Film animasi Magic Atlas karya seniman dan sineas asal Tiongkok, Sun Xun, mencetak sejarah di Festival Film Internasional Tokyo. Film tersebut menjadi film animasi pertama yang terpilih masuk kompetisi festival itu, sebuah capaian yang tidak pernah dibayangkan Sun Xun sendiri ketika mengerjakannya. Kabar ini dilaporkan pada 1 November 2026, di tengah berlangsungnya festival di Tokyo.
Magic Atlas digarap selama satu dekade. Sun Xun menyebut proyek ini sebagai momen all-in dalam hidupnya sebagai kreator, karya yang menuntut seluruh daya, waktu, dan sumber dayanya. Ia bahkan mengerahkan seluruh tabungannya untuk menyelesaikan film ini. Ketika pandemi membuat galeri-galeri tutup dan penjualan karya seninya terhenti, ia harus mencari pembeli sendiri dan mengambil pinjaman agar produksi tetap berjalan.
Film ini bersetting di Luocha, sebuah kekaisaran tambang batu bara tempat terbang dilarang. Setiap 60 tahun, sebuah festival membuat penduduknya tidak mampu mengingat era sebelumnya. Seorang pesulap yang ditangkap kemudian bertemu seorang anak yatim di penjara dan memberinya buku Magic Atlas, yang menuntun sang anak menuju masa lalu yang coba dihapus kekaisaran itu.
Secara visual, Magic Atlas bergerak di antara cetakan cukil kayu, lukisan tinta, dan warna-warna cerah. Gambar-gambarnya sering kali mengerjakan apa yang tidak dijelaskan plot secara gamblang, dengan merujuk pada tradisi seni dan visual dari berbagai periode dan budaya. Sun Xun sendiri menegaskan ia tidak pernah menganggap karyanya sekadar film animasi, melainkan pertemuan banyak bentuk seni, dan animasi hanyalah label bentuknya.
Proses kreatif film ini dibentuk oleh peristiwa global, termasuk pandemi dan perang di Ukraina, serta perubahan pribadi Sun Xun, termasuk perpindahannya memeluk agama Buddha. Alih-alih mengomentari satu peristiwa tertentu, ia meramu berbagai pengaruh budaya dan politik untuk merefleksikan perpecahan yang ia lihat di dunia. Film ini juga menghadirkan citra peradaban kuno, termasuk piramida, bersama unsur-unsur mitologis.
Bagi Sun Xun, penyelesaian film ini juga bersifat pribadi. Ia berharap dapat menuntaskannya sebelum anaknya tumbuh besar dan selagi orang tuanya masih hidup. Sayangnya, ayahnya meninggal satu tahun sebelum film selesai. Harapan itu kini berbuah pengakuan: panitia festival memahami usaha yang ia curahkan, dan Magic Atlas berdiri sebagai film animasi pertama di kompetisi Tokyo.
Menurut Sun Xun, film tidak bisa menyoroti realitas secara langsung, tetapi bisa mengambil pandangan yang lebih luas tentang bagaimana manusia memahami dunia. Lewat Magic Atlas, pandangan itu diwujudkan dalam kisah tentang ingatan yang dihapus, kekuasaan yang mengendalikan masa lalu, dan seorang anak yang menemukan jalan kembali lewat sebuah buku.
Apa poin penting dari berita ini?
- Magic Atlas karya Sun Xun menjadi film animasi pertama yang terpilih di kompetisi Festival Film Internasional Tokyo.
- Film ini digarap selama satu dekade dan dibiayai Sun Xun dengan seluruh tabungannya, pinjaman, dan penjualan karya sendiri saat pandemi.
- Ceritanya bersetting di Luocha, kekaisaran tambang batu bara tempat terbang dilarang dan ingatan era sebelumnya dihapus setiap 60 tahun.
- Seorang pesulap yang ditangkap memberi buku Magic Atlas kepada anak yatim di penjara, menuntunnya ke masa lalu yang coba dihapus.
- Visual film bergerak antara cukil kayu, lukisan tinta, dan warna cerah, merujuk tradisi seni berbagai periode dan budaya.
- Sun Xun berharap menyelesaikan film sebelum anaknya tumbuh besar dan selagi orang tuanya hidup, tetapi ayahnya wafat setahun sebelum film rampung.

