangan gender sebagai sesuatu yang normal. Menurutnya, sutradara perempuan dituntut memenuhi standar yang lebih tinggi dibandingkan rekan laki-laki mereka untuk mendapatkan dukungan yang sama. Akibatnya, banyak proyek yang sudah sejak awal berada dalam posisi yang tidak setara.

Pandangan itu diperkuat dengan gambaran dari festival besar tahun ini. Dari 20 film yang berkompetisi di Festival Film Venesia tahun tersebut, hanya satu film yang disutradarai perempuan, yakni Woman Unknown karya May el-Toukhy, yang kemudian memenangkan Golden Lion. Fakta itu dipakai sebagai bukti bahwa ketimpangan bukan sekadar perasaan, melainkan terlihat jelas dalam angka.

Maksimovic menggambarkan situasi yang tidak kalah sulit di negaranya. Ia menyebut pendanaan film di Serbia terbatas, pencarian mitra koproduksi tidak mudah, dan dirinya kerap enggan mengajukan pendanaan besar karena sudah menduga akan ditolak. Keraguan semacam itu, menurutnya, terbentuk dari pengalaman panjang menghadapi sistem yang terasa tertutup.

Situasi di Serbia juga berkaitan dengan kondisi politik yang lebih luas. Maksimovic menyebut pendanaan Film Center Serbia dipangkas setelah para sineas mendukung protes mahasiswa antikorupsi, yang muncul menyusul runtuhnya kanopi stasiun kereta Novi Sad pada 2024 yang menewaskan banyak orang. Ia menyambut kemenangan mahasiswa dalam pemilihan sela 25 Oktober, meski mengingatkan bahwa perbaikan tidak akan terjadi dalam waktu singkat.

Di tengah diskusi itu, kedua sutradara juga membawa karya terbaru mereka. Film terbaru Sadat, No Good Men, membuka Festival Film Berlin ke-76. Sementara itu, film Maksimovic, Until the Day Ends, diputar di seksi Orizzonti Festival Film Venesia. Kehadiran dua karya itu di festival besar menunjukkan bahwa persoalan pendanaan tidak berkaitan dengan kualitas karya, melainkan dengan akses menuju produksi.

Diskusi di Tokyo ini pada akhirnya menegaskan satu pesan: kesetaraan dalam sinema perempuan tidak cukup diukur dari siapa yang tampil di karpet merah. Selama tahap pengembangan dan pendanaan masih timpang, sineas perempuan akan terus memulai perlombaan dari garis yang berbeda.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Shahrbanoo Sadat dan Jelena Maksimovic membahas diskriminasi pendanaan film bagi sutradara perempuan di Festival Film Internasional Tokyo.
  • Keduanya menilai ketimpangan sudah dimulai pada tahap pengembangan proyek, bukan hanya pada seleksi festival.
  • Sadat menyebut lembaga pendanaan memperlakukan kesenjangan gender sebagai hal normal dan menuntut standar lebih tinggi dari sutradara perempuan.
  • Dari 20 film kompetisi Venesia tahun itu, hanya satu film karya sutradara perempuan, Woman Unknown, yang kemudian memenangkan Golden Lion.
  • Maksimovic menggambarkan pendanaan Serbia yang terbatas dan keengganan mengajukan pendanaan besar karena khawatir ditolak.
  • Film terbaru Sadat, No Good Men, membuka Berlinale ke-76, sedangkan Until the Day Ends karya Maksimovic diputar di Orizzonti Venesia.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *