Setelah bangunan sekolah SMAN 2 Meureudu, Pidie Jaya, Aceh, dibangun kembali pasca tertimbun tanah setinggi 2 hingga 3 meter akibat bencana banjir dan longsor, guru hingga murid kini memilih bangkit kembali. Mereka memilih bangkit lebih kuat pascabencana yang menghancurkan berbagai fasilitas sekolah pada akhir November 2025.
Banjir bandang akhir 2025 lalu mengubah wajah sekolah ini seketika. Tanah setinggi dua hingga tiga meter menimbun seluruh ruangan, menelan meja, kursi, buku, dan peralatan belajar. Tidak ada satu ruangan pun yang tersisa untuk digunakan. Guru SMAN 2 Meureudu, Cut Salmina, mengenang suasana itu pada minggu ketiga Oktober 2026 dengan kalimat bahwa semuanya terkubur, seakan-akan sekolah ini tak pernah ada.
Namun semangat para guru dan siswa tak ikut tertimbun. Selama berbulan-bulan, guru dan siswa belajar di mana saja: di bawah pohon, di bawah tenda, di ruang kantor yang masih bisa dipakai, bahkan di atas terpal di halaman sekolah. Saat matahari meninggi, terasa panas membakar kulit, dan saat hujan turun, air kembali menggenangi tempat mereka belajar.
Siswa kelas dua, Muhammad Putra Ananda, mengakui masih ada rasa takut setiap hujan turun deras, khawatir air naik lagi ke sekolah. Namun harapannya jauh lebih besar dari rasa takutnya itu, dan kini pemandangan itu perlahan berubah. Di atas tanah yang dulu tertimbun, bangunan baru berdiri tegak berwarna putih dan abu-abu, terdiri atas ruang kelas, kantor, laboratorium komputer, perpustakaan, hingga musala baru yang mulai rampung.
Pekerja sibuk melakukan pengecatan akhir dan pemasangan perlengkapan. Anggaran revitalisasi tahun 2025 senilai Rp1,8 miliar sempat terhenti di 70 persen, namun bantuan baru tahun 2026 sebesar Rp7,9 miliar dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang dikerjakan oleh TNI AD memutar kembali roda harapan para siswa dan guru. Pekerjaan dimulai sekitar Juni hingga Juli 2026 dan ditargetkan selesai November 2026.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Hamdani, menyebut kebangkitan sekolah ini sebagai keajaiban nyata. Melihat sekolah terkubur sedalam itu terasa menyesakkan, tetapi dengan dukungan pemerintah dan semangat bersama, mimpi itu kini berdiri di depan mata.
Pembangunan SMAN 2 Meureudu adalah bagian dari visi besar pemerintah dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRR) Sumatera. Berdasarkan koordinasi Satgas PRR bersama Kemendikdasmen, alokasi total anggaran untuk sektor ini mencapai sekitar Rp4,65 triliun hingga Rp5 triliun untuk memulihkan 4.922 sekolah terdampak bencana di tiga provinsi, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera (Satgas PRR), Muhammad Tito Karnavian, menegaskan prinsip utamanya: tidak sekadar membangun kembali seperti semula, tetapi membangun kembali dengan lebih baik, lebih aman, dan lebih berkelanjutan.
Lima pilar utama pemulihan pendidikan berjalan beriringan: rekonstruksi fisik tahan bencana senilai Rp3,03 triliun untuk 3.132 sekolah, dukungan kesejahteraan dan pendampingan psikososial bagi 90.962 guru senilai Rp122,95 miliar, penyaluran sarana belajar Rp786,43 miliar, bantuan operasional sekolah darurat, serta relokasi sekolah dari zona berbahaya. Pemerintah juga merencanakan 2.297 unit sekolah darurat, 117.495 paket perlengkapan belajar, dan tunjangan khusus bagi 110.852 pendidik dan tenaga kependidikan terdampak.
Bagi Cut Salmina, gedung baru ini bukan sekadar tembok dan atap. Ia ingin bangkit lebih baik dari sebelumnya, bukan hanya sekolah yang kembali berdiri, tetapi semangat belajar anak-anak yang harus tumbuh lebih kuat dari bencana itu sendiri. Muhammad Putra Ananda pun tersenyum melihat kelas baru yang hampir selesai, karena tak lama lagi ia tak perlu lagi belajar kepanasan di tenda dan akan punya meja, kursi, serta ruangan yang nyaman.
Apa poin penting dari berita ini?
SMAN 2 Meureudu Pidie Jaya yang tertimbun tanah 2 hingga 3 meter akibat banjir bandang akhir November 2025 kini bangkit dengan gedung baru berwarna putih dan abu-abu yang hampir rampung, berisi ruang kelas, kantor, laboratorium komputer, perpustakaan, dan musala. Setelah anggaran revitalisasi 2025 senilai Rp1,8 miliar terhenti di 70 persen, bantuan 2026 sebesar Rp7,9 miliar dari Kemendikdasmen yang dikerjakan TNI AD sejak Juni-Juli 2026 ditargetkan selesai November 2026. Pembangunan ini bagian dari Renduk PRR Sumatera dengan alokasi sekitar Rp4,65 triliun hingga Rp5 triliun untuk 4.922 sekolah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, berprinsip membangun kembali dengan lebih baik, lebih aman, dan lebih berkelanjutan.


