Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa keterlambatan deteksi dan diagnosis masih menjadi kendala utama dalam penanganan kanker payudara di Indonesia. Penegasan itu mengemuka bertepatan dengan Bulan Kesadaran Kanker Payudara, ketika perhatian publik diarahkan pada pentingnya menemukan penyakit ini sejak stadium awal agar peluang kesembuhan tetap besar.
Tim Kerja Penyakit Kanker, Direktorat Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr. Uswatun Hasanah, menjelaskan bahwa keterlambatan deteksi dan rendahnya kesadaran masyarakat masih menjadi tantangan di Indonesia. Sebagian pasien baru terdiagnosis saat penyakit sudah memasuki stadium lanjut, padahal deteksi dini membantu menemukan kanker pada stadium awal ketika penanganannya jauh lebih mudah dan efektif.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) secara rutin untuk mengenali perubahan pada payudara. Selain itu, pemerintah menyediakan program Cek Kesehatan Gratis yang mencakup skrining kanker payudara bagi perempuan berusia 30 hingga 69 tahun sesuai ketentuan program, serta pemeriksaan klinis payudara (SADANIS) yang dikombinasikan dengan USG payudara di layanan primer.
Data Global Cancer Observatory 2022 dan Kemenkes menunjukkan kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling banyak diderita perempuan di Indonesia, dengan 66.271 kasus baru dan 22.598 kematian dalam setahun. Lebih dari separuh kasus baru terdiagnosis pada stadium lanjut, ketika tingkat keberhasilan pengobatan menurun drastis dibandingkan bila ditemukan pada stadium dini.
Perbandingan angka kesintasan menggambarkan betapa menentukan waktu penemuan penyakit ini. Jika didiagnosis pada stadium dini, pasien masih memiliki tingkat kelangsungan hidup di atas 97 persen setelah lima tahun terdiagnosis, sedangkan bila ditemukan pada stadium lanjut, angka itu merosot hingga di bawah 20 persen. Data BPJS Kesehatan bahkan mencatat keseluruhan angka kesintasan lima tahun kanker payudara di Indonesia hanya 56,8 persen.
Cakupan skrining kanker payudara di Indonesia masih perlu penguatan, karena kurang dari 30 persen perempuan menjalani pemeriksaan secara rutin setiap tahun. Rendahnya cakupan ini berimplikasi pada tingginya angka penemuan kasus stadium lanjut, dan menunjukkan masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini serta pemeriksaan payudara secara berkala.
Sejumlah hambatan ikut menjelaskan rendahnya partisipasi skrining, mulai dari rasa malu, tabu, dan ketakutan menerima hasil diagnosis, hingga keterbatasan akses terhadap fasilitas seperti mamografi di daerah. Karena itu, kesadaran diri dan pemeriksaan payudara tetap ditempatkan sebagai pintu masuk kewaspadaan, terutama di wilayah yang fasilitas mamografinya belum terjangkau.
Kemenkes menekankan bahwa deteksi dini bukan sekadar anjuran, melainkan langkah yang menentukan hidup pasien. Dengan SADARI yang dilakukan rutin, SADANIS dan USG di puskesmas, serta skrining lewat Cek Kesehatan Gratis, perempuan diharapkan tidak lagi menunda pemeriksaan, sehingga kanker payudara dapat ditemukan lebih awal, ditangani lebih cepat, dan peluang sembuh tetap terjaga.
Apa poin penting dari berita ini?
- Kementerian Kesehatan mengungkapkan keterlambatan deteksi dan diagnosis masih menjadi kendala utama penanganan kanker payudara di Indonesia.
- Tim Kerja Penyakit Kanker Kemenkes menilai keterlambatan deteksi dan rendahnya kesadaran masyarakat masih menjadi tantangan.
- Upaya deteksi dini meliputi pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), pemeriksaan klinis (SADANIS) yang dikombinasikan dengan USG, dan skrining lewat program Cek Kesehatan Gratis bagi perempuan 30 hingga 69 tahun.
- Data 2022 mencatat 66.271 kasus baru dan 22.598 kematian, dengan lebih dari separuh kasus baru terdiagnosis pada stadium lanjut.
- Kelangsungan hidup lima tahun pada stadium dini di atas 97 persen, sedangkan pada stadium lanjut di bawah 20 persen, dan cakupan skrining nasional masih di bawah 30 persen.


