Sebagian orang tua menerima apa pun jenis kelamin anaknya, sementara sebagian lain berusaha dengan berbagai cara agar sesuai harapan. Ada pasangan yang menginginkan anak laki-laki setelah memiliki anak perempuan agar keluarga terasa lengkap, dan di sebagian budaya, anak laki-laki sangat diharapkan untuk meneruskan garis keluarga. Namun, menurut dokter, harapan itu tidak bisa diwujudkan dengan metode yang terbukti.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Jakarta, Muhammad Fadli, menjelaskan bahwa jenis kelamin anak ditentukan oleh kromosom. Kromosom anak sebagian berasal dari ibu dan sebagian dari ayah: sel telur membawa kromosom X, sedangkan sperma dapat membawa kromosom X atau Y. Dalam satu ejakulasi, sekitar 15 juta sel sperma berlomba menuju sel telur, dan satu di antaranya membuahi sel telur dengan membawa kromosom X atau Y.
Fadli menegaskan tidak ada makanan tertentu, waktu berhubungan, atau urutan ejakulasi yang terbukti menentukan jenis kelamin anak. Tidak ada teori maupun metode berbasis bukti yang saat ini dapat mengatur jenis kelamin anak. Metode inseminasi yang diteliti, yang disebut swim up dan memungkinkan pemilihan sperma berkualitas untuk membuahi sel telur, juga belum terbukti menghasilkan anak dengan jenis kelamin yang diinginkan.
Bagaimana dengan bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF)? Fadli menjelaskan pembuahan pada IVF terjadi di luar rahim: misalnya diambil lima sel telur dan lima sperma berkualitas baik, lalu pembuahan menghasilkan embrio. Sebelum ditanamkan, embrio menjalani pengujian genetik yang disebut Preimplantation Genetic Testing (PGT), sehingga kromosom tiap embrio dapat diketahui.
Namun, kromosom embrio tidak bisa begitu saja diubah sesuai keinginan. Dari lima embrio, semuanya bisa saja perempuan, semuanya laki-laki, atau campuran. Embrio mana yang dinilai layak ditanamkan harus melalui pemeriksaan dan konsultasi dokter, dengan orang tua diberi penjelasan mengenai kondisi embrio serta konsekuensinya bila berkembang menjadi janin dan lahir. Bila semua embrio perempuan, misalnya, hal itu tidak bisa diubah menjadi campuran sesuai keinginan.
Pesan praktis dari penjelasan ini adalah mengelola ekspektasi sejak awal: tidak ada jalan pintas yang terbukti untuk memilih jenis kelamin anak. Orang tua yang menjalani program kehamilan sebaiknya berkonsultasi langsung dengan dokter kandungan mengenai prosedur yang aman dan berbasis bukti, bukan mengandalkan cara-cara yang belum terbukti yang justru bisa menimbulkan kekecewaan atau risiko.
Apa poin penting dari berita ini?
Ringkasan singkat dari isi artikel di atas:
- Sebagian orang tua menerima apa pun jenis kelamin anaknya, sementara sebagian lain berusaha dengan berbagai cara agar sesuai harapan.
- Dokter spesialis obstetri dan ginekologi di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Jakarta, Muhammad Fadli, menjelaskan bahwa jenis kelamin anak ditentukan oleh kromosom.
- Fadli menegaskan tidak ada makanan tertentu, waktu berhubungan, atau urutan ejakulasi yang terbukti menentukan jenis kelamin anak.
- Metode inseminasi yang diteliti, yang disebut swim up dan memungkinkan pemilihan sperma berkualitas untuk membuahi sel telur, juga belum terbukti menghasilkan anak dengan jenis kelamin yang diinginkan.
- Namun, kromosom embrio tidak bisa begitu saja diubah sesuai keinginan.

