Di sela kesibukan mengajar, seorang dosen bernama Noeris memiliki kegiatan lain yang tidak biasa: berburu paku yang menancap di pohon. Dalam delapan bulan, ia mengaku sudah mencabut sekitar 700 paku dari 70 pohon di Jakarta, sebuah aksi sederhana yang ia lakukan secara konsisten di tengah kesibukannya sebagai pendidik.
Paku yang menancap di pohon sering kali dianggap sepele, padahal dampaknya nyata bagi pohon itu sendiri. Paku dapat melukai kulit pohon, membuka jalan bagi penyakit dan hama, serta menghambat pertumbuhan pohon dalam jangka panjang. Pohon yang terluka berulang kali akan semakin lemah, padahal pohon di kota memiliki peran penting sebagai peneduh, penyaring udara, dan penyejuk lingkungan.
Aksi Noeris menjadi menarik justru karena ia melakukannya seorang diri dan secara rutin, bukan sebagai bagian dari acara besar. Dalam delapan bulan, rata-rata ia mencabut puluhan paku setiap bulannya dari puluhan pohon yang berbeda. Konsistensi seperti ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak harus selalu berbentuk program besar; aksi kecil yang dilakukan terus-menerus pun dapat memberi dampak yang terasa.
Sebagai dosen, aksi Noeris juga memiliki nilai pendidikan yang kuat. Dosen tidak hanya mengajar melalui kata-kata di ruang kuliah, tetapi juga melalui teladan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seorang pendidik menunjukkan kepedulian nyata terhadap lingkungan, pesan itu dapat tertanam lebih dalam pada mahasiswa dan masyarakat dibandingkan sekadar teori tentang pentingnya menjaga alam.
Di Jakarta, pohon-pohon di tepi jalan dan kawasan publik sering menjadi tempat menempelkan pengumuman, spanduk, dan berbagai keperluan lain dengan paku. Kebiasaan ini sudah berlangsung lama dan sering tidak disadari akibatnya. Aksi mencabut paku menjadi pengingat bahwa setiap paku yang ditancapkan meninggalkan luka, dan bahwa ada cara lain yang lebih ramah untuk menyampaikan informasi tanpa merusak pohon.
Bagi masyarakat, kisah Noeris dapat menjadi ajakan untuk lebih peduli pada pohon-pohon di sekitar tempat tinggal. Tidak semua orang harus mencabut ratusan paku, tetapi setiap orang dapat mulai dari hal sederhana, seperti tidak memaku pohon, mengingatkan orang lain dengan cara yang baik, dan ikut merawat ruang hijau di lingkungannya. Kepedulian yang tumbuh dari hal kecil inilah yang pada akhirnya menjaga kota tetap hijau dan nyaman.
Ke depan, aksi dosen pencabut paku ini diharapkan menginspirasi lebih banyak pihak, termasuk mahasiswa, komunitas, dan pemerintah daerah, untuk ikut menjaga pohon-pohon kota. Jika semakin banyak orang yang peduli dan bertindak, pohon-pohon di Jakarta akan memiliki kesempatan lebih besar untuk tumbuh sehat, dan kota akan mendapatkan manfaatnya dalam bentuk udara yang lebih bersih, lingkungan yang lebih teduh, serta ruang hidup yang lebih baik bagi semua.
Apa poin penting dari berita ini?
- Di sela kesibukan mengajar, seorang dosen bernama Noeris memiliki kegiatan lain yang tidak biasa: berburu paku yang menancap di pohon.
- Dalam delapan bulan, ia mengaku sudah mencabut sekitar 700 paku dari 70 pohon di Jakarta.
- Paku dapat melukai kulit pohon, membuka jalan bagi penyakit dan hama, serta menghambat pertumbuhan pohon dalam jangka panjang.
- Sebagai dosen, aksi Noeris juga memiliki nilai pendidikan yang kuat, karena dosen tidak hanya mengajar melalui kata-kata di ruang kuliah, tetapi juga melalui teladan dalam kehidupan sehari-hari.


