Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sejak Jumat, 30 Oktober 2026, malam hingga Sabtu, 31 Oktober 2026, dini hari memicu serangkaian bencana di sejumlah wilayah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas mencatat sedikitnya 21 kejadian bencana hingga Sabtu pukul 08.47 WIB, termasuk kerusakan tanggul dan dampak terhadap tiga sekolah dasar.
Dari total kejadian tersebut, terdapat 14 tanah longsor, lima banjir, dan dua peristiwa cuaca ekstrem. Petugas masih melakukan kaji cepat untuk mengidentifikasi kerusakan serta dampak yang ditimbulkan di sejumlah lokasi terdampak, sehingga angka tersebut masih bersifat sementara karena pendataan terus berjalan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Banyumas, Abdul Ladjis, menyampaikan bahwa tim penanggulangan bencana telah diterjunkan untuk mengetahui kondisi lapangan dan mengidentifikasi kebutuhan warga. Menurut Abdul, petugas BPBD saat ini masih melakukan asesmen atau kaji cepat untuk mengetahui dampak dari kejadian bencana tersebut di berbagai lokasi.
Bencana tersebar di delapan kecamatan, yakni Wangon, Kebasen, Somagede, Purwojati, Ajibarang, Lumbir, Kemranjen, dan Rawalo. Kejadian yang dilaporkan mencakup longsor, luapan sungai, tanggul jebol, talud longsor, serta pohon tumbang yang menghambat akses jalan. Sejumlah titik longsor berada di Desa Klinting, Kecamatan Somagede; Desa Canduk, Kecamatan Lumbir; dan Desa Kracak, Kecamatan Ajibarang.
Tiga sekolah dasar yang dilaporkan terdampak adalah SDN 3 Pageralang, SDN 4 Tipar Kidul, dan SDN Karangsari. Hingga laporan awal disampaikan, belum tersedia rincian menyeluruh mengenai tingkat kerusakan setiap sekolah maupun keputusan penghentian sementara aktivitas pembelajaran, karena petugas masih melakukan pendataan di lapangan.
Selain tanah longsor, banjir akibat meluapnya aliran sungai terjadi di sejumlah titik. Di Kecamatan Wangon, banjir dilaporkan melanda Desa Pengadegan, Desa Klapagading Kulon, serta kawasan sekitar SMP Negeri Wangon. Laporan terpisah dari Desa Wangon menyebut luapan Sungai Gandu dan Sungai Berem menyebabkan sedikitnya 12 rumah terdampak genangan dengan ketinggian sekitar 30 hingga 60 sentimeter, dan tembok keliling SMK NU 1 Maarif Wangon roboh sepanjang sekitar tiga meter akibat dampak banjir.
Di Kecamatan Kebasen, tanggul Sungai Jimblem yang berada di Desa Sawangan dilaporkan jebol. Adapun pohon tumbang di Desa Rawaheng, Kecamatan Wangon, menutup akses jalan raya sehingga mengganggu jalur transportasi warga. Banjir luapan juga dilaporkan terjadi di Desa Gerduren, Kecamatan Purwojati, serta Desa Pengadegan dan Desa Klapagading Kulon di Kecamatan Wangon.
Hingga laporan BPBD pada Sabtu pagi, data menyeluruh mengenai jumlah warga terdampak, pengungsian, dan korban di tingkat kabupaten belum dirinci dalam laporan awal yang dipublikasikan. BPBD mengingatkan bahwa sejumlah wilayah pegunungan di Banyumas memiliki ancaman longsor yang perlu mendapat perhatian khusus, berdasarkan pemetaan yang diumumkan pada Januari 2026, yakni 21 kecamatan berada pada zona potensi gerakan tanah sedang hingga tinggi, sementara 22 kecamatan memiliki potensi banjir pada kategori serupa.
Apa poin penting dari berita ini?
- Hujan deras sejak Jumat, 30 Oktober 2026, malam hingga Sabtu, 31 Oktober 2026, dini hari memicu 21 kejadian bencana di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, hingga pukul 08.47 WIB.
- Dari 21 kejadian itu, 14 merupakan tanah longsor, lima banjir, dan dua cuaca ekstrem, dan angka ini masih sementara karena petugas masih melakukan kaji cepat.
- Bencana tersebar di delapan kecamatan, yakni Wangon, Kebasen, Somagede, Purwojati, Ajibarang, Lumbir, Kemranjen, dan Rawalo.
- Tiga sekolah dasar terdampak adalah SDN 3 Pageralang, SDN 4 Tipar Kidul, dan SDN Karangsari, sementara tanggul Sungai Jimblem di Desa Sawangan, Kebasen, dilaporkan jebol.
- Di Wangon, luapan Sungai Gandu dan Sungai Berem menggenangi sedikitnya 12 rumah setinggi 30 hingga 60 sentimeter, dan pohon tumbang di Desa Rawaheng menutup akses jalan raya.


