Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih bergerak pada tren pelemahan dan berkutat di posisi Rp18.100-an per dolar AS. Pengamat menilai ketegangan politik dalam negeri yang diwarnai aksi demonstrasi masyarakat turut menjadi faktor yang menekan mata uang Garuda.
Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 10 poin atau 0,06 persen menuju level Rp18.147 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (30/10/2026). Rupiah sempat menguat tipis pada perdagangan sebelumnya di posisi Rp18.137 per dolar AS. Pada pekan ini, rupiah bahkan mencapai titik terendah sepanjang masa (all time low) yang nyaris menyentuh Rp18.200 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai ketegangan politik yang terus berlanjut di tengah aksi protes mahasiswa di berbagai kota besar sejak awal Oktober menjadi salah satu faktor yang menambah ketidakpastian ekonomi Indonesia. Aksi demonstrasi tersebut mencerminkan adanya ketidakpuasan sebagian masyarakat terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk penanganan kebakaran hutan, persoalan lingkungan, serta penggunaan anggaran negara untuk berbagai program pemerintah.
Menurut Ibrahim, perkembangan politik ini perlu diperhatikan karena stabilitas politik memiliki hubungan erat dengan kepercayaan investor dan kondisi perekonomian nasional. Pemerintah dinilai perlu membuka ruang dialog dengan mahasiswa dan masyarakat, mengevaluasi kebijakan yang menjadi tuntutan demonstran, serta menjaga agar aksi penyampaian pendapat berlangsung aman dan kondusif.
Apabila ketegangan politik dapat dikelola dengan baik, kepercayaan investor diharapkan dapat kembali pulih. Sebaliknya, jika situasi terus berlarut-larut, tekanan terhadap rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), investasi, dan perekonomian Indonesia berpotensi semakin besar.
Di samping faktor politik, Ibrahim menyebut faktor internal lainnya yang memengaruhi pelemahan rupiah, yakni ekspektasi tingkat inflasi yang kemungkinan terkerek serta kaitannya dengan keputusan Bank Indonesia (BI) dalam menentukan kebijakan suku bunga acuannya. Kekhawatiran inflasi semakin meningkat menjelang pengumuman data inflasi Oktober pada pekan depan.
Hal ini menjadi perhatian pelaku pasar karena inflasi yang tinggi dapat memengaruhi keputusan Bank Indonesia dalam menentukan suku bunga. Secara sederhana, jika harga barang dan kebutuhan pokok terus naik, daya beli masyarakat akan melemah. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah dapat membuat biaya produksi serta harga barang semakin mahal.
Kombinasi tekanan dari dalam negeri dan dari pasar global membuat rupiah berada dalam posisi yang rentan. Tekanan terhadap rupiah tidak hanya berdampak pada nilai tukar semata, tetapi juga pada biaya impor, harga barang, dan sentimen investor terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan.
Karena itu, pengelolaan ketegangan politik, keterbukaan dialog, dan kejelasan arah kebijakan ekonomi menjadi kunci untuk meredakan tekanan terhadap rupiah. Pasar akan membaca sinyal stabilitas dari pemerintah, dan sinyal itulah yang pada akhirnya menentukan apakah rupiah mampu keluar dari kisaran Rp18.100-an atau justru semakin tertekan.
Apa poin penting dari berita ini?
- Nilai tukar rupiah masih berkutat di posisi Rp18.100-an per dolar AS dan bergerak pada tren pelemahan.
- Rupiah melemah ke Rp18.147 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (30/10/2026), setelah sempat berada di Rp18.137 per dolar AS.
- Pada pekan ini rupiah mencapai titik terendah sepanjang masa yang nyaris menyentuh Rp18.200 per dolar AS.
- Pengamat Ibrahim Assuaibi menilai ketegangan politik dan aksi demonstrasi sejak awal Oktober menambah ketidakpastian ekonomi dan menekan rupiah.
- Ekspektasi inflasi dan keputusan suku bunga Bank Indonesia juga menjadi faktor yang memengaruhi pelemahan rupiah.


