Friday, 30 October 2026
Kesehatan

Gagal Ginjal Mengintai Anak, Kesadaran Orang Tua Jadi Kunci

Model anatomi ginjal yang dipegang seseorang sebagai ilustrasi penyakit ginjal

Agistina Kamila, 17 tahun, menghabiskan waktu setidaknya dua kali sepekan untuk cuci darah. Siswi kelas tiga sebuah SMK di Tangerang itu untuk sementara harus meninggalkan sekolahnya, karena tanpa dibantu cuci darah, ginjalnya tidak mampu berfungsi.

Agist, begitu ia biasa disapa, sempat mengalami koma sekitar sepekan pada tahun lalu sebelum dokter menegakkan diagnosis gagal ginjal kronis. Ibunya, Lisna, menuturkan anak sulungnya sempat tidak sadarkan diri dan dirawat di ruang perawatan intensif.

Dalam kondisi koma, Agist menjalani prosedur cuci darah atau hemodialisa. Setelah prosedur tersebut, ia belum juga sadarkan diri. Dokter menyampaikan kondisi fisik Agist hanya memungkinkannya menjalani cuci darah selama dua jam, padahal umumnya cuci darah berlangsung tiga hingga lima jam.

Lisna bercerita, pada Minggu pagi ia sempat mendapati putrinya sadar dan sudah bisa memanggil ibu, namun pada Minggu sore Agist kembali tidak sadarkan diri. Beruntung, pada Senin berikutnya Agist dapat mengikuti proses hemodialisa lanjutan yang terbukti menyelamatkan nyawanya.

Jauh sebelum itu, Agist memang dikenal lebih ringkih dibandingkan teman-teman sebayanya. Dokter sempat menyebut kondisi itu disebabkan masalah amandel. Anggapan tersebut berubah ketika Agist didiagnosis batu ginjal saat menginjak kelas satu SMK. Setelah menjalani rangkaian pengobatan, kondisinya sempat membaik.

Pada September tahun lalu, kondisinya kembali menurun akibat infeksi saluran kemih. Di dalam ginjalnya kembali ditemukan batu yang menghambat saluran kencing sehingga menyebabkan infeksi. Belum tuntas perawatan batu ginjal dilakukan, Agist keburu jatuh koma.

Dari rangkaian perawatan itu, belakangan Lisna baru mengetahui bahwa sumber utama persoalan putrinya hingga jatuh koma adalah ginjal yang tidak lagi berfungsi normal karena hipertensi. Saat pemeriksaan infeksi saluran kemih, dokter memang sempat menyebut adanya hipertensi, namun penjelasan mengenai keharusan minum obat secara terus-menerus dinilai kurang jelas.

Kisah serupa dialami M. Rahmat yang tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Ia didiagnosis gagal ginjal sejak kelas satu SMA atau usia 15 tahun. Rahmat bercerita dirinya kerap begadang sambil minum minuman kemasan dan mengonsumsi camilan asin sejak kelas satu SMP.

Saat duduk di kelas satu SMA, Rahmat tiba-tiba mengalami mual, muntah, pucat, lemas, hingga kejang, sehingga orang tuanya langsung membawanya ke instalasi gawat darurat. Hasil laboratorium menunjukkan kadar kreatininnya 30 kali lebih tinggi dari kadar normal anak sebayanya, sementara tekanan darahnya mencapai 172/93.

Fungsi ginjal Rahmat dinyatakan tinggal di bawah 15 persen. Dokter menduga ginjalnya rusak akibat hipertensi yang berlangsung selama beberapa tahun dan tidak dikendalikan dengan obat rutin.

Hipertensi sebagai faktor risiko gagal ginjal dulunya dianggap sebagai penyakit orang tua. Namun kini, usia pengidap penyakit tidak menular ini semakin muda, bahkan anak-anak sudah ada yang mengidap hipertensi yang berujung pada gagal ginjal.

Kementerian Kesehatan memperkirakan hanya sekitar sepertiga kasus hipertensi di Indonesia yang terdiagnosis. Pada anak, hitungan semacam itu baru mulai ada lewat Cek Kesehatan Gratis Sekolah. Hingga 31 Juli 2026, dari 14,64 juta anak dan remaja yang diperiksa, sebanyak 2,21 juta atau sekitar 15 persen memiliki tekanan darah di atas normal. Penting dicatat, temuan tersebut belum berarti anak tersebut terdiagnosis hipertensi.

