Saturday, 31 October 2026
Teknologi

Binance Bekukan Aset Usai Peretasan, Pelacak Kripto Duga Peretas Korea Utara

Ilustrasi peretas bertudung di depan laptop dengan kode digital

Pengelola bursa kripto Binance membekukan sementara aset kripto lantaran terindikasi terkena serangan siber. Mereka menduga kelompok hacker dari Korea Utara berada di balik aksi tersebut, berdasarkan temuan awal dari penyelidikan yang masih berjalan.

Binance mengatakan bahwa mereka mulai memulihkan aset yang terdampak. Perusahaan juga terus bekerja sama dengan aparat penegak hukum dan perusahaan intelijen blockchain untuk melacak dana hasil pencurian lainnya.

Hasil investigasi awal menunjukkan bahwa peretasan tersebut kemungkinan berasal dari laptop milik seorang insinyur. Kondisi ini memungkinkan pelaku mengakses wadah layanan dan mengirimkan transaksi penarikan tanpa izin.

Menurut laporan CNN, sejumlah perusahaan pelacak transaksi kripto juga menemukan indikasi bahwa serangan tersebut berasal dari Korea Utara berdasarkan bukti yang ditemukan di blockchain. Blockchain mencatat jejak transaksi secara terbuka sehingga pola pergerakan dana dapat dianalisis oleh para pelacak.

Perusahaan pelacak transaksi kripto TRM Labs mengaitkan pencurian tersebut dengan kelompok hacker elite Korea Utara. Kesimpulan itu didasarkan pada intelijen on-chain dan off-chain yang kuat.

TRM Labs juga menyebut bahwa sejumlah karakteristik serangan itu memiliki kemiripan dengan aksi peretasan sebelumnya yang dikaitkan dengan Korea Utara. Kemiripan pola serangan menjadi salah satu petunjuk penting dalam penelusuran pelaku kejahatan siber.

Pangolin Intelligence, perusahaan pelacak blockchain yang berbasis di Singapura, juga meyakini bahwa unit peretas Korea Utara merupakan dalang serangan tersebut. Seorang analis Pangolin Intelligence yang meminta identitasnya tidak diungkap mengatakan kesimpulan itu diperoleh setelah menganalisis aktivitas transaksi di blockchain yang berkaitan dengan peretasan tersebut dan membandingkannya dengan informasi dari sejumlah insiden sebelumnya.

Analis tersebut mengatakan bahwa permainan kucing-kucingan ini baru saja dimulai. Ia menambahkan bahwa Korea Utara kemungkinan akan memanfaatkan jaringan organisasi pencucian uang untuk mengubah aset kripto hasil pencurian menjadi uang yang dapat digunakan.

Perusahaan pelacak kripto lainnya, Chainalysis, mengaku sedang memantau pergerakan dana hasil pencurian yang berpindah melalui sejumlah jaringan blockchain, termasuk Bitcoin dan Ethereum. Juru bicara Chainalysis mengatakan bahwa pihaknya meyakini Korea Utara berada di balik serangan tersebut.

CNN sudah menghubungi perwakilan Korea Utara di Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk meminta tanggapan. Pyongyang sebelumnya telah membantah tuduhan keterlibatan dalam berbagai aksi peretasan.

Sementara itu, FBI turut memonitor kasus ini. FBI mengatakan bahwa mereka mengetahui insiden tersebut dan tengah bekerja sama dengan mitra terkait dari sektor pemerintah maupun swasta untuk memahami cakupan aktivitas tersebut, mengevaluasi potensi dampaknya, serta mengoordinasikan langkah-langkah investigasi yang diperlukan.

Ini bukan serangan siber pertama yang melibatkan hacker asal Korea Utara. Peretas Korea Utara sebelumnya juga dituding sebagai pelaku pencurian kripto terbesar yang tercatat sebelum insiden Binance. Pada Februari 2025, mereka diduga mencuri aset senilai 1,5 miliar dolar AS dari Bybit, bursa mata uang kripto besar lainnya. Dalam kasus tersebut, para pelaku mencuri aset senilai sebagian besar produk domestik bruto tahunan Korea Utara yang dilaporkan, hanya dalam hitungan menit.

Kelompok peretas Korea Utara dikenal memiliki kemampuan tinggi dan menjadi salah satu sumber pemasukan penting bagi negara yang memiliki senjata nuklir tersebut. Negara itu juga tengah menghadapi berbagai sanksi internasional, sehingga pencurian aset digital diduga menjadi salah satu cara untuk memperoleh dana di tengah keterbatasan akses keuangan formal.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Binance membekukan sementara aset kripto lantaran terindikasi terkena serangan siber yang diduga dilakukan hacker Korea Utara.
  • Investigasi awal menunjukkan peretasan kemungkinan berasal dari laptop milik seorang insinyur sehingga pelaku bisa mengirimkan transaksi penarikan tanpa izin.
  • TRM Labs, Pangolin Intelligence, dan Chainalysis meyakini unit peretas Korea Utara berada di balik serangan tersebut berdasarkan analisis blockchain.
  • FBI turut memonitor kasus ini dan bekerja sama dengan mitra pemerintah maupun swasta untuk memahami cakupan aktivitas tersebut.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *