Saturday, 31 October 2026
Lingkungan

Tebing 30 Meter Longsor di Cisarua, 10 Rumah Terancam Longsor Susulan

Petugas memeriksa tebing longsor di tepi jurang dekat permukiman

Tebing setinggi sekitar 30 meter longsor di Kampung Cisarua Hilir, RT 04/03, Desa Sadangmekar, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Selasa (27/10/2026) malam. Longsoran tersebut mengancam 10 rumah yang dihuni 11 kepala keluarga di permukiman yang berada dekat dengan tebing.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bandung Barat menemukan retakan tanah sepanjang kurang lebih 50 meter di sekitar lokasi longsor. Kondisi tanah yang masih labil membuat permukiman warga berisiko terdampak pergerakan tanah lanjutan, sehingga ancaman longsor susulan masih membayangi warga di kampung tersebut.

Akibat ancaman tersebut, satu rumah yang dihuni dua kepala keluarga telah ditinggalkan penghuninya. Keluarga Eyep dan Ma Ari memilih meninggalkan rumah mereka demi keselamatan, sementara rumah-rumah lain di sekitar lokasi tetap dalam pemantauan karena berada dalam jangkauan potensi longsoran berikutnya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Bandung Barat, Yoga Ali Imbran, mengatakan longsoran mengancam 10 rumah dengan jumlah 11 kepala keluarga di Kampung Cisarua Hilir, Desa Sadangmekar, Kecamatan Cisarua. Pernyataan itu menegaskan skala ancaman yang dihadapi warga, sekaligus menjadi dasar bagi aparat untuk terus memantau pergerakan tanah di lokasi.

BPBD menduga longsor dipicu hujan berintensitas tinggi yang mengguyur kawasan tersebut. Hujan deras yang turun dalam waktu lama membuat tanah di lereng menjadi jenuh air dan kehilangan daya ikatnya, sehingga tebing yang berada dekat permukiman akhirnya runtuh. Kondisi seperti ini umum terjadi pada musim peralihan, ketika curah hujan meningkat dan tanah di kawasan perbukitan menjadi lebih rentan bergerak.

Bagi warga yang tinggal di sekitar lereng dan tebing, tanda-tanda awal seperti retakan tanah, rembesan air yang tidak biasa, dan bunyi gemuruh dari arah bukit perlu diwaspadai sebagai peringatan dini. Warga diminta menjauhi lereng dan tebing yang berpotensi mengalami pergerakan tanah, serta segera melapor kepada aparat bila menemukan retakan baru atau perubahan kondisi tanah di sekitar rumah mereka.

Pemerintah daerah melalui BPBD terus memantau kondisi lokasi longsor di Cisarua Hilir. Pemantauan ini penting karena pergerakan tanah susulan dapat terjadi tanpa tanda yang jelas, terutama bila hujan kembali turun dengan intensitas tinggi. Warga yang rumahnya terancam juga perlu menyiapkan rencana evakuasi mandiri, termasuk mengamankan dokumen penting dan barang berharga ke tempat yang lebih aman.

Peristiwa di Cisarua menjadi pengingat bahwa kawasan perbukitan di Bandung Barat memiliki kerentanan terhadap longsor, terutama pada musim hujan. Penataan lereng, pengelolaan drainase, dan pemantauan retakan tanah secara berkala menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko, di samping kesiapsiagaan warga yang tinggal di zona rawan.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Tebing setinggi sekitar 30 meter longsor di Kampung Cisarua Hilir, Desa Sadangmekar, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Selasa (27/10/2026) malam.
  • Longsoran mengancam 10 rumah yang dihuni 11 kepala keluarga, dan BPBD menemukan retakan tanah sepanjang kurang lebih 50 meter.
  • Satu rumah yang dihuni dua kepala keluarga, yakni keluarga Eyep dan Ma Ari, telah ditinggalkan penghuninya.
  • BPBD menduga longsor dipicu hujan berintensitas tinggi yang membuat kondisi tanah menjadi labil.
  • Warga diminta menjauhi lereng dan tebing yang berpotensi mengalami pergerakan tanah serta melapor bila menemukan retakan baru.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *