Wednesday, 28 October 2026
Teknologi

Penipuan Digital Makin Beragam, Verifikasi Identitas Jadi Andalan

Penipuan Digital Makin Beragam, Verifikasi Identitas Jadi Andalan

Ancaman penipuan digital masih menjadi persoalan serius di tengah meningkatnya aktivitas masyarakat melalui berbagai platform daring. Modus yang digunakan pelaku kian beragam, sehingga teknologi verifikasi identitas menjadi andalan untuk mempersempit ruang gerak penipu.

Penegasan itu disampaikan Privy, penyelenggara sertifikasi elektronik (PSrE) di bawah Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), melalui CEO dan Founder Marshall Pribadi dalam keterangan tertulis pada Selasa, 27 Oktober 2026.

Sejumlah modus yang marak antara lain penyalahgunaan data identitas untuk pengajuan pinjaman, pemalsuan tanda tangan, pembuatan akun palsu yang mengatasnamakan institusi resmi, serta manipulasi dokumen elektronik. Korban yang datanya disalahgunakan dapat menanggung kerugian finansial dan persoalan hukum tanpa pernah merasa terlibat.

Skala persoalannya besar. Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat 702.342 laporan penipuan sejak 22 November 2024 hingga 30 September 2026. Angka itu menunjukkan penipuan digital bukan lagi kejadian sesekali, melainkan ancaman yang sistematis.

Sebagai jawaban, Privy mengandalkan identitas digital yang terverifikasi dan tanda tangan elektronik, ditambah verifikasi dokumen, percakapan dengan pihak terverifikasi, serta fitur kecerdasan buatan Privy Pal yang membantu pengguna memahami isi dokumen sebelum menandatanganinya.

“Semakin banyak pihak yang terverifikasi, semakin kecil peluang penipu untuk beraksi,” ujar Marshall.

Untuk mengurangi verifikasi berulang, Privy memperluas integrasi Login with PrivyID dan PrivyHub dengan berbagai platform mitra. Pengguna yang identitasnya sudah terverifikasi tidak perlu menjalani proses verifikasi yang sama setiap kali berpindah layanan.

Dalam sepuluh tahun perjalanannya, Privy mencatat lebih dari 72 juta identitas terverifikasi, lebih dari 300.000 pelaku usaha dan perusahaan pengguna layanannya, serta lebih dari 160 juta dokumen digital yang diproses. Nilai Certificate Warranty-nya juga naik dari Rp1 miliar menjadi Rp3 miliar pada tahun kesepuluh, dengan syarat dan ketentuan bila identitas atau sertifikat elektronik yang diterbitkan terbukti tidak sah.

Memasuki dekade kedua, Privy membidik ekspansi internasional, integrasi layanan yang lebih luas, dan pengembangan teknologi keamanan identitas serta dokumen elektronik. Ekspansi internasionalnya dimulai di Australia pada 2023, dengan pasar yang disebut antara lain India, Malaysia, Amerika Serikat, Australia, Tiongkok, dan Singapura.

Dengan semakin banyak pihak yang terverifikasi, peluang penipu untuk menyamar, memalsukan dokumen, dan menyalahgunakan identitas diharapkan semakin kecil, sementara aktivitas digital masyarakat dapat berjalan lebih aman.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *