Menjelang pemilu sela Amerika Serikat 2026, sebuah klaim yang beredar tentang perebutan kursi Senat di Alaska memicu kontroversi dan pertanyaan dari pembaca pemeriksa fakta Snopes: apakah kubu Demokrat melakukan “ballot-stacking”, dan apakah taktik itu ilegal? Snopes membahas klaim tersebut dalam laporan yang diterbitkan 30 Oktober 2026, dengan kesimpulan yang penting untuk dicatat: klaim itu sendiri belum bisa dikonfirmasi, dan status hukum taktik tersebut masih belum jelas.
Ballot-stacking adalah sebutan untuk taktik pemilu di mana partai politik merekrut kandidat tambahan untuk mengalihkan suara dari lawan. Dalam kasus Alaska, klaim yang beredar menyebutkan kubu Demokrat mendorong seorang kandidat bernama Dan J. Sullivan untuk maju ke Senat, dengan tujuan membingungkan pemilih dan mengarahkan suara menjauh dari senator petahana dari Partai Republik, Dan S. Sullivan, yang namanya nyaris identik.
Klaim ini bermula dari investigasi New York Times yang diterbitkan 28 Oktober 2026. Laporan itu didasarkan pada pengakuan Elisa Rios, mantan staf dan manajer kampanye kandidat Demokrat Mary Peltola yang baru saja dipecat, wawancara dengan puluhan orang yang terlibat, serta peninjauan komunikasi dan dokumen. Menurut laporan itu, staf Peltola menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk merekrut kandidat-kandidat bernama Dan Sullivan agar bisa menggerogoti suara petahana.
Di sinilah posisi pemeriksa fakta menjadi penting. Snopes menyatakan tidak memiliki alasan untuk meragukan pelaporan New York Times, tetapi karena tidak bisa melihat bukti tersebut atau memperoleh konfirmasi tambahan dari pihak-pihak yang terlibat, Snopes menyatakan tidak dapat mengonfirmasi klaim itu sampai laporan tersebut ditulis. Snopes juga mencatat telah menghubungi kubu Peltola, kubu senator petahana, kandidat independen Sullivan, dan anggota tim yang diduga terlibat dalam rencana tersebut, dan masih menunggu tanggapan mereka.
Reaksi politik terhadap klaim ini bergerak cepat. Presiden Donald Trump menyebut dugaan tindakan Peltola sebagai “penipuan terhadap publik Amerika”. Departemen Kehakiman Amerika Serikat pun mengajukan gugatan untuk memblokir atau menunda sertifikasi pemilu jika petahana kalah dalam perebutan kursi Senat tersebut. Namun, Mahkamah Agung Alaska telah mengizinkan kandidat independen Sullivan untuk tetap maju dalam pemungutan suara pada 3 November.
Lalu, apakah ballot-stacking ilegal? Di sinilah hasil pemeriksaan fakta Snopes memberi gambaran yang lebih jernih. Jaksa Agung Amerika Serikat Todd Blanche mengatakan tindakan semacam itu “seharusnya” ilegal, tetapi ia berhenti sebelum menyatakan bahwa tindakan itu memang ilegal. Pakar pemilu John Fortier menjelaskan kepada Snopes bahwa memang ada orang yang pernah dituntut karena menipu pemilih, tetapi tidak ada hukum khusus yang mengatur proses ballot-stacking itu sendiri.
Snopes juga menempatkan kasus ini dalam konteks yang lebih luas. Menurut kesimpulannya, sekalipun tim Peltola benar melakukan ballot-stacking, taktik itu bukan hal yang belum pernah terjadi: Partai Republik juga pernah memakai taktik serupa dalam berbagai pemilu. Dengan kata lain, klaim yang beredar ini bukan sekadar soal satu kubu, melainkan soal taktik lama yang kini kembali disorot dalam persaingan yang ketat.
Karena itu, artikel ini tidak menyajikan klaim ballot-stacking di Alaska sebagai fakta yang sudah terbukti. Yang bisa dinyatakan secara bertanggung jawab adalah: klaim tersebut beredar dan dilaporkan oleh New York Times berdasarkan pengakuan mantan staf dan peninjauan dokumen, Snopes belum bisa mengonfirmasinya secara independen, kandidat independen bernama Dan J. Sullivan tetap berada di surat suara berdasarkan putusan Mahkamah Agung Alaska, dan para ahli menyatakan tidak ada hukum khusus yang melarang ballot-stacking, meskipun penipuan terhadap pemilih bisa dituntut secara hukum.
Apa poin penting dari berita ini?
Klaim yang beredar menyebutkan kubu Demokrat Alaska merekrut kandidat bernama Dan J. Sullivan untuk membingungkan pemilih dan menggerogoti suara senator petahana Dan S. Sullivan. Klaim itu berasal dari investigasi New York Times berdasarkan pengakuan mantan staf Mary Peltola, tetapi Snopes menyatakan belum bisa mengonfirmasinya secara independen. Mahkamah Agung Alaska mengizinkan kandidat independen Sullivan tetap maju pada 3 November. Jaksa Agung Todd Blanche menyebut taktik itu seharusnya ilegal, tetapi pakar pemilu John Fortier menjelaskan tidak ada hukum khusus tentang ballot-stacking, meskipun penipuan terhadap pemilih bisa dituntut.