Sebagian kasus gagal ginjal pada anak juga bersumber dari penyakit bawaan dan berbagai kelainan lain, seperti faktor genetik, peradangan pada saringan kecil ginjal atau glomerulus akibat gangguan imun, dan sindrom nefrotik. Namun kurangnya pengawasan dan pengobatan yang tuntas pada anak sangat berisiko membuat kasus memburuk, bahkan hingga menjadi gagal ginjal kronis seperti dalam kasus Agist.

Menurut Pengurus Harian Yayasan Ginjal Anak Indonesia atau Yagina, kurangnya pemahaman orang tua mengenai risiko hipertensi, termasuk risiko gagal ginjal, menjadi salah satu faktor kunci kesalahpahaman mengenai penyakit ini. Tidak hanya hipertensi, diabetes pun dapat mengarah ke gagal ginjal apabila tidak ditangani dengan tepat.

Yagina kini menjadi salah satu penyantun pasien gagal ginjal anak di Indonesia dengan jumlah anggota mencapai sekitar 80 anak. Dalam sepuluh tahun terakhir, menurut catatan Yagina, angka kasus di Jabodetabek terus meningkat dan daftar pasien yang dibantu Yagina bertambah.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan Indonesia mengalami pergeseran pola penyakit dari penyakit bersumber infeksi menjadi penyakit tidak menular yang kemudian tumbuh tanpa gejala dan menjadi pembunuh yang tidak kentara. Orang dengan hipertensi sering tidak mengetahui dirinya mengidap hipertensi, begitu pula orang dengan diabetes. Karena itu, keluhan saja tidak cukup, dan Cek Kesehatan Gratis menjadi penting untuk menemukan risiko lebih awal sebelum muncul komplikasi.

Langkah preventif yang saat ini dianggap paling efektif adalah memperluas target Cek Kesehatan Gratis Sekolah. Target cakupan pada 2026 dipatok mencapai 16,9 juta anak dari tingkat TK hingga SMA, namun capaiannya justru melampaui target, yakni lebih dari 25 juta anak. Capaian yang melampaui target juga terjadi pada kelompok dewasa.

Untuk kampanye yang lebih cepat, murah, dan masif, Yagina mengusulkan pemerintah kembali menggaungkan ajakan membawa botol minum serta membatasi makanan asin dan gurih yang sangat mudah diakses anak. Yagina juga mengusulkan cetakan label kemasan yang lebih besar dan tebal untuk kandungan gula, garam, dan lemak, karena cetakan yang kecil sulit dibaca. Selain anaknya, orang tua juga penting mengetahui kandungan tersebut.

Sementara itu, Rahmat rajin mengampanyekan gaya hidup sehat kepada sesama remaja melalui akun TikTok @pejuangdialisis yang memiliki 10,6 ribu pengikut. Padahal dirinya sendiri masih harus berjuang di tengah kondisi yang rentan dan kerap keluar-masuk rumah sakit, bahkan beberapa kali membatalkan janji berbincang karena kondisinya sedang lemah. Meski demikian, ia tetap berupaya menyuarakan pentingnya gaya hidup sehat.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Agistina Kamila, 17 tahun, siswi SMK di Tangerang, menjalani cuci darah setidaknya dua kali sepekan dan sempat koma sebelum didiagnosis gagal ginjal kronis.
  • Sumber utama persoalan Agist adalah ginjal yang tidak lagi berfungsi normal karena hipertensi.
  • M. Rahmat dari Makassar didiagnosis gagal ginjal sejak usia 15 tahun, dengan fungsi ginjal tinggal di bawah 15 persen.
  • Kementerian Kesehatan memperkirakan hanya sekitar sepertiga kasus hipertensi di Indonesia yang terdiagnosis.
  • Hingga 31 Juli 2026, dari 14,64 juta anak dan remaja yang diperiksa lewat Cek Kesehatan Gratis Sekolah, 2,21 juta memiliki tekanan darah di atas normal.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *