Sutradara Milcho Manchevski membawa film terbarunya, “Sister Brother Manhole Cover”, ke kompetisi utama Festival Film Internasional Tokyo. Dalam wawancara di sela festival yang berlangsung pada akhir Oktober 2026 itu, ia berbicara panjang tentang film kompetisinya, pengalamannya masuk daftar hitam, serta kritiknya terhadap apa yang ia sebut sebagai penyakit neo-sosialisme dalam dunia perfilman. Percakapan itu memberi gambaran langka tentang seorang sutradara yang karya-karyanya selalu berakar pada keluarga, ingatan, dan sejarah.
“Sister Brother Manhole Cover” menjadi pusat perhatian karena masuk kompetisi utama Tokyo, salah satu festival film paling bergengsi di Asia. Keikutsertaan dalam kompetisi utama berarti film tersebut bersaing langsung dengan karya-karya terbaik dari berbagai negara untuk memperebutkan penghargaan utama festival. Bagi sineas independen, panggung seperti ini sangat berharga: ia mempertemukan film dengan penonton internasional, kritikus, dan distributor dari seluruh dunia.
Salah satu tema yang dibahas Manchevski adalah kehadiran sosok ibu dalam cerita-ceritanya. Ia menjelaskan mengapa figur ibu begitu sering muncul dalam karya-karyanya, dan bagaimana hubungan keluarga menjadi lensa untuk memahami sejarah yang lebih besar. Dalam film-filmnya, kisah personal jarang berdiri sendiri: ia selalu terhubung dengan pergolakan sosial, perang, migrasi, dan perubahan politik yang membentuk kehidupan tokoh-tokohnya.
Topik lain yang ia angkat adalah pengalamannya masuk daftar hitam. Manchevski bercerita tentang masa-masa ketika aksesnya ke industri dibatasi, dan bagaimana pengalaman itu memengaruhi cara ia memandang kebebasan berkarya. Daftar hitam dalam dunia film, baik yang formal maupun informal, dapat menghambat pendanaan, distribusi, dan kesempatan tayang. Bagi sutradara, pengalaman semacam itu bukan sekadar hambatan karier, tetapi juga membentuk sikap terhadap kekuasaan dan sensor.
Ia juga mengkritik apa yang ia sebut sebagai penyakit neo-sosialisme, yakni kecenderungan dalam perfilman yang menurutnya menuntut karya seni tunduk pada pesan ideologis tertentu. Kritik ini menyentuh perdebatan yang lebih luas tentang hubungan antara seni dan politik: apakah film harus menjadi alat untuk menyampaikan pesan yang sudah ditentukan, atau justru harus menjaga ruang bagi ambiguitas, pertanyaan, dan pengalaman manusia yang kompleks.
Menariknya, Manchevski juga membahas film dokumenter panjang pertamanya. Ia mengaku awalnya ragu terhadap genre dokumenter, tetapi akhirnya membuat sebuah dokumenter penuh. Peralihan dari fiksi ke dokumenter menuntut pendekatan yang berbeda: alih-alih mengendalikan setiap adegan lewat naskah, sutradara harus mengikuti realitas, menemukan cerita di lapangan, dan menerima ketidakpastian. Pengakuan tentang keraguannya itu menunjukkan sisi reflektif seorang sineas yang terus mempertanyakan mediumnya sendiri.
Secara keseluruhan, wawancara di Tokyo ini bukan sekadar promosi film baru. Ia adalah potret seorang sutradara yang memandang film sebagai cara untuk memahami keluarga, sejarah, dan kebebasan. Dari kompetisi utama di Tokyo hingga pembicaraan tentang daftar hitam dan dokumenter, Manchevski menegaskan bahwa karya yang bertahan adalah karya yang berani mengajukan pertanyaan sulit, bukan yang sekadar mengikuti selera pasar atau tuntutan zaman.
Apa poin penting dari berita ini?
- Milcho Manchevski membawa film “Sister Brother Manhole Cover” ke kompetisi utama Festival Film Internasional Tokyo.
- Dalam wawancara di festival itu, ia membahas sosok ibu yang selalu hadir dalam cerita-ceritanya.
- Ia juga bercerita tentang pengalamannya masuk daftar hitam di dunia perfilman.
- Manchevski mengkritik neo-sosialisme yang menurutnya menuntut film tunduk pada pesan ideologis tertentu.
- Ia membahas dokumenter panjang pertamanya, yang dibuat meski ia awalnya ragu terhadap genre tersebut.


