Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengumumkan hasil ilmiah pertama dari misi TRACERS pada 29 Oktober 2026, setelah menganalisis pengamatan awal dari tahun pertama misi tersebut. Hasil itu dituangkan dalam makalah baru di jurnal Journal of Geophysical Research, dan memberi petunjuk awal tentang cara cuaca antariksa memengaruhi perisai magnet Bumi.
TRACERS adalah sepasang satelit kembar yang diluncurkan pada Juli 2025 untuk mempelajari rekoneksi magnetik, yakni proses peledakan ketika medan magnet Matahari yang terbawa angin surya bertabrakan dengan perisai magnet Bumi. Misi ini dipimpin David Miles dari Universitas Iowa, dengan dukungan Southwest Research Institute di San Antonio.
Apa itu rekoneksi magnetik
Rekoneksi magnetik terjadi ketika medan magnet Matahari, yang tertanam dalam aliran partikel bermuatan listrik yang disebut angin surya, bertemu dengan magnetosfer Bumi. Di perbatasan magnetosfer dengan ruang angkasa, yang disebut magnetopause, tabrakan itu membuat energi menumpuk dan garis-garis medan magnet bisa putus lalu melemparkan partikel di sekitarnya dengan kecepatan tinggi langsung ke atmosfer Bumi.
Para ilmuwan sudah mengenal proses itu, tetapi masih ada pertanyaan tentang bagaimana energi dipindahkan selama proses berlangsung dan bagaimana magnetopause merespons. TRACERS dirancang untuk menjawab pertanyaan itu dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya: dua satelit terbang berurutan dalam orbit yang terkunci dengan Matahari, berulang kali melewati wilayah yang disebut cusp kutub, tempat garis medan magnet Bumi mengerucut seperti corong di atas kutub utara dan selatan.
Cusp itu berfungsi seperti corong yang memusatkan partikel angin surya ke wilayah kecil di atmosfer atas. Dengan melewati wilayah yang sama secara berulang, kedua satelit bisa membandingkan pengukuran mereka dan melihat seberapa cepat rekoneksi berubah dan berkembang.
Suggested read: Webb Temukan Galaksi Purba yang Diduga Melepas Hampir Semua Radiasi Pengionnya
Temuan pertama: lokasi lebih menentukan
Data dari instrumen Analyzers for Cusp Ions di kedua satelit menunjukkan bahwa rekoneksi magnetik sebagian besar merupakan proses spasial. Artinya, yang bergerak adalah tempat terjadinya rekoneksi, bukan sekadar kekuatannya yang berubah-ubah dari waktu ke waktu di satu titik yang tetap. Pengukuran di masa depan akan membantu memastikan temuan awal ini.
Stephen Fuselier, wakil peneliti utama TRACERS dan pemimpin instrumen di Southwest Research Institute, mengatakan analisis data itu memberi tim gambaran yang lebih jelas tentang perilaku partikel angin surya dan kaitannya dengan peristiwa rekoneksi. Menurutnya, ini merupakan langkah pertama yang penting dalam memahami cara kerja rekoneksi magnetik dan bagaimana proses semacam itu dapat memengaruhi Bumi.
David Miles menambahkan bahwa tim TRACERS menunjukkan kerja sama dan ketekunan luar biasa dalam mengumpulkan dan mengevaluasi data tersebut, dan ia menantikan apa yang akan diungkap pengukuran berikutnya.
Suggested read: Apeiron, Pesawat Kelas Delta Pertama Virgin Galactic, Jalani Penerbangan Perdana
Sempat terkendala, lalu diperpanjang
Perjalanan misi ini tidak sepenuhnya mulus. Setelah peluncuran, salah satu satelit mengalami kendala, dan tim bekerja keras untuk memulihkan kontak serta menegakkan pengumpulan data rutin. Kini kedua wahana antariksa itu mengamati cusp selatan secara rutin beberapa kali sehari.
Pada September 2026, NASA menyetujui perpanjangan misi utama TRACERS, sehingga pengamatan peristiwa rekoneksi bisa berlanjut hingga musim semi 2027. Perpanjangan itu memberi tim waktu untuk mengumpulkan lebih banyak peristiwa dan menguji apakah pola spasial yang terlihat pada data awal juga berlaku dalam kondisi yang lebih beragam.
Suggested read: NASA Siapkan Teleskop UVEX, Pemeta Langit Ultraviolet yang Meluncur 2031
Mengapa ini penting bagi Bumi
Memahami variasi rekoneksi magnetik membantu para ilmuwan memahami cuaca antariksa secara lebih baik, karena rekoneksi merupakan penghubung mendasar antara angin surya dan lingkungan antariksa Bumi. Studi cuaca antariksa juga membantu memprediksi badai geomagnetik yang dapat memengaruhi keselamatan astronaut di dekat Bumi, serta jaringan listrik dan sistem komunikasi yang dipakai sehari-hari.
Misi ini dikelola Kantor Program Heliophysics Explorers NASA di Pusat Penerbangan Antariksa Goddard di Greenbelt, Maryland, untuk Divisi Heliofisika di Markas NASA di Washington. Universitas Iowa, Southwest Research Institute, Universitas California Los Angeles, dan Universitas California Berkeley memimpin instrumen-instrumen TRACERS yang mempelajari perubahan medan magnet dan medan listrik Bumi.
Suggested read: Webb Ungkap Es Komet Antarbintang 3I/ATLAS Mirip Dunia Es di Luar Neptunus
Apa poin penting dari berita ini?
- Badan Antariksa Amerika Serikat mengumumkan hasil ilmiah pertama dari misi TRACERS pada 29 Oktober 2026, setelah menganalisis pengamatan awal dari tahun pertama misi tersebut.
- TRACERS adalah sepasang satelit kembar yang diluncurkan pada Juli 2025 untuk mempelajari rekoneksi magnetik, yakni proses peledakan ketika medan magnet Matahari yang terbawa angin surya bertabrakan dengan perisai magnet Bumi.
- Data dari instrumen Analyzers for Cusp Ions menunjukkan bahwa rekoneksi magnetik sebagian besar merupakan proses spasial, artinya yang bergerak adalah tempat terjadinya rekoneksi.
- Pada September 2026, NASA menyetujui perpanjangan misi utama TRACERS, sehingga pengamatan peristiwa rekoneksi bisa berlanjut hingga musim semi 2027.
- Memahami variasi rekoneksi magnetik membantu para ilmuwan memahami cuaca antariksa secara lebih baik, karena rekoneksi merupakan penghubung mendasar antara angin surya dan lingkungan antariksa Bumi.


