Saturday, 31 October 2026
Teknologi

Mendukbangga: AI Tak Punya Hati, Remaja Jangan Jadikan Tempat Curhat Utama

Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji dalam peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia di Jakarta

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN Wihaji mengingatkan remaja agar tidak menjadikan kecerdasan buatan atau AI sebagai tempat utama untuk mencurahkan persoalan psikologis. Pesan itu disampaikan dalam peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia di Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2026.

Menurut Wihaji, AI pada dasarnya adalah robot yang tidak memiliki hati. Karena itu, persoalan yang berkaitan dengan kemanusiaan, perasaan, dan kondisi psikologis sebaiknya dikomunikasikan kepada manusia yang dapat memahami dan memberi dukungan emosional secara langsung.

Ia menjelaskan penggunaan AI untuk mencurahkan persoalan remaja sebenarnya tidak menjadi masalah, mengingat teknologi tersebut sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. Namun, remaja tetap perlu membangun komunikasi dengan orang-orang yang dapat memberikan dukungan emosional secara nyata, bukan sekadar jawaban dari mesin.

Salah satu jalur yang didorong adalah bercerita dengan teman sebaya. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga atau Kemendukbangga bersama BKKBN memfasilitasi ruang tersebut melalui program Generasi Berencana atau Genre dan Pusat Informasi Konseling Remaja atau PIK-R, agar remaja lebih sadar mengenai kesehatan mental mereka.

Menurut Wihaji, teman sebaya dapat menjadi tempat pertama bagi remaja untuk menceritakan persoalan yang dihadapi, terutama ketika mereka mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang tua. Salah satu keluhan yang kerap ditemukan adalah keengganan remaja bercerita kepada orang tua karena khawatir langsung disalahkan atau dihakimi ketika menyampaikan masalahnya.

Selain teman sebaya, remaja juga didorong mencari bantuan tenaga profesional, seperti psikolog, apabila menghadapi persoalan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Bantuan profesional menjadi penting ketika persoalan yang dihadapi sudah melampaui obrolan ringan dan membutuhkan pendampingan yang terstruktur.

Wihaji menegaskan keberanian bercerita dan menangis bukanlah tanda kelemahan atau sikap cengeng. Sebaliknya, bercerita dan menangis merupakan salah satu cara untuk menjaga kesehatan mental agar tekanan yang dipendam tidak menumpuk dan berkembang menjadi persoalan yang lebih berat.

Pesan ini terasa relevan karena anggapan bahwa bercerita berarti lemah masih hidup di sebagian remaja. Padahal, menahan persoalan sendirian justru berisiko membuat remaja semakin tertekan, sementara membuka diri kepada orang yang tepat dapat menjadi langkah awal menuju pemulihan.

Terkait akses konseling bagi kelompok rentan, seperti penyandang disabilitas, anak jalanan, dan masyarakat miskin marjinal, Wihaji mengatakan pihaknya mengoptimalkan peran PIK-R dan Genre. Kelompok Genre di sejumlah daerah telah diterjunkan untuk mendampingi anak-anak jalanan dan kelompok marjinal melalui kegiatan nonformal, agar mereka memiliki ruang untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi.

Wihaji menegaskan upaya pendampingan tidak hanya menyasar kelompok formal, tetapi juga masyarakat yang selama ini belum banyak tersentuh layanan konseling. Dengan begitu, pesan mengenai pentingnya bercerita dan menjaga kesehatan mental diharapkan menjangkau remaja dari berbagai latar belakang, bukan hanya mereka yang sudah memiliki akses ke layanan formal.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga atau Kepala BKKBN Wihaji mengingatkan remaja agar tidak menjadikan AI sebagai tempat utama mencurahkan persoalan psikologis.
  • AI disebut sebagai robot yang tidak punya hati, sehingga persoalan kemanusiaan dan psikologis sebaiknya dikomunikasikan kepada manusia.
  • Remaja difasilitasi bercerita dengan teman sebaya melalui Generasi Berencana dan Pusat Informasi Konseling Remaja.
  • Keengganan bercerita kepada orang tua karena khawatir disalahkan atau dihakimi menjadi salah satu keluhan yang ditemukan pada remaja.
  • Bercerita dan menangis ditegaskan bukan tanda kelemahan, melainkan cara menjaga kesehatan mental.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *